Loading...
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Membuat peta lokasi dengan ArcView GIS 3.3

15.17.00 Add Comment

TEKAN GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

  • Yang pertama tentu saja membuka aplikasi ArcView Gis 3.3 nya, kemudian akan muncul gambar dibawah ini dan pilih new blank view dan tekan ok.
  • Kemudian akan tampil pilihan seperti gambar berikut dan pilih no, karena kita akan mengatur terlebih dahulu ekstensi yang akan digunakan.
  • Untuk mengatur ekstensi, pergi ke menu File dan pilih Extention, kemudian akan ada kotak dialog ekstensi apa yang mau diaktifkan, pilih Jpeg supaya bisa menambahkan gambar.
  • kemudian tambahkan peta yang diinginkan dengan cara menekan tombol
    dan kotak dialog akan muncul seperti gambar dibawah, ganti pilihan yang ada dibawah Data Sources Type menjadi Image Data Sources supaya bisa mengenali gambar peta kita nanti.
  • Pilih gambar peta yang telah disiapkan dan tambahkan, maka setelahnya akan seperti gambar dibawah ini. Jangan lupa centang kotak supaya gambar ditampilkan.
  • Selanjutnya kita akan menambahkan Polygon untuk membuat peta dasar kita, dengan cara Klik menu View > New Theme, dan kotak dialog seperti dibawah ini akan terbuka. pilih polygon.
  • Selanjutnya pilih aksi draw polygon untuk menggambar diatas peta yang sudah kita sediakan, lakukan tracing.
  • Dan hasilnya adalah sebagai berikut. ada 3 tempat,yakni dusun Bawang, dusun Tunggulwulung, dan perumahan Permata Jingga.
  • Untuk membuka Attribut table terebut adalah dengan menekan tombol ini

    selanjutnya untuk menambahkan field baru tekan Edit > Add Field
  • Kemudian kita akan menggambar Jalan raya dengan menggunakan Line yang ada pada View > New Theme. Dan gunakan tools Draw Line untuk menggambar.
    .
  • Dan gambar jalan dan Attribut saya adalah sebagai berikut.
  • Lalu tambahkan lokasi atau tempat yang ada didearah tersebut dengan menggunakan View > New Theme > Point
  • Dan hasilnya beserta attributya adalah sebagai berikut :
  • Dan Terakhir adalah tambahkan text dengan menggunakan Autolabel
Kalau ada yang mau di diskusikan bisa meninggalkan komentar dibawah, terima kasih.
Teknik Menulis Artikel

Teknik Menulis Artikel

10.52.00 Add Comment
Teknik Menulis Artikel
Artikel sendiri bisa berarti karya tulis seperti berita atau esai. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, artikel di media massa itu bertaburan data-data teknis, tapi lebih ke arah pemaparan sepintas lalu dan itu murni pendapat pribadi penulisnya setelah membaca pendapat lain dari begitu banyak karya yang telah dibacanya. Ada beberapa teknik penulisan yang dapat dijadikan acuan dalam menulis artikel.

Memilih topik
Memilih topik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, bagi penulis pemula memilih topik sama beratnya dengan membuat judul atau isi tulisan. Padahal, tema atau topik yang bisa diangkat menjadi tulisan begitu banyak dan mudah kita dapatnya. Cobalah mencari topik yang dekat dengan kita. Bertanya dan mengobrol dengan teman atau bisa juga membaca  koran, intinya mencari-cari berita yang menarik. Setelah mendapatkan, hal tersebut bisa ditulis ulang dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, topik yang diambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah membaca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, kita bisa membuat daur ulang dengan pengembangan yang lebih teoritis, dengan gaya bahasa sendiri. Misalnya berlaku sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Bisa di ubah dengan versi yang baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih topik:
1) Carilah topik yang sedang menjadi tren.
2) Bisa juga kita menciptakan tren.
3) Pilih hal yang dekat dengan sasaran pembaca.
4) Hindari topik yang tidak dikuasai atau menimbulkan polemik yang tidak perlu.
5) Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.

