facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Karya +
    • Cagar Budaya
    • Hunian
    • Usaha
    • Ibadah
    • Sosial Budaya
    • Manajemen Konstruksi
    • nonArsitektur
  • Ungkapan
  • Catatan
  • Tentang Kami

UngKAPAN arsitekku

Banyak candi peninggalan dari kerajaan Hindu-Buddha di masa lalu yang masih bisa kita temukan di Indonesia, yang terbesar dan terlengkap adalah Candi Borobudur (bahasa Jawa: ꦕꦟ꧀ꦝꦶꦧꦫꦧꦸꦝꦸꦂ, translit. Candhi Båråbudhur) yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (world cultural heritage) oleh UNESCO pada tahun 1991.


Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya segaris dan berdekatan dengan dua candi Buddha lainnya, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut.

Sejarah Singkat Candi Borobudur 

Tidak ada keterangan pasti kapan Candi Borobudur didirikan, namun diperkirakan ketika wangsa Sailendra (Syailendra) berkuasa, Dharanindra memulai membangun Borobudur (sekitar tahun 770 M) dan Samaratungga merampungkan Borobudur (tahun 825 M),1 hal itu diperkuat dengan hasil penelitian bentuk huruf Jawa Kuno yang dipakai untuk menulis inskripsi-inskripsi pendek di atas panel relief Karmawibhangga. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Buddha dan tempat ziarah. Tempat ini berisi petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan dan kebijaksanaan menurut Buddha.

Diduga Candi Borobudur mulai ditinggalkan masyarakat akibat tertutup abu vulkanik letusan Gunung Merapi. Dalam perjalanannya Borobudur kemudian sempat terlupakan akibat kondisinya tak hanya tertimbun abu vulkanik saja namun juga sudah dipenuhi dengan pohon dan semak belukar sehingga tidak terlihat bentuk dan rupanya karena berantakan dan terpendam sebagian.

Pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai gubernur jenderal Inggris menerima laporan tentang adanya candi di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Insinyur Belanda H.C. Cornelius pun diperintahkan untuk menelitinya, keadaan Candi Borobudur saat itu sangat memprihatinkan. Penebangan pepohonan dan semak belukar serta pembersihan lapisan tanah yang mengubur candi pun dilakukan, namun karena ancaman longsor pekerjaan tidak dilanjutkan.

Baru pada tahun 1835, seluruh bagian bangunan candi tergali dan terlihat atas perintah Hartmann pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu.


Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detail atas Borobudur diterbitkan, C. Leemans, yang mengompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Foto pertama monumen ini diambil oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.2


Kemudian pada tahun 1885, J.W. Ijzerman menemukan dan membuka dasar candi dan ia mendapati relief yang kemudian dikenal relief Karmawibhangga dengan jumlah panil sebanyak 160 buah.

Pemugaran Candi Borobudur3  

Tahun 1907  Theodoor (Theo) van Erp menggunakan prinsip anastilosis memugar bagian candi yang berbentuk oval di tingkat 7, 8, dan 9 hingga menyusun kembali stupa-stupa, pemugaran selesai pada 1911. Uraian lengkap mengenai Candi Borobudur yang ditulis oleh Theodoor van Erp dan N.J. Krom terbit pada 1927 dan 1931.


Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air, akibat penggunaan beton menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan, selain rusak karena proses alam, sehingga perbaikan lebih lanjut diperlukan. Perbaikan kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. 


Melihat itu, Pemerintah Indonesia pada tahun 1956 mulai menginisiasi pemugaran kedua Candi Borobudur yang didukung oleh beberapa negara yang tergabung dalam UNESCO serta lembaga lain dan masyarakat.

Pemugaran awalnya akan dipimpin oleh Ir. Ars. S. Samingoen4 kemudian digantikan oleh Prof. Dr. R. Soekmono yang dibantu Ir. Rooseno untuk segi konstruksinya. Pemugaran dan rekonstruksi kali ini berlangsung dari tahun 1973-1983 dan pada 23 Februari 1983 diresmikan oleh Presiden Soeharto.



Bangunan Candi Borobudur 

Candi Borobudur berbentuk bujur sangkar dengan ukuran seluruhnya mencapai 123 x 123 meter. Tingginya sekitar 42 meter yang terhitung sampai bagian atas puncak chattra. Tanpa chattra, tinggi Candi Borobudur diperkirakan 31 meter.

