idealita…
jangan kau tanya aku tentang idealita,
mungkin dia sedang beranjak pergi entah kemana,
meninggalkanku diam-diam…
dulu,
aku berkawan akrab dengannya,
apa yang ia suka, apa yang tak ia suka, apapun tentangnya bagaimana kabarnya,
sepenuhnya aku mengerti
karena kami bersama
sekarang,
melihatnya saja aku tak mampu
terlalu tebal kabut memisahkan ku dengannya
aaaaaah…………..
kadang sulit ku membedakan idealita apa realita,
orang2 disekitarku mengaburkan dirinya,
bahkan orang-orang yang kupercaya
kembalikan ia padaku,
agar ia menjadi kawan setia
agar ada penghapus duka
agar ada yang mengusap air mata
agar….
*Hey….ukthty,
Pagi ini kamu cantik sekali^^
#Masa`?
Aku masih seperti hari kemaren dan hari-hari sebelumnya, malah aku semakin menua
*apakah tua itu berarti tidak lagi cantik, lantas cantik itu seperti apa?
#semua orang pasti menyetujui definisi cantik ini, cantik itu bening, putih, rambut lurus hitam, langsing, tak berjerawat, mulus seutuhnya, coba saja tanyakan pada semua lelaki, pasti mereka menyetujuinya.
*hmm… kasihan sekali wanita kalau seperti itu definisi cantik menurut mereka, satu fase pun dalam hidup mereka belum tentu merasa cantik,
hmmm…. berarti semakin tua wanita semakin jeleklah ia , sungguh semu sekali definisi cantik yang seperti itu. Padahal cantik sejatinya bukanlah demikian. Seperti dirimu yang pagi ini bertambah cantik.
#benarkah? Aku masih sama (bersikeras)
*kamu bertambah cantik, dengan air wudhu` yang senantiasa melembabkan pori-pori kulit wajahmu, bukankan semakin banyak berwudhu` wajahmu akan tampak semakin cantik dan berseri.
Kamu semakin cantik dengan lembutnya tutur katamu.
Kamu semakin cantik dengan kidung-kidung do`amu dan sujud-sujud panjang malammu
Kamu semakin cantik dengan kecerdasanmu
Kamu semakin cantik dengan ayat-ayat cinta Allah yang mengalir dari bibirmu
Kamu semakin cantik dengan hafalan-hafalan al-qur`an mu.
Dan…
Pagi ini kau tampak lebih cantik,
Makin hari makin bertambah cantik,
Jika wanita biasa tampak tak lagi menarik di usia tua
Maka, kamu tampak makin cantik di usia senja
Karena kamu, memiliki definisi cantik seutuhnya.
#dialog hati dipagi hari, SEMANGAAT^^ menuju cantik yang seutuhnya 😀
“galau”, satu kata ini cukup bisa mewakili apa yang saya maksud kali ini. Meski ungkapan ini tak sesuai penggunaannya dengan yang biasa digunakan kawan-kawan saya di puskesmas ulak karang dalam gurauan menunggu waktu pulang. Siapa yang tidak “galau” disaat detik-detik keluar dari dunia yang bernama kampus?? Ya…! Minimal itu saya, cukup galau dibuatnya.
Saat keluar dari dunia kampus, ada sebuah beban yang dipikul oleh seorang yang bernama mahasiswa dulunya, minimal beban atas jawaban “akan kemana setelah ini”. Ya! Saya pun pernah mendengar gurauan bahwa banyak yang menunda untuk tamat kuliah karena takut dengan dunia luar sana, tapi lebih banyak karena takut bertitle sebagai pengangguran dibalik title kesarjanaannya.
Tapi, beda dengan galaunya saya. Tidak terbersit keinginan untuk menunda tamat, tapi malah sebaliknya ingin segera meninggalkan baju seragam putih dengan dua kantong dibawahnya itu. Tak ingin rasanya berlama-lama bernasib menjadi koas. Ingin segera memiliki gelar dr didepan nama dan membuang baju seragam putih itu dan menggantinya dengan jas dokter sesungguhnya. Sungguh ingin!.