Membuat kerangka tulisan
Ada baiknya memang membuat kerangka tulisan. Dalam bahasa yang tren saat ini disebut outline. Kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang harus kita tulis. Ibarat Pak Tani yang akan menggarap sawah, ia harus menentukan batas garapannya. Supaya tak melebar kemana-mana, apalagi sampai mengambil jatah orang.

Dengan membuat kerangka tulisan, akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang tepat untuk alur tulisan kita. Beberapa panduan untuk membuat kerangka tulisan:
1) Paparkan fakta-fakta seputar tema yang akan kita bahas.
2) Lakukan penilaian atas fakta-fakta itu. Sudut pandang rasional.
3) Kumpulkan bahan-bahan pendukung argumentasi kita.
4) Simpulan.

Menabung kosa kata
Untuk menjadi penulis, bolehlah kita mencoba untuk menabung kosa kata. Mengumpulkan setiap hari lima saja. Maka dalam sebulan kita punya tabungan kosa kata sekitar 150 buah.  Kosa kata itu cukup untuk memoles tulisan yang kita buat. Sebab, menulis adalah keterampilan mengolah data-data dalam suatu rangkaian kata. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampai yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua sudah lengkap.

Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enak dipandang mata. Mengasyikan tentunya.

Buatlah judul yang menarik
Pembaca akan mudah tertarik untuk membaca sebuah tulisan, jika judulnya juga menarik. Anggap saja judul itu sebagai pancingan. Itu sebabnya, boleh dibilang membuat judul perlu ‘keterampilan’ khusus. Tapi jangan kaget dulu, kita bisa belajar untuk membuatnya. Hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras dan kerja cerdas untuk terus berlatih. Yakin bisa deh.

Sebagai latihan awal, cobalah Anda sering membaca tulisan orang lain. Kalau Anda mau, coba baca majalah-majalah ibu kota yang oke mengolah kata dalam membuat judul (misalnya TEMPO, GATRA, GAMMA, dan KONTAN). Perhatikan judul-judul tulisannya. Makin banyak Anda membaca judul tulisan-tulisan tersebut, kian terasah imajinasi Anda untuk membuat judul yang menarik hasil kreasi Anda sendiri. Terus terang saya juga banyak menggali ide untuk membuat judul dari majalah-majalah tersebut (selain banyak juga dari buku-buku dan majalah lainnya).

Untuk jenis tulisan yang ngepop, buatlah judul yang pendek. Paling tidak dua sampai empat kata. Jangan sampe panjang seperti rangkaian kereta api (ini cocoknya untuk skripsi). Sebab, jika judul yang kita buat panjang--padahal tulisan ngepop--membuat orang tak tertarik untuk membacanya. Mungkin akan dilewati aja tulisan Anda tersebut. Padahal, boleh jadi isinya sangat menarik.

Judul yang menarik, tidak saja membuat orang penasaran untuk membaca tulisan Anda, tapi juga menunjukkan kelihaian kamu dalam mengolah kata-kata.

Pastikan membuat subjudul
Subjudul sangat menolong kita untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. Pembaca pun dibuat mudah membaca alur tulisan yang kita rangkai. Sehingga mereka terus bertahan untuk mengikuti tulisan kita sampai habis. Mereka juga akan sangat terbantu memahami apa yang kita tulis. Itu sebabnya, sub-judul menjadi begitu penting dalam sebuah tulisan.

Subjudul dalam sebuah tulisan, juga berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam membaca. Hal tersebut akan menjadi ada napas baru untuk menyegarkan kembali tulisan yang akan kita buat. Jadi, kita harus berlatih untuk membagi alur dengan tanpa memenggal rangkaian dari inti tulisan kita. Itu sebabnya, membuat subjudul adalah solusi paling tepat untuk membagi alur.

