Bismillahirrahmanirrahim.
Sering kita temukan tulisan yang asalnya dari bahasa lisan. Namun penulisnya terpengaruh dengan bahasa lisan sampai bentuk tulisannya ikut-ikutan kaidah bahasa lisan. Salah satu masalah yang saya angkat, pemakaian koma dalam seruan. Berikut saya berikan contoh-contohnya.
- Selamat berpuasa Gan! seharusnya ditulis Selamat berpuasa, Gan!
- Terima kasih Pak! seharusnya ditulis Terima kasih, Pak!
- Kita belum sahur kan? seharusnya ditulis Kita belum sahur, kan?
- Bapak bukan penulis ya? seharusnya ditulis Bapak bukan penulis, ya?
- Mas belikan baju! seharusnya ditulis Mas, belikan baju!
Kenapa harus ada koma? Karena ini bahasa tulis. Mazhab tulis. Anda berbahasa dengan tulisan, seyogianya Anda mengikuti peraturan dalam bahasa tulis. Ketika Anda berbicara secara lisan, tentu Anda tidak diwajibkan menggunakan koma. Anda menggunakan jeda. Namun jeda di dalam tulisan (dalam kasus ini), tidak tergambarkan, kecuali Anda memberikan koma di dalam tulisan. Jika Anda patuh dengan aturan bahasa lisan (jeda), seyogianya Anda juga patuh dengan aturan bahasa tulis (koma). Jangan jera, tuliskan koma. Semoga tulisan ini bermanfaat.