Ini sedang saya tulis untuk UbuntuBuzz seperti saya lansir kemarin. Singkat cerita, Fedora Rawhide ini seperti KDE neon tapi untuk GNOME terbaru. Fedora Rawhide terasa stabil sekali saya pakai dan tidak ada masalah. Catatan pribadi saya sementara ini: pakai Wayland berakibat lambatnya performa GNOME di laptop saya. Pakai Xorg lancar.
Jumat, 14 September 2018 – Saya menulis di UbuntuBuzz. Tentu, saya menulis tentang Ubuntu, GNU/Linux, dan Free Software. Ketika GNOME 3.30 dirilis beberapa hari lalu, tepatnya 5 September kemarin, saya sudah berencana mencobanya. Namun karena masih baru dirilis, distro-distro GNU/Linux tentunya tidak langsung menyediakan 3.30 ini. Saya jadi tidak bisa memakainya kalau saya tidak cari distro yang menyediakan 3.30. Sungguh, keputusan KDE Project menyediakan KDE neon itu terasa sangat memudahkan saya menulis tentang KDE Plasma terbaru. Saya harap GNOME Project akan menyediakan yang seperti itu untuk GNOME terbaru.
Saya juga menunggu openSUSE Tumbleweed yang biasanya mendahului distro lain dalam soal ini akan tetapi saat ini Tumbleweed masih menyediakan 3.28. Arch, seperti biasa, sudah 3.30 tetapi tentu saya tidak akan memakainya. Singkat cerita saya bertemu Fedora Rawhide (setara Debian Sid, openSUSE Tumbleweed, dan KDE neon) yang sudah menyediakan 3.30 dalam ISO-nya. Tanpa berpikir jauh saya putuskan unduh Rawhide. Oya, alhamdulillah, sambungan internet saya sudah kembali seperti semula (1MB/s) setelah beberapa bulan 60KB/s. Akhirnya saya bisa kembali menulis review! Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Anda bisa melihat yang saya temukan di alamat-alamat ini:
Karena ajakan Kang Sendy Aditya Suryana (sendz) di #ubuntu-indonesia 23 Agustus 2015 kemarin, saya jadi kembali menerjemahkan. Saya sudah istirahat berbulan-bulan menerjemahkan karena sibuk dengan kerjaan lain. Ajakan Kang sendz justru pengingat buat saya yang lupa. Yang istimewa kali ini adalah yang diterjemahkan. Kali ini, saya kembali ke GNOME. Karena Kang sendz bilang Pak Andika ingin GNOME Indonesia bisa 100%, saya jadi mau menerjemah. Yang menarik buat saya, antarmuka web penerjemahan GNOME sudah berubah total dari beberapa waktu lalu terakhir saya menerjemah. Sementara itu, hal menarik lainnya adalah pranala yang Kang sendz berikan. Yang paling menarik ya tentu penerjemahannya sendiri. Penerjemahan GNOME Indonesia yang sekarang tinggal tersisa sedikit sekali. Skrinsot di bawah. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Alasan saya mencari GNOME 3.14 sampai saya mencari distro bleeding edge yang membawanya hanyalah fitur tab baru di setiap aplikasi yang mendukung multitabbing. Sebenarnya cuma itu. Ya, karena menarik. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Desktop Normal
Multitabbing Baru yang Keren
GNOME Terminal
Nautilus PreferencesGeditNautilusGNOME System Monitor