Lead/ Teras Berita
Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Jika lead-nya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan menyudahi bacaannya. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Boleh dikatakan selain judul, lead adalah menu yang wajib memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya.


source : dosen bahasa indonesia
Penulisan Tanda Baca dan Huruf Kapital

Penulisan Tanda Baca dan Huruf Kapital

12.01.00 Add Comment
Tanda Baca

1. Tanda titik (.)
Mengakhiri kalimat, singkatan, gelar, membedakan jam;menit;detik, nominal ribuan, dll.
Prof. Dr. Ayu Amanda Agung, S.Pd., M.Pd.
Pukul 11.10.28
Rp 1.000.000.000.000, 00

2.Tanda koma (,)
Jeda, perinci, dll
Ketika dia menjemputku, aku sedang mandi.
Soekarno, Presiden RI yang pertama, adalah orator kelas dunia.
Darmawan membeli pensil, pulpen, dan spidol.

3.Tanda seru (!)
Perintah, larangan, dll.

4.Tanda tanya (?)
Bertanya

5.Tanda petik (“…”)
Memetik kata yang bermakna ganda, kalimat kutipan langsung.
Ayahnya suka “makan semen.”
Ayu berkata, “Kamu harus bertanggung jawab!”



6.Tanda petik tunggal atau apostrof (‘)
Menyingkat
UUD ’45, Angkatan ’13, ‘tuk, ‘kan, dll.
Do’a (Salah); Jum’at (Salah)

7.Tanda hubung (-)
Suku kata, kata ulang, kata dengan penomoran, dll.
ke-17, tahun ’90-an, se-Indonesia, Bab II, Kaisar Mesir XX.

8.Tanda pisah (-)
Bermakna sampai dengan.

……………….pada,

hari, tanggal : Kamis, 26 September 2013
pukul : 09.00 – 11.00 WIB

9.Tanda titik dua (:)
Perincian.
Diantaranya:
antara lain:
sebagai berikut:
yaitu:
Tidak boleh digunakan setelah kata adalah, ialah, merupakan


10.Tanda titik koma (;)
Menjelaskan kesatuan dalam kalimat.
Aku sedang makan di meja makan; Ibu sedang memandikan ayah yang sedang sakit.


11.Tanda garis miring (/)
Penomoran surat.
Nomor : 2/4/22.10.2013

12.Tanda buka kurung, tutup kurung ( )
Memiliki makna yang sama
Tim Nasional Indonesia (U-19) menang telak atas tim Inggris.

13.Dll.






Huruf Kapital

1.Diawal kalimat
2.Nama orang
3.Singkatan
4.Judul
Kejamnya Ibu Tiri
KEJAMNYA IBU TIRI
Cinta yang Dikhianati
CINTA YANG DIKHIANANTI
Cintaku Berakhir di Semak-Semak
CINTAKU BERAKHIR DI SEMAK-SEMAK
Kegiatan yang Dilaksanakan
KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN

5.Letak geografis
Aku lahir di Kota Surabaya
Aku jatuh di depan Kecamatan Molyorejo
Aku mencintaimu saat di depan Kali Jagir
Kisah kita bersemi di Pulau Bali
Kecuali,
Aku suka makan pisang ambon, jambu bangkok, dan pepaya thailand.

6.Hari dan bulan
Aku berangkat hari Senin.
Aku menikah bulan Mei.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha


7.Gelar

8.Merek atau Brand
Aku membeli mobil Toyota Avanza.

