Bismillahirrahmanirrahim.
Hampir seluruh posting kritik saya terhadap developer Linux mengisyaratkan adanya sistem service pack. Bisa juga disebut bundle (karena mirip Chakra Linux Bundles). Intinya tetap saja single offline installer (bacalah tulisan ini dan itu). Namun seluruh tulisan mengenai itu masih belum konkret. Saya baru saja menuliskan bentuk konkretnya dalam komentar di salah satu tulisan pengguna IGOS Nusantara. Terima kasih untuk Kang rhdsv. Apa service pack? Apa untungnya untuk pengguna? Berikut ini salinannya.
Mulai Kutipan
Yang jadi masalah di mana-mana
1) kompatibilitas hardware,
2) sistem manajemen paket.
Seandainya IGN itu punya sistem bundel, maksud saya seperti Windows Service Pack, itu akan menghapus satu dari dua penghalang di atas. Apa itu service pack? Service pack adalah satu paket RPM berisi paket-paket RPM lain yang bertugas menginstal 1 aplikasi lengkap dengan dependensinya untuk 1 versi IGN. Pengguna akhir jadi bisa
1) instal
2) simpan installer
3) berbagi installer sesama pengguna IGN
4) cukup unduh 1 berkas untuk semua dependensi dari 1 tempat untuk memperoleh installer
Keempat poin ini yang seringkali kacau balau di bidang sistem manajemen paket di masyarakat. Baik keluarga Debian atau Red Hat. Itu yang bikin orang ogah Linux. Utamanya pada pengguna baru. Nantinya, kalau sistem ini benar-benar dibikin, masyarakat akan merambah ke nomor 5 ini:
5) muncul DVD service pack berisi banyak aplikasi dan didistribusikan ke sekolah-sekolah atau masyarakat lainnya
Kalau sudah begitu, barulah pengguna bisa menyebut mudah instalasi aplikasi di IGN dan baru dengan itu, mereka akan mau menggunakan secara kolektif (walau harus dualboot dulu). Silakan akang sebagai guru bayangkan, sulit bagi para guru instal aplikasi Linux (Windows aja kadang ada yang gak tahu). Dengan sistem bundel, mereka akan sangat dimudahkan. Just do double click. Karena di Indonesia ini, pengguna tidak pernah butuh OS. Mereka butuh aplikasi. Saya kasih contoh service pack (SP) yang pantas dibikin lebih dulu:
1) SP khusus Wine
2) SP khusus Codec
3) SP khusus GIMP
4) SP khusus Inkscape
5) SP khusus Chrome/browser lain
6) SP khusus driver NVIDIA
Kalau sekiranya sistem add/remove program IGN masih seperti sekarang, saya tidak heran akan susah mengajak orang menggunakan. Cukup dikembalikan ke diri sendiri, apa gampang menginstal aplikasi dalam keadaan internet kosong? Seperti kalimat yang ada tulisan NOL di atas.
Ini hanya pendapat pribadi saya saja, Kang. Overview untuk turut membangun IGN dari ide. Sedikit dari yang paling sedikit. Terima kasih.
NB: kunci dari penciptaan setiap bundel, ada di posting terbaru akang masalah offline package management system di IGN.
Selesai Kutipan
Ide service pack ini berlaku tidak hanya untuk distro RPM. Distro turunan Debian semacam Blankon dan Grombyang layak mengimplementasikannya. Semoga bermanfaat.

Sudah lama saya ingin internetan dengan WIFI.ID. Sejak rekan-rekan saya bercerita betapa murah dan cepatnya internetnya WIFI.ID. Ternyata benar, saya dapat kecepatan unduh 300 KB/s hingga 1 MB/s konstan malam ini. Saat ini saya menikmati internet melalui Speedy Inst@n WIFI.ID (bukan Telkomsel atau Flexi). Tarifnya amat sangat murah, 5000 rupiah untuk internetan 24 jam. Rasanya seperti mimpi karena dulu saya membayar 6000 rupiah untuk 2 jam saja. Betapa jauh murahnya. Mudah pula aksesnya. Saya cukup beli vocer di tempat (hanya 5000 rupiah) lalu login ke Captive Portal-nya berdasarkan username dan password yang tertera. Layanan WIFI.ID ini akan sangat memudahkan semua pengguna Linux di Indonesia. Mereka bisa instal aplikasi tanpa hambatan sedikit pun. Seperti biasa, berikut saya tampilkan skrinsot-skrinsot saya. Terima kasih Telkom dan pemerintah.