Tapi, sebuah kecemasan menggerogoti pikiran dan asa. Saya takut dengan dunia luar sana. Saya yakin godaannya lebih besar dari apa yang ada di benak saya. Yang paling saya khawatirkan adalah….Madrasah kehidupan saya nantinya.
“Jika ingin menjadi harum maka berkawanlah dengan penjual parfum, niscaya engkau akan terkena percikan harum parfumnya”. Ya! Teman kita bercerita, teman kita serumah, teman yang paling sering berinteraksi dengan kita, sedikit banyaknya akan mempengaruhi prilaku kita, kebiasaan kita dan karakter kita. Saya mendapatkan hal ini dikampus, dirumah tinggal saya, diwisma. Saya ibarat mendapat percikan harumnya parfum syurga. Ya! Saya tahu kawan-kawan yang tinggal diwisma bukanlah orang-orang yang luar biasa, bukan malaikat, bukanlah seseorang yang tidak memiliki kesalahan dan kekurangan, tapi satu hal, mereka adalah kumpulan orang-orang yang ingin menjadi lebih baik, menjadi muslimah yang lebih baik, ingin mengerti islam lebih baik, dan ingin mengaplikasikannya dengan benar. Inilah yang membuat adanya rasa ingin saling menghargai dan menasehati. Dan saya takut kehilangan madrasah ini. Wisma telah mengajariku banyak hal, juga membentukku pada beberapa hal. Ku tak ingin kehilangan madrasah ini, ku takut diluar sana ku larut dalam nilai-nilai yang tak lagi islami. Ku takut!
Ah…kutahu masih ada kajian mingguan yang akan menopangku. Ku juga tahu bahwa tarbiyah dzatiyahlah yang dapat menolongku. Tapi dibalik semua itu kujuga tahu bahwa lingkungan tempatku bertumbuh nantinya menentukan buah yang kan kuhasilkan. Lingkunganku terbangun dipagi hari, bekerja di siang hari dan beristirahat dimalam hari. Semua itu mungkin kan lebih banyak mempengaruhiku, memberi corak dalam kehidupanku. Ah… galau! Lagi-lagi galau jika memikirkan ini semua, ketakutan ini, kecemasan ini. Mungkin hanya pada Allah kita mengadukannya.
Cukup kita panjatkan do`a pada Sang Pemilik jiwa…
Do`a dan dzikir ketika dirundung kesedihan dan gundah :
“Aku hambaMu, putra seorang hambaMu. Nyawaku berada dalam kekuasaanMu. HukumMu telah berlaku kepada diriku dan adil keputusanMu terhadap diriku. Aku memohon kepadaMu dengan semua namaMu yang menjadi milikMu, ketika Engkau telah menamakan diriMu sendiri dengan semua nama itu; atau dengan nama yang telah Engkau turunkan dalam kitabMu; atau dengan nama yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hambaMu; atau dengan nama ketika hanya Engkau yang mengetahuinya; jadikanlah Al Qur`an sebagai cahaya dan kedamaian dalam hatiku, sirnakanlah kesedihan dan kegundahanku” amin… (Imam Nawawi(2009:239) The complete book of dzikir, Arkanleema)
Do`a dan dzikir ketika menghadapi kesulitan dalam hidup
“dengan menyebut nama Allah kepada diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah berikanlah kerelaan kepada diriku untuk bisa menerima takdirMu dan berkahilah aku dalam perkara yang telah Engkau takdirkan untuk diriku sehingga aku tidak akan senang untuk menyegerakan takdir yang masih Engkau tangguhkan dan aku tidak akan senang untuk menangguhkan takdir yang telah Engkau datangkan lebih cepat”. Amin. (Imam Nawawi(2009:245) Al Azkar; the complete book of dzikir, Arkanleema)
*sebuah perenungan, mencari jawaban…
Mari memasak ; “Ikan suka-suka ^_^”
Menu yang mau saya bagi kali ini adalah “ikan suka-suka”, resepnya dibuat sesuka-sukanya, sesuai bahan2 yg ada (biasa anak kos ).
Bahan-bahan :
1. ikan teri segar kira-kira ¼ kg (klo saya biasa menyebutnya ikan teri, biasanya ada yang udah dikeringin, ada ada yang segar/basah)
2. tempe (dipotong dadu)
3. terong 2 buah (dipotong setengah lingkaran dgn ketebalan kira 0,5 cm/ atau potong aja sesuai selera hati)
4. buncis 15 buah (dipotong serong)
5. bawang merah 3 butir (diiris), bawang putih 2 siung (diiris tipis2)
6. tombak bawang ½ – 1 ikat, (haha…klo dikampung saya bahan yang satu disebut “tombak bawang”, katanya ini merupakan batang dari bawang merah, bentuknya berupa batang bulat panjang dan bagian tengahnya bolong, warnanya ijo, hmm…saya kurang tahu juga nama bahan ini didaerah lain), tombak bawang ini dipotong kecil-kecil kira-kira 1 – 2 cm
7. cabe ijo (diris serong tipis-tipis)
8. tomat 1 buah (dipotong kecil-kecil, kira-kira 11 cm x 1cm x 0,5 cm / sesuka hatinya sajaa^_^)
8. minyak goreng secukupnya
9. garam secukupnya
Ok…
Cara memasaknya :
Pertama-tama goreng tempe sampe menguning, lalu angkat dan tiriskan
Goreng bucis sampe layuh,lalu angkat dan tiriskan
Goreng terong sampe layuh, lalu angkat dan tiriskan
Goreng ikan sampe menguning, lalu angkat dan tiriskan
Goreng bawang merah, sedikit agak layuh masukkan tombak dan bawang putih, ketika tombak bawang setengah layuh masukkan cabe ijo, sering-sering diaduk supaya masaknya merata dan tidak ada bagian yang hangus, lalu masukkan tomat yang sudah diiris-iris, aduk-aduk terus sampe tomatnya layuh dan hancur dan bau cabe yang menyengat saat digoreng sudah hilang, kemudian masukkan bahan-bahan yang sebelumnya sudah digoreng dan ditiriskan (terong, buncis, ikan, tempe), lalu diaduk-aduk hingga merata bercampur semua bahan-bahan, lalu taburkan garam halus secukupnya dan aduk hingga merata.
Lalu angkat dan sajikan ^_^
(Sejujurnya saya baru kali ini nyoba masak kayak begini, dan saat resep ini ditulis saya belum mencobanya( musti nunggu 1 jam lagi), tapi kata temen yang sudah mencobanya dengan nasi, komentarnya “enak, pengen nambah”, -mudah2n ini bukan bohong yang dibolehkan- hehe… *g` sabar ingin mencobanya….
Analisis Gizi :
Protein hewani : berasal dari ikan laut, hmmm… protein dari ikan katanya bagus untuk kesehatan, klo makan ikan kecil-kecil kayak begini biasanya kita akan memakannya dengan seluruh rangkanya (tulangnya), tentunya tinggi kalsium, dan ini sangat baik untuk kesehatan tulang.
Protein nabati : berasal dari tempe
Serat dan vitamin : berasal dari terong, buncis dan tombak bawang (kalo ingin tahu lengkapnya kandungan nih bahan silahkan search di google)
Analisis biaya :
Ikan teri basah Rp. 3.000
Terong Rp. 500
Buncis Rp. 1.000
Tempe Rp. 1.000
Bawang merah Rp. 500
Tombak bawang Rp. 1.000
Cabe ijo Rp. 1.000
Minyak goreng Rp. 2.000
Total biaya Rp. 10.000
HemaaaAAAAAT…..baaaanYYYYYAAAk…… uEEEnnnAAAAKKK……..bergIZIIII>>> ^_^
Pagi menjelang siang, saya memutari pasar raya Padang dengan adek kelas yang kebetulan jadwal kuliahnya jam 1 siang. Sedangkan saya, berstatus sebagai koas dengan perasaan yang paling menderita sedunia kala itu.
Blok demi blok pasar telah kami lewati namun belum juga kami temui sebuah rak piring berpenutup kaca dengan harga pas dikantong kami. Hufft… terik matahari semakin sengat menindih ubun-ubun kepala. Lelah dengan hasil yang sia-sia, kami pun berangkat ke simpang haru, satu-satunya toko yang menjual barang yang kami cari-cari pun tak memberi harga yang sesuai dengan kantong kami.
Matahari semakin tinggi, panas matahari semakin membakar ubun-ubun kami, tenggorokan kami mulai dicekat kekeringan, dehidrasi!. Ku ster motor varioku tuk memulai perjalanan kami, hanya beberapa meter berjalan, saya merasa kesulitan mengendalikan sepeda motor ini, rasanya saya sudah memicu gas dengan lebih cepat namun jalannya masih lambat dan stirnya terasa liat, kuberhentikan motor, kuperiksa bagian bawah motor, ternyata bannya kempes. “aghh….” Gerutuku, panas-panas begini musti dorong motor. Kulirik kekiri kanan jalan, tak jauh sekitar 30 meter dari tempatku berada kulihat sebuah tambal ban. “Alhamdulillah” lirihku. Kudorong motorku yang terasa lebih berat dari biasanya gara-gara satu bannya yang kempes.
“pak tolong saya pak, bannya kempes sepertinya tertusuk paku” ucap saya ketika sampai di tempat tambal itu. Seorang bapak paruh baya langsung melihat kearah ban depanku dan memutar-mutarnya tanpa banyak bicara. Lama aku berdiri didekat motorku melihat bapak itu bekerja dan sesekali melihat kendaraan berlalu lalang di depanku. Panas matahari semakin terik, tenggorokanku semakin tercekat, kuputari pandanganku tak ada satupun penjual minuman sekitar tempat ini. Panas semakin terik, dan kaki ini pun terlalu lelah sedari tadi berdiri, kuputuskan tuk duduk didalam pondok-pondokan kecil bapak ini, hanya beratap seng yang disanggah beberapa kayu supaya berdiri dan tak berdinding kecuali sisi belakangnya saja.
Kutatap bapak itu yang masih sibuk membuka benen dari rodanya, lalu diisi angin sampai menggembung penuh dan dicelupkan ke dalam ember besar yang telah diisi air. Bagian benen yang bocorpun segera ketahuan dari lubang benen yang kebocoran angin sehingga mendorong air disekitarnya sambil mengeluarkan bunyi. Pikiranku melayang jauh, berputar-putar pada masalah koasku.
“ah…. Betapa bodohnya aku” gerutuku menyesali diri. Mengingat apa yang pernah terjadi pada diriku akhir-akhir ini, pada permasalahan hidupku, masalah keinginan-keinginan besarku yang belum kunjung terwujud, pada ujian-ujian yang tak seberapa namun sangat besar dimataku. Pada pikiran bodohku saat dosenku berkata aku harus mengulang dua minggu yang ini berarti aku harus memperpanjang studiku dan menggagalkan beberapa rencana hidupku. Dalam emosi itu ingin kulajukan motorku ini sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya hingga menjauh dari semua permasalahan ini, keluar dari kesulitan hidup ini. “ah…..” untung aku tak pernah melakukan pikiran bodohku itu, tapi aku masih menyesal pernah berpikir seperti itu.
Kutatap lekat-lekat bapak penambal ban yang sedang bekerja di depanku. Dengan sabar dia mencari titik bocor banku lalu memanaskannya diatas kompor tambal ban tanpa sedikitpun menggerutu. Tak jelas berapa pendapatan bapak ini satu hari. Ya… kalau dipikir-pikir jika ban motorku ini tak bocor mungkin belum ada penghasilan bapak ini, kalau tidak ada yang kurang angin mungkin tidak ada pula yang ngisi angin, kalau ngisi angin paling dapat satu ribu tiap isi. Ternyata bapak ini bukanlah satu-satunya penambal ban ditempat ini, tak jauh beberapa meter diseberang jalan ini juga ada tempat tambal ban, dan sekitar 20 meter di depannya juga ada penambal ban, berarti saingan juga ada. Ya…bagaimanapun juga setiap orang pasti sudah ada rezqinya ditentukan Allah, seperti hari ini saya mengantarkan rezqi bapak yang dititipkan Allah pada saya.
Saya pun membandingkan peruntungan saya dengan bapak ini. Saya mulai mengira-ngira, kemungkinan bapak ini sekolahnya mungkin cuma sampai sd, smp atau sma, tidak sampai kuliah. Sedangkan saya…? Alhamdulillah diberi kesempatan oleh Allah untuk kuliah. Lalu pikiran saya berkeliaran pada masa-masa lalu saya, pada peruntungan saya, pada hal-hal telah luput untuk saya syukuri. Astaghfirullah…betapa sedikitnya saya bersyukur bahkan untuk kelengkapan anggota badan saya, pada udara yang bisa saya hirup setiap harinya, pada kaki yang bisa saya gerakkkan kemana saja, pada tangan, pada mulut, pada…..tak terhitung nikmatNya…..
Subhanalllah… Alhamdulillah…berkali-kali saya bersyukur, betapa banyak nikmat yang kulupa, sedikit saja diuji sudah merasa orang paling menderita sedunia padahal banyak yang diuji lebih berat dari diri saya. Mulai saat itu saya bertekad, untuk senantiasa belaar bersyukur, menghadapi masalah bukan sebagai sorang pecundang tapi sorang pejuang tangguh yang bersungguh-sungguh dan bersabar.
Pasti ada kemudahan yang menyertai setiap kesulitan, pasti ada hikmah dalam setiap kejadian,
Yakinlah…
bukankah pelangi yang indah itu akan muncul sesaat setelah hujan??
tahukah kau kawan bahwa hidup ini merupakan sebuah penantian? penantian tuk sebuah keputusan-keputusan yang Allah beri. penantian atas misteri-misteri illahi yang kan terjadi. misteri yang kan terungkap satu demi satu. adakah kau tahu? hidup ini adalah sebuah penantian, penantian demi penantian hingga menemukan sebuah penantian terakhir, misteri kematian.
hidup ini seperti penantian,
hidup ini seperti menunggu bingkisan-bingkisan kado yang diberikan Tuhan…
hidup ini penantian,
penantian akan kejutan-kejutan yang segera diberikan Tuhan…
setiap kali kau berharap, Tuhan memberi kado bingkisan seperti yang kau harapkan.
sebuah penantian,
rasanya seperti menerima sebuah kado yang dibungkus pita merah jambu, dan jantungmu berdebar-debar, hatimu mulai tak sabaran, pikiranmu menebak-nebak akan isi bingkisan, dan lagi-lagi berharap isinya seperti yang kau harapkan.
hidup ini penantian kan kawan?
seperti seorang ibu yang menunggu kelahiran bayinya selama 9 bulan,
seperi seorang anak SD menunggu pembagian rapor sekolahnya,
seperti seorang lulusan SMA yang menunggu hasil SMPTN nya,
seperti seorang pria yang menunggu jawaban khitbah dari sorang wanita,
seperti seorang wanita yang menunggu seseorang yang tak diketahuinya,
seperti lulusan sarjana yang ditunggu2 orangtua akan anaknya,
seperti…..dan…..seperti….
sebuah penantian,
saat kado Tuhan sudah dihadapan,
kuatlah bertahan,
yakinlah, itulah kado terbaik dari Tuhan untukmu, untukku, untuk kita kawan
sebuah penantian,
berusahalah, perbanyaklah berdo`a dan bersedekah…
agar kadomu indah…
agar kamu kuat menerimanya apapun isinya
sebuah penantian,
yang berujung misteri kematian,sungguh penantian demi penantian yang panjang,
adakah dipersiapkan?
agar penantianmu berbuah manisnya iman&kebahagiaan….
Rutinitas harianku serasa sangat membosankan akhir2 ini, kenyataan2 hidupku sering kutemui jauh dari harapan2ku,hal2 yang kutunggu2 pun tak kunjung datang, serasa asaku melayang, ingin rasanya waktu berhenti sejenak, lalu aku berkarya sesukaku, mungkin jg ku kan lari dari duniaku& jg harapan2ku tuk sementara waktu, “ah….ngayal!!” bentakku pada diri.
Laju motorku berjalan perlahan, kecepatannya makin kukurangi saat kulihat sesosok tubuh yang pernah kukenal. Agak lama kuberpikir hingga ku telah melewati sosok itu beberapa meter. Tiba2 tanganku refleks menarik pedal rem, sosok itu menghipnotis pikiranku, dan sekarang berhasil mengalihkan duniaku. Membawaku pada 3 tahun silam. Pada malam itu….
***
kakiku kulangkahkan lebih cepat menapaki sebuah gang, gang yg diberi nama gang senggol, konon kabarnya tiap org berselisih jalan sering bersinggungan karena sempitnya gang ini. Entahlah…yg jelas aku tidak ingin berpas2an dgn org lain di gang ini, bulu kudukku merinding.
Lepas dari gang senggol, aku menapaki jalan minahasa, cukup luas, jalanan tampak lengang, ya…jelas saja jam sudah menunjukkan pukul9.30 malam. Ini jam paling larut kepulanganku ke wisma (rumah kontrakkan). Rumahku letaknya agak jauh dari jalan utama, jalan kesana biasanya agak sepi apalagi malam seperti ini, ada beberapa lorong yang agak gelap yg harus dilalui sebelum mencapai SMP 5 kompleks PJKA, rumahku.
Kuayunkan langkahku lebih cepat, pikiranku melayang ke berbagai tindak kriminal yg konon katanya pernah terjadi di daerah ini. Jika kita menolong saudara kita pasti Allah juga akan menolong kita. Aku teringat bahwa kepulanganku mlm2 begini bukan karena hal yg sia2, karena aku harus menemani seorang saudara sewisma yg dirawat di RS. “Allah..Allah…” kusebut nama Allah dlm hatiku…
Setelah belokan pertama di minahasa, mataku menangkap sosok wanita berjalan beberapa meter didepanku. Tangan kirinya menjinjing kantong besar, tangan satunya lagi sesekali memegangi kantong yang ada diatas kepalanya agar tak terjatuh.
Dalam rasa was was dan takut itu, aku merasa butuh teman menemani perjalanan malamku malam ini. Mungkin Allah memberikan ibu ini untuk menemaniku,pikirku. Aku pun bergegas menghampiri ibu itu.
kemudian kami pun bercerita. Ternyata beliau tinggal di PJKA juga, otomatis jalan yg kami lalui sama, hanya saja saat sampai SMP 5 aku harus belok ke kanan sedangkan si ibu ke kiri. Yg jelas rumahku tidak jauh dari SMP 5, setidaknya perjalananku kan terasa lebih aman&nyaman karena sudah ada teman.
setelah bercerita panjang lebar barulah kutahu, ternyata si ibu adalah seorang pemulung, kantong2 besar yg ia bawa isinya botol2 plastik hasil dia memulung, ya Allah…aku membayang berapa banyak botol minuman yang aku buang dgn begitu saja, karena memang kurasa sudah tak ada nilai guna, karena isinya telah kuteguk&dahagaku pun telah lepas, ternyata barang yang kuanggap sampah ini merupakan emas permata yang dikais2 dan dicari2 disepanjang jalan oleh ibu ini, tiap hari demi menyambung hidupnya. Ya Rabb…Nikmat Tuhanku yg manakah yg aku dustakan??
Setelah…cerita2 lagi…ternyata sang ibu hidup sendiri, paling2 penghasilannya sehari 20rb, suaminya sudah lama meninggalkannya, katanya suaminya pergi meninggalkannya begitu saja, naudzubillah..bukankah suami-istri itu merupakan ikatan mitsaqon golizhoh…wallahualam….
ba’da shubuh, ibu ini sudah mulai mengais rezekinya. Ia mulai berjalan dari rumahnya untuk bekerja. Bukan pada sebuah tempat, tapi pada sepanjang perjalanan sekuat kakinya melangkah. Begitulah hari2nya, pergi ba’da shubuh pulang mlm2 begini larutnya, semua itu ia lakoni tuk menyambung hidupnya. saat kutanya ibu tamat apa, dia bilang tamat sd pun tidak. Ya Allah…nikmatMu yg mana lagikah yg tlah kudustakan??
Aku teringat dengan diriku, kebosananku menjalani rutinitas koas, kenyataan2 hidup yang jauh dari harapan2ku, segala sesuatu yang mengusikku, yang terkadang membuatku ingin lari&berhibernasi. Tidakkah aku lihat, ada sosok yang Allah turunkan tuk mengajariku, tidakkah aku bersyukur?? Tidakkah aku bersabar?? Tidakkah seharusnya aku lebih rajin lagi, agar kelak ku dapat membantu mereka??? Ya! Ya! Ya! Teriak hatiku….
***
Kuputar motorku menuju ibu itu. “ibu…mau ke SMP 5 kan”?? Tanyaku tanpa ragu2. Kulihat ada senyum diwajah ibu itu sambil berkata “ibu takut naik motor”, mendengar jawaban ibu itu aku pun tak bisa memaksa, sepertinya ibu itu lupa dengan wajahku, ya…waktu perjumpaan kami sudah begitu lama, dan waktu itu pun suasana gelap, aku yakin ibu itu tak dapat menangkap wajahku dengan jelas.
Ya…sudahlah…aku tak bisa memaksakan kehendakku pada si ibu itu untuk memboncengnya, walaupun aku lebih senang jika dapat memboncengnya, lalu kuantarkan dia kerumahnya sehingga aku jadi tahu persis dimana rumahnya, dan aku ingin mendengar lebih banyak lagi cerita tentang dirinya. Tapi…ya sudahlah…aku pun pamit dan berlalu…
Dulu aku pernah melihat si ibu di IGD saat dinas malam stase Bedah, kuperhatikan dari jauh…saat ingin kuhampiri aku kehilangan jejaknya.
Terimakasih ibu atas pertemuan malam ini, mengingatkanku dan mengalihkan kembali duniaku. Agar senantiasa tersenyum^_^ dan tak pernah lagi bersedih. Senantiasa bersyukur atas apa yang ada. Senantiasa bersabar atas apa yang belum ada, tertunda atau ditunggu2.
La tahzan…
Innallaha ma’ana…
“Do re mi fa so la si dooo…”
Not not lagu pun tak seindah lagu rinduku. Rindu yang bisa melepas laraku kala kepenatan dunia menyelimutiku.
Rindu…bak nyanyian angin melambaikan rerumputan yg bergoyang…
saat berada dalam dekapanmu, kurasakan kehangatan….
Saat berada dalam pelukmu kurasakan ketenangan…dan sgala keresahanku hilang…kepenatan hidup ini pun hilang…
Saat bercanda denganmu, melihat tawamu, senyummu…seakan…aku merasa lepas..lepas dengan bahagia…
Rindu…
KeRinduanku ini semakin membuncah saat kepenatan hidup membekap diri…
kumerasa dekapanmu, pelukanmu…melepas semua penatku….
Menangis dihadapanmu, menangis dalam pelukmu sudah cukup bagiku…
Engkau memang tercipta sebagai malaikat untukku, wahai ibu…
Menunggu…hari sabtu…