9.dll


sumber : dosen bahasa indonesia

Menghitung determinant matrix 4x4

09.35.00 Add Comment

contoh pertama adalah contoh yang pada umumnya, sedangkan contoh kedua memakai determinant yang sama dengan 'expanding' tidak menggunakan baris pertama melainkan menggunakan kolom kedua(eh, bener ga ya baris sama kolom disini :hammers)

Cara 1
Menghitung determinant matrix 4x4, menurunkannya menjadi 3x3 lalu 2x2 contoh



penyelesaian determinant matrix 4x4



Sehingga menjadi

3 ( 2(0-(-6)) - 0 -2(0-0))
+ 2 ( 1 (0-(0)) - 2(0-(-15)) -2(0-0))
+1 (1(0-0)) -2(8-30) +0

= 3.(2).(6) + 2(-2)(15) + 1(-2)(-22)
= 36 - 60 + 44 = 80 - 40
= 20


cukup panjang, gunakan cara berikut ini yang bisa dibilang mudah dan pendek

Cara 2



coret yang dikalikan 0 maka sisanya









bisa juga sih menggunakan metode sarrus atau yang lainnya, tapi menurut saga metode ini adalah yang paling mudah


sumber gambar : http://nebula.deanza.edu
Pengertian, Sejarah, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia

Pengertian, Sejarah, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia

09.36.00 Add Comment
Pengertian Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang penting untuk mempersatukan seluruh bangsa. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia merupakan alat mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulis.

Kemahiran berbahasa Indonesia bagi mahasiswa Indonesia tercermin dalam tatapikir, tataucap, tatatulis, dan tatalaku berbahasa Indonesia dalam konteks ilmiah dan akademis. Oleh karena itu, bahasa Indonesia masuk dalam kelompok mata kuliah pengembangan kpribadian mahasiswa, yang kelak sebagai insan terpelajar akan terjun ke dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pemimpin.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang masih hidup tidak dapat menghindarkan diri dari tuntutan perkembangan masyarakat pemakainya. Hal ini senada dengan, apa yang disampaikan Aldi Firmansyah (Solo Pos, 22 Juli 2007) bahwa strategi bahasa agar tidak ditinggalkan oleh pemakainya, yaitu bahasa haruslah tetap terbuka dan dinamis bagi perkembangan zaman, tak terkecuali bagi bahasa Indonesia.

Sejarah Bahasa Indonesia

  • Sebelum Kemerdekaan
Bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Selama berabad-abad bahasa melayu dipakai sebagai alat perhubungan diantara penduduk Indonesiayang mempunyai bahasa yang berbeda. Bangsa asing yang datang ke Indonesia juga memakai bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu berasal dari abad ke-7. Masuknya Islam ke Indonesia sekitar abad ke-13. Tradisi penulisan bahasa Melayu dengan huruf Arab masih berlangsung sampai abad ke-19.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam kongres pemuda yang dihadiri oleh aktivis dari berbagai daerah di Indonesia, bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Sebagai wujud perhatian yang besar terhadap bangsa Indonesia, pada tahun 1938 diselenggarakan Kongres bahasa Indonesia pertama di Solo.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang memberlakukan  pelarangan penggunaan bahasa Belanda. Pelarangan ini berdampak positif terhadap bahasa Indonesia dalam proses perkembangannya.

  • Sesudah Kemerdekaan
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus ditetapkan Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalamnya terdapat pasal, yaitu pasal 36, yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.” Pada era globalisasi saat ini, bahasa Indonesia berkembang seiring dengan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang belajar dan menguasai bahasa Inggris tentu saja merupakan hal yang positif dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi.



Kedudukan Bahasa Indonesia
Melalui sejarah perjalanan yang panjang, bahasa Indonesia terlah mencapai perkembangan yang luar biasa, baik dari segi jumlah penggunanya, maupun dari segi sistem, tata bahasa dan kosakata, serta maknanya. Sekarang bahasa Indonesia telah menjadi bahasa besar yang digunakan dan dipelajari tidak hanya di seluruh Indonesia tetapi juga di banyak negara.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia 

  • Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

  • Bahasa Indonesia sebagai Lambang Kebanggaan Nasional
Tidak semua bangsa di dunia mempunyai sebuah bahasa nasional yang dipakai secara luas dan dijunjung tinggi. Adanya bahasa yang dapat menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional
Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan bahasanya berbeda. Untuk membangun kepercayaan diri yang kuat, sebuah bangsa memerlukan identitas. Identitas bangsa Indonesia diwujudkan melalui bahasa, yaitu bahasa Indonesia.

  • Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa
Sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan bahasanya berbeda akan mengalami masalah besar dalam melangsungkan kehidupannya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa nasional pepecahan tersebut dapat dihindari karena suku-suku bangsa tersebut merasa satu.

  • Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan Antardaerah dan Antarbudaya
Masalah yang dihadapi bangsa terdiri atas berbagai suku bangsa dengan budaya yang berbeda adalah komunikasi. Dengan adanya bahasa Indonesia menjadi jawaban dari adanya kebutuhan ini. Sudah berabad-abad bahasa ini menjadi lingua franca di Indonesia.


Sumber : Dosen mata kuliah bahasa indonesia saga

Metode menghafal Kode warna resistor

09.58.00 Add Comment



MENGHAFAL URUTAN KODE WARNA RESISTOR.

Menghafal ada cara untuk melatih kemampuan ingatan buatan. Pada otak manusia ada 2 jenis ingatan, ingatan alami dan ingatan buatan. Ingatan alami adalah bakat yang sudah ada sejak kita lahir, dan digunakan kan dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis tanpa perlu berpikir. Sedangkan ingatan buatan adalah sebuah kemampuan daya ingat yang di bangun dengan cara belajar dan dilatih dengan berbagai macam metode.
Salah satu metode yang paling efektif untuk melatih daya ingat buatan adalah Strategi Mnemonik, yaitu teknik mengingat sesuatu dengan cara menghubungkan antara bentuk/rumusan yang mudah diingat dengan data yang ingin diingat. Hal ini berdasarkan prinsip bahwa ingatan manusia akan lebih mudah mengingat informasi yang unik dan menarik, ketimbang data-data yang rumit dan asing.

Dari sekian banyak strategi Mnemonik yang ada, beberapa diantaranya dapat kita manfaatkan untuk menghafal urutan warna kode Resistor.

1. Rumus Jembatan Keledai.

Rumus Jembatan keledai umumnya berupa sebuah kata atau suku kata yang diambil dari susunan kata yang ingin di hafal, kemudian dibentuk menjadi sebuah kalimat yang unik atau menarik.
Sebenarnya kurang jelas, dari mana asal mula Istilah jembatan keledai ini. tapi kemungkinan besar berasal dari bahasa Belanda Ezelsbruggetje yang berarti titian keledai atau dari bahasa Latin pons asinorum yang artinya jembatan keledai.

Berikut adalah bentuk dari rumus Jembatan Keledai yang akan kita gunakan untuk menghafal urutan kode warna Resistor.

Rumus ini membentuk sebuah kalimat HI CO ME O KU  HI BI VI A PU, yang diambil dari singkatan nama masing-masing warna yang terdapat pada sistem kode warna Resistor.

HI = Hitam, ME = Merah, O = Oranye, KU = Kuning, HI yang kedua = Hijau, BI = Biru, VI = Violet atau Ungu, A = Abu-abu, dan PU = Putih.

Cara menggunakan rumus ini cukup mudah, kita hanya perlu menghafal kalimatnya, serta  membayangkan arti dan angka yang ada di bawah setiap kata, dalam kalimat tersebut.


2. Menggunakan Gambar angka berwarna.

Dengan cara ini, kita akan melatih ingatan kita untuk menghafal urutan kode warna menggunakan gambar angka berwarna, seperti  di bawah ini :

Cara menggunakan metode ini adalah, menyebutkan warna angka yang ada dalam kotak. Satu persatu secara berulang-ulang. Sekali lagi, yang disebutkan warna angkanya, bukan angkanya.







3. Menggunakan Rumus Pengelompokan warna. [dicopy dari mrhbelectronicservice.blogspot.com]

Metode ini terbilang cukup rumit, karena kita akan mempelajari pengelompokan warna terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan urutan warna kode resistor.

Pengelompokan warna pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, namanya Teori Brewster. Teori ini menyederhanakan warna yang ada di alam dengan membaginya menjadi 4 kelompok besar, yaitu :

    Warna Primer. Warna dasar yang bukan merupakan hasil pencampuran dari warna-warna lain, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
    Warna Sekunder. Hasil pencampuran dari  2 warna Primer. Ada berapa macam warna sekunder, dan yang ada hubungannya dengan kode warna Resistor ada 3 warna yaitu : Oranye ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Merah ), Hijau ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Biru ) , dan Ungu ( Hasil pencampuran dari warna Merah dengan Biru ).
    Warna Tersier. Hasil pencampuran salah satu warna Primer dengan salah satu warna Sekunder atau pencampuran dari tiga warna Primer. Warna dari kelompok ini juga bayak, tapi yang termasuk dalam sistem kode warna Resistor hanya ada satu, yaitu warna Coklat ( pencampuran dari warna Merah, Kuning, dan Biru ).
    Warna Netral. Warna penyeimbang, yaitu warna Hitam dan Putih dan hasil pencampuran dari keduanya. Warna Netral sering juga disebut Warna yang tidak berwarna.

Dan satu lagi kelompok warna  yang akan kita gunakan dalam rumus ini, tapi tidak termasuk dalam teori Brewster, yaitu kelompok warna metalik. Kelompok warna metalik terdiri dari Warna Emas, Perak dan  hasil pencampuran 2 warna tersebut dengan warna-warna dari kelompok lainnya.

Jadi berdasarkan kelompok-kelompok warna di atas, dalam rumus ini, kita akan membagi kode warna Resistor menjadi 5 Grup. Seperti berikut ini :

Grup 1 dari kelompok warna primer, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
Grup 2 dari kelompok warna sekunder, yaitu : Warna Oranye, Hijau, dan Ungu.
Grup 3 dari kelompok warna Tersier, yaitu : warna Coklat.
Grup 4 dari kelompok warna, Netral yaitu : Warna Hitam, putih, dan Abu-abu.
Grup 5 dari kelompok warna Metalik, yaitu : Warna Emas dan Perak.

Dengan pembagian Grup seperti ini, kita bisa lebih mudah menghafal kode warna Resistor. Karena setiap grup mempunyai ciri khas.

Grup1 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Genap, kecuali angka 8.
Grup2 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Ganjil, kecuali angka 9.
Grup3 kode warna resistor yang memiliki angka tunggal, yaitu Coklat ( angka 1 ).
Grup4 terdiri dari kode warna Resistor urutan awal ( warna Hitam ) dan 2 kode warna Resistor urutan terakhir ( warna Abu-abu dan Putih ).
Grup5 hanya untuk kode warna toleransi resistor, dan kode warna per kalian desimal yang memiliki angka di bawah nol ( nol koma dan nol koma nol ).

Cara menghafal urutan warna dari masing-masing Grup :

Grup 1. Membayangkan sebuah jarum yang dibakar di atas api lilin. Warna Merah adalah warna ujung jarum yang membara, warna Kuning adalah warna api lilin bagian atas, dan warna Biru warna api lilin bagian bawah. Jadi urutan warnanya dimulai dari atas ke bawah.

Grup 2. Membayangkan sedang mencampur warna-warna yang ada pada Grup1 secara berurutan. Urutan pertama, hasil dari pencampuran warna urutan pertama dan kedua warna Grup1. Urutan kedua, hasil dari pencampuran warna urutan kedua dan ketiga warna Grup1.  warna ketiga, hasil dari pencampuran warna ketiga dan pertama warna grup1.
Rumus nya, 1 Grup2 = 1 + 2 Grup1,  2 Grup2 = 2 + 3 Grup 1,  3 Grup2 = 3 + 1 Grup1.

Grup 3. Tidak perlu membayangkan apa-apa, karena hanya ada satu warna. Yang perlu di ingat adalah Grup ini memiliki jumlah anggota sama dengan angka kode warnanya, yaitu 1.

Grup 4. Mengingat pepatah yang mengatakan  Habis Gelap Terbitlah Terang. Maka urutannya dimulai dari warna yang paling gelap, ke warna yang paling terang.

Grup 5. Membayangkan perbandingan harga benda yang memiliki warna yang sama dengan anggota Grup ini. Urutannya dimulai dari harga yang ter tinggi.


Cara menghitung nilai Resistor

10.01.00 3 Comments
Resistor adalah suatu komponen elektronika yang fungsinya untuk menghambat arus listrik. Resistor yang ada dipasaran memiliki ukuran daya dan nilai resistansi. Nilai daya resistor yang ada dipasaran diantaranya 1/16W, 1/8W, 1/4 W, 1/2W, 1W, 2W, 5W, 10W dan 20W. Sedangkan nilai resistansi suatu resistor dituliskan dengan 2 cara, untuk resistor dengan ukuran fisik besar dan resistor dengan fisik SMD dituliskan dengan kode angka dipermukaan fisiknya. Sedangkan untuk resistor dengan ukuran fisik kecil sering dituliskan dengan kode warna. Kode warna dalam elektronika merupakan salah satu teknik penulisan nilai suatu komponen elektronika dengan warna. Warna-warna yang ada dalam kode warna untuk penulisan resistansi resistor adalah: 

Pada suatu resistor cara penulisan nilai resistansi dengan kode warna ada 3 macam cara penulisan. Yaitu dengan penulisan kode warna 4 ring, 5 ring dan 6 ring warna. Perbedaan cara penulisan nilai resistansi dengan kode warna dalam resistor tersebut memiliki cara pembacaan yang berbeda pula. Berikut cara pembacaan cincin kode warna dalam resistor.




Membaca Kode Warna Resistor 4 Ring Untuk kode warna resistor 4 ring, ring warna ke 1 sampai 2 merupakan angka pertama dan kedua kemudian ring ke 3 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 4 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 5% maka penulisan dengan 4 ring warna adalah : Merah, Merah, Merah dan Emas

Membaca Kode Warna Resistor 5 Ring Untuk kode warna resistor 5 ring, ring warna ke 1 sampai 3 merupakan angka pertama, kedua dan ketiga kemudian ring ke 4 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 5 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 1% maka penulisan dengan 5 ring warna adalah : Merah, Merah, Hitam, Coklat dan Coklat

Membaca Kode Warna Resistor 6 Ring Untuk pembacaan nilai resistansi pada 6 ring warna sama dengan pada 5 ring warna , hanya pada ring warna ke 6 merupakan nilai koefisien suhu dari reistor tersebut. Untuk kode warna resistor 6 ring, ring warna ke 1 sampai 3 merupakan angka pertama, kedua dan ketiga kemudian ring ke 4 merupakan faktor pengali sedangkan ring ke 5 merupakan nilai toleransinya. Sebagai contoh resistor 2,2KOhm 1% 100ppm maka penulisan dengan 6 ring warna adalah : Merah, Merah, Hitam, Coklat, Coklat dan Coklat.


Contoh cara membaca kode warna resistor 4 ring

Warna Coklat = 1
Warna Hitam  = 0
Warna hijau    = 10^5
Warna Emas  = Nilai toleransi 5%
Nilai Resistor = 10 x 10^5
                         =  1,000,000 = 1 mega = 1m
                         = 1m ohm toleransi 5%

Warna Kuning   =  4
Warna Ungu      =  7
Warna Perak     =  x  0,01
Warna Emas      =  Toleransi 5%
Nilai Resistor     =  47 x 0,01
                          = 0,47 ohm toleransi 5%


Cara menghitung rangkaian Seri


RUMUS = RTotal = R1 + R2 + … Rn

RTotal = Resistansi total
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
Rn = Resistor ke-n

Contoh:
Jika terdapat R1 = 10 , R1 = 20 , dan R3 = 100  kemudian dipasangsecara  berderet (seri) maka resistansi totalnya adalah:
RTotal = R1 + R2 + R3
RTotal = 10 + 20 + 100
RTotal = 130 ohm


Cara menghitung rangkaian Paralel


Pada rangkaian paralel, semua resitor dihubungkan sejajar (paralel). Nilai resistansi total pada rangkaian paralel tidak akan melebihi resistansi dari resistor terkecil pada rangkaian tersebut.

RUMUS = 1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 + … 1/Rn

Contoh:
Jika terdapat tiga buah resistor dengan masing-masing nilai R1 = 3 , R2 = 2 , R3 = 6 kemudian dipasang paralel, maka resistansi totalnya adalah sebagai berikut:

1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 +1/R3
1/RTotal = 1/3 + 1/2 + 1/6
1/RTotal = 2/6 + 3/6 + 1/6
1/RTotal = 6/6
RTotal =1/(1/1)
RTotal =1 ohm



Cara Menghitung rangkaian Seri-paralel

Rangkaian resistor seri-paralel adalah gabungan dari rangkaian seri dan rangkaian paralel. Oleh karena itu untuk menghitung resistor pada rangkaian seri-paralel harus dipahami dulu bagaimana resistor-resistor tersebut dihubung. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penghitungan mana yang akan didahulukan. Pada gambar di bawah yang didahulukan adalah menghitung bagian paralel yakni R1 dan Rn (R1//Rn) sedang pada gambar di bawahnya yang didahulukan adalah menghitung bagian seri yakni R1 dan R2 (R1+R2).

Contoh 1:
Jika R1 = 200 , R2 = 50 , dan Rn =50 , maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagai berikut:
RTotal = R1 + (R2//Rn) baca: Resistansi total sama dengan R1 diserikan dengan R2 yang dipalalel dengan Rn. Artinya penghitungan paralel antara R2 dan Rn didahulukan.

RP = R1//Rn  (tanda “//” artinya paralel, jadi gunakan rumus perhitungan resistor paralel)
1/RP = 1/R1 + 1/Rn
1/RP = 1/50 + 1/50
1/RP = 2/50
RP = 50/2 = 25 ohm

Setelah hasil sementara RP diketahui, selanjutnya jumlahkan (diserikan) dengan R1.
RTotal = R1 + (R2//Rn)
RTotal = R1 + RP
RTotal = 200 + 25
RTotal = 225 ohm



Menghitung rangkaian Seri-paralel

 


Contoh 2:
Untuk menghitung resistansi total dari rangkaian seri-paralel di atas, lakukan penghitungan pada rangkaian seri terlebih dahulu yaitu R1 dan R2, selanjutnya diparalelkan dengan Rn. Jika pada gambar di atas R1=50 , R2 = 150 , dan Rn =200 , maka cara menghitung resistor totalnya adalah sebagi berikut:

RTotal = (R1 + R2) // Rn) baca: R1 diserikan dengan R2 kemudian diparalel dengan Rn
RS = R1 + R2
RS = 50 + 150
RS = 200 ohm

Setelah hasil sementara Rs diketahui, selanjutnya paralelkan dengan Rn.
RTotal = (R1 + R2) // Rn
RTotal = RS // Rn
1/RTotal = 1/R1 + 1/Rn
1/RTotal = 1/200 + 1/200
1/RTotal = 2/200
RTotal = 200/2
1/RTotal = 100 ohm


Catatan:
    Untuk menghitung resistansi total, maka satuan setiap resistor yang terhubung harus sama.
    Tanda “+” adalah diseri dan tanda “//” adalah diparalel



di sadur dan di edit dari beberapa sumber
elektronika-dasar.web.id
resistor777.blogspot.com
blog-smkmadu.blogspot.com