Bismillah.
Beberapa hari ini diriku tersibukkan dengan jidal (debat) melawan orang-orang yang merasa diri intelek dan pinter. Namun, setelah kulalui kenyataanya jauh dari kesan intelek dan akademisi. Justru diriku seolah seperti beradu mulut dengan tukang jamu atau pengamen gila, yang ngeyel, yang mbalelo, dan yang gampang ngemosi ketika kehabisan argumen. Ironisnya, yang kuhadapi adalah orang-orang yang mudeng soal teknologi internet, bisa ngetik, dan bisa kopi paste. Tetapi, perlu diingat bahwa jago teknologi bukan ukuran seseorang itu menjadi benar atau lurus agamanya. Ironisnya lagi, yang kuhadapi ternyata buuaanyakkk pengikutnya seperti tim sepakbola ditambah pemandu soraknya dan suporter-suporternya. Huhhh….melelahkan sekali. Tetapi, perlu diingat bahwa mayoritas bukanlah ukuran kebenaran. Ketahuilah, kebenaran itu diukur dari dalil, yaitu Kitabullah dan Sunnah berdasarkan pemahaman salafuna shaleh.
Alhamdulillah, beberapa ikhwan salafy menasihatiku untuk tidak meneruskannya. Salah satunya menasihatiku seperti ini:
Akhuna (2:45:14 PM): antum dah lihat belum perkembangan antum VS error?
Akhuna (2:45:24 PM): dia nulis lagi
Akhuna (2:45:44 PM): dan semakin banyak olok2an thd dakwah ini dari lisan orang jahil
antosalafy (2:51:22 PM): af1, agak lama. eh, belum tuh
antosalafy (2:51:47 PM): ana lagi membaca lagi prinsip dakwah yg ditulis asatidz
antosalafy (2:51:54 PM): mungkin ana yang salah
Akhuna (2:52:35 PM): (ana pikir juga begitu, gak sembarangan—kurang jelas—)
Akhuna (2:52:48 PM): (apa lagi di internet yang dibaca banyak kaum muslimin)
antosalafy (2:52:56 PM): iya
antosalafy (2:53:04 PM): allahumaghfirlana
Akhuna (2:53:37 PM): yang ana lihat dari keterangan Syaikh Muqbil, beliau menganjingkan Yusuf Qardawi dengan dalil yang sangat kuat
antosalafy (2:53:38 PM): ana rasa mau delete yg tulisan itu
antosalafy (2:54:01 PM): sangat jauh saya dari ilmu
Akhuna (2:54:21 PM): di delete aja nggak apa2 menurut ana (Selesai).
Ya Allah, semua urusan kuserahkan kepada-Mu. Hanya Engkaulah yang aku sembah dan aku mintai pertolongan. Maka, debat yang sia-sia tadi aku hentikan. Sekarang, aku kembali menyibukkan diri kepada ilmu. Membaca, menghafalkan dalil, menghadiri majelis taklim, dan mendengarkan nasihat dari para du’at salafiyun.
Sungguh, tiada seorang pun yang terbebas dari kesalahan dan kekeliruan. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat kekeliruan dan kesalahan adalah yang segera bertaubat kepada Rabbnya.
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 71)
Inni tubtu ilaika wa inni minalmuslimiin. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Seorang sunny salafy adalah seorang yang segera rujuk kepada kebenaran jika mendapati dirinya melenceng. Beruntunglah aku mempunyai saudara-saudara seiman dan seakidah yang dengan ikhlas memberikan nasihatnya tanpa rasa jenuh. Jazahumullah khairan ya ikhwah.
Alhamdulillah.