Bangunan Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkatan. Enam tingkat di bawah berbentuk bujur sangkar dengan ukuran semakin atas semakin kecil. Tingkat 7-9 berdenah hampir bulat, dan tingkat paling atas berupa stupa besar. Adapun di bagian kakinya dapat ditemukan relief cerita Karmawibhangga.

Secara keseluruhan, Candi Borobudur berbentuk stupa yang memiliki struktur berundak teras. Warisan budaya ini menurut Arkeolog UI, Noehardi Magetsari5, terbuat dari sekitar 55.000 meter kubik batu andesit yang bukan berasal dari kawasan Borobudur. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan putih telur ataupun semen sama sekali, juga tidak dengan cara menggesekkan sesama batu lalu diberi air seperti merekatkan batu bata, melainkan sistem interlock (saling kunci). Jadi, batu dipahat agar bisa memiliki pola saling mengunci. Di masa modern, teknik tersebut dinamai teknik interlock yang mirip permainan puzzle. Lewat sistem ini, orang dahulu memasang satu batu ke batu lain yang sesuai, hingga terkunci. Susunan tektonika seperti ini berfungsi pula untuk mengantisipasi gempa. Tektonika dalam arsitektur merupakan kreasi yang mengupayakan struktur dan konstruksi bangunan tidak hanya berperan untuk kekokohan bangunan saja namun lebih dari itu bagaimana mengekspresikan keindahan yang terkandung didalamnya.6

tektonika candi borobudur | @gwa.22.06.20227

Susunan batu andesit yang disambung kuat, disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, dengan teknik pasak, ada yang menyebutnya  "ekor merpati", "ekor burung layang-layang", atau"kupu-kupu"  yang mengunci balok-blok batu. Sepertinya hal itu diinspirasikan oleh tektonika arsitektur rumah mereka yang terbuat dari kayu. Setelah struktur bangunan dan dinding rampung barulah semua relief dibuat di lokasi.

Borobudur dibangun dengan gaya Mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Struktur bangunan ini berbentuk kotak dengan empat pintu masuk dan titik pusat berbentuk lingkaran. Jika dilihat dari luar hingga ke dalam terbagi menjadi dua bagian yaitu alam dunia yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar, dan alam Nirwana di bagian pusat.


Menurut W.F. Stutterheim, tingkatan Candi Borobudur dapat dibagi menjadi tiga sebagaimana konsep dhatu, yaitu tahapan yang harus dilalui untuk mencapai ke-Buddha-an.8

Ketiga pembagian tingkatan Candi Borobudur, yakni:
  1. Kamadhatu
    Kamadhatu merupakan bagian tingkat pertama atau kaki Candi Borobudur yang berhiaskan relief Karmawibhangga. Alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang.
    Kamadhatu terdiri dari 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, yaitu hukum sebab akibat. Menggambarkan mengenai sifat dan nafsu manusia, seperti merampok, membunuh, memperkosa, penyiksaan, dan fitnah.
    Tudung penutup pada bagian dasar telah dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief yang tersembunyi di bagian bawah. Koleksi foto seluruh 160 foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur yang terdapat di Borobudur Archaeological Park.
  2. Rupadhatu
    Rupadhatu adalah bagian tingkat kedua hingga keenam dari candi. Di tingkatan ini dapat ditemui relief Lalitavistara, Jataka, Awadana, Gandavyuha, dan Bhadracari. Merupakan alam peralihan, di mana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia. 
    Rapadhatu
    terdiri dari galeri ukiran relief batu dan patung Buddha. Secara keseluruhan ada 328 patung Buddha yang juga memiliki hiasan relief pada ukirannya.
    Menurut manuskrip Sanskerta pada bagian ini terdiri dari 1300 relief yang berupa Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Seluruhnya membentang sejauh 2,5 km dengan 1212 panel. 
  3. Arupadhatu
    Arupadhatu merupakan bagian tingkat ketujuh hingga kesepuluh dari Candi Borobudur. Relief tidak ditemukan di tingkatan ini, melainkan terdapat banyak stupa yang menggambarkan pencapaian sempurna umat manusia. Alam tertinggi, rumah Tuhan. 
    Tiga serambi berbentuk lingkaran mengarah ke kubah di bagian pusat atau stupa yang menggambarkan kebangkitan dari dunia. Pada bagian ini tidak ada ornamen maupun hiasan, yang berarti menggambarkan kemurnian tertinggi.
    Serambi pada bagian ini terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng terbalik, berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdapat 72 stupa secara keseluruhan. Stupa terbesar yang berada di tengah tidak setinggi versi aslinya yang memiliki tinggi 42 m di atas tanah dengan diameter 9.9 m. Berbeda dengan stupa yang mengelilinginya, stupa pusat kosong dan menimbulkan perdebatan bahwa sebenarnya terdapat isi namun juga ada yang berpendapat bahwa stupa tersebut memang kosong.

Arca dan Relief 

Selain wujud Buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca Buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. 


Arca Buddha terdapat dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa. Secara keseluruhan terdapat 504 arca Buddha dengan sikap meditasi dan posisi tangan yang berbeda di sepanjang candi.

Pada dinding candi di setiap tingkatan—kecuali pada teras-teras Arupadhatu—dipahatkan relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief Borobudur menampilkan banyak gambar, seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan, dan margasatwa, serta alat transportasi, seperti kapal bercadik. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno.


Relief-relief dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.


Astronomi9

Ilmu astronomi juga digunakan dalam membangun Candi Borobudur, stupa utama Borobudur adalah alat penanda waktu atau musim (gnomon) yang memanfaatkan bayangan sinar matahari. Bahkan jumlah stupa di Candi Borobudur pun melambangkan ilmu astronomi, jumlah stupa Candi Borobudur sebanyak 4x365, ditambah satu stupa paling atas (di puncak). Jumlah tersebut mewakili jumlah hari dalam satu tahun (365 hari), dan satu hari penambahan di setiap empat tahun sekali (tahun kabisat). Jadi masyarakat saat itu telah memahami langit dan gerak benda langit karena Candi Borobudur sarat dengan aspek astronomi. Candi Borobudur dapat menunjukkan arah Timur-Barat secara tepat. 

Menurut Endang Soegiartini, dosen astronomi ITB, "Kalau kita berdiri di atas puncak stupa lalu melihat ke arah pintu timur pada 21 Maret dan 21 September, kita melihat matahari muncul melewati pintu itu. Di luar (tanggal) itu  matahari tergeser sedikit ke arah utara atau selatan. Sampai akhirnya bergeser 23,5 derajat ke utara atau selatan. Itu kalau dari khatulistiwa. Kemudian posisi Borobudur itu kan 7 derajat Lintang Selatan. Itu dikoreksi dengan letak stupa-stupa itu."


Etnomatematika10
Sejak 1 dekade terakhir, para ilmuwan modern meneliti Candi Borobudur lewat pendekatan ilmu yang disebut dengan Etnomatematika. Etnomatematika adalah matematika yang tumbuh dan berkembang dari suatu budaya dan kelompok etnis tertentu.

Dari situ, para ilmuwan bersepakat kalau Candi Borobudur adalah bangunan dengan rumus Geometri Fraktal. Ini adalah cabang matematika mengenai bentuk yang memiliki pola berulang dengan detail tak terhingga yang dihasilkan dari pola rekursif. Karena dibangun dengan Ilmu Matematika Modern dan oleh peneliti Bandung Fe Institute, Rolan MD, dikatakan Candi Borobudur bersifat fraktal. Ini adalah sebuah struktur geometri kontemporer yang baru dikenal pada dekade 80-an di ilmu matematika modern.

Ilmu matematika canggih ini seperti menjadi rahasia Candi Borobudur yang baru terungkap di zaman modern. Penelitian geometri fraktal di Candi Borobudur menghasilkan ratusan paper ilmiah. Penelitian tersebut berlangsung sejak 2008 hingga 2011. Dari penelitian itu diketahui bahwa candi-candi di Pulau Jawa dibangun secara algoritmik atau seperti proses pembuatan program komputer, dengan mengikuti prosedur otomata selular totalistik.

Jumlah stupa Borobudur memakai rumus 2:3:4. Tinggi dan diameter stupa memakai rumus 1,7:1,8:1,9. Sedangkan kaki candi, badan candi, dan kepala/puncak candi memakai rasio 4:6:9.

9 sebagai angka penting dalam spiritualisme Buddha diaplikasikan dalam pola arca dan anak tangga. Misalnya, total ada 504 arca di mana 5+0+4=9. Lalu total anak tangga ada 360 di mana 3+6+0=9.

Konsep matematika terakhir adalah teselasi atau penyusunan berlapis oleh suatu bentuk poligon. Setiap stupa Candi Borobudur disusun dari 36 kubus berukuran 15x15 cm. Total luas permukaan kubus adalah 36 x (15x15) = 8.100 cm2 yang jika semua angkanya dijumlahkan 8+1+0+0=9.

Ilmuwan pun yakin Candi Borobudur adalah produk etnomatematika. Angka-angka yang muncul dalam ajaran dan filosofi Buddha hadir dalam elemen-elemen bangunan Candi Borobudur mengikuti pola geometri fraktal. Dan sekaligus menjadi bukti kehebatan nenek moyang Bangsa Indonesia dahulu kala.


Cymatic

Cymatics adalah bidang penelitian yang menggabungkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mengeksplorasi hubungan antara gelombang suara dan materi fisik. Dalam cymatics, gelombang suara digunakan untuk mempengaruhi berbagai media seperti air, pasir, dan logam, menciptakan pola-pola yang menakjubkan dan kompleks. Proses ini tidak hanya menghasilkan visual yang indah tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang sifat-sifat gelombang suara dan bagaimana mereka berinteraksi dengan materi.11 


“Pola cymatic terbesar yang pernah dibuat adalah sebuah candi, yakni Borobudur, di Indonesia. Candi ini sangat aneh, karena sangat geometris, kecuali untuk lingkaran di tengah candi. Mereka seperti tidak sempurna dari geometri lainnya. Simulasi pola cladney menunjukkan, jika Anda meletakkan pasir di atas piring dan memainkan suara melaluinya, itu membuat bentuk geometris, tetapi jika Anda membekukan simulasi di frekuensi 3457 Hz, ya itu sempurna. Mereka bukan lingkaran sempurna, penyebab frekuensi, masing-masing stupa adalah titik fokus untuk frekuensi, itu mengapa lingkaran (terlihat) tidak sempurna, kecuali yang sentral. Pusat orbit sendiri adalah stupa raksasa, tidak ada yang ada di dalamnya, kuil yang tidak bisa Anda masuki di sana, tidak ada kamar yang dibangun di atas gundukan. Seharusnya cukup jelas sekarang yang digunakan untuk memfokuskan sesuatu dan inilah seberapa dalam pengetahuan Buddhis benar-benar berjalan,” demikian diungkapkan.12 


Flora dan Fauna13

Candi Borobudur merupakan obyek penting dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk kajian keanekaragaman hayati. Candi ini memiliki lebih dari 1.460 relief yang menceritakan banyak hal, seperti Karmawibhangga dan Lalitavistara. Terkait flora dan fauna, lebih dari 80 spesies tumbuhan dan fauna telah teridentifikasi dari kedua narasi cerita tersebut dengan makna kemunculan yang belum banyak diketahui dalam cerita tersebut.

Apakah relief-relief tersebut hanya dekoratif atau memiliki makna simbolis belum sepenuhnya terpecahkan sejak penelitian dimulai pada tahun 1920-an.

Salah satu publikasi terbaru, Queering Tropical Heritage: Flora and Fauna Reliefs in Karmawibhangga Borobudur Temple, Indonesia, merupakan sebuah penemuan baru cara pandang kesetaraan antara anthropocentris, flora, fauna, dan benda-benda post human lainnya tidak hanya prinsip hukum karma yang diperlihatkan, tetapi juga dapat digunakan dalam pengelolaan alam sekaligus indikator penting ekologi.

Menurut Ibnu Maryanto, Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur merupakan catatan komprehensif yang mencakup dimensi seni, budaya, dan kemasyarakatan masyarakat Jawa Kuno. Relief ini tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga sebagai sarana penyampaian ajaran penting, khususnya tentang konsep dasar Panca Skanda sebuah ajaran penting dalam umat Buddha. Dalam relief tersebut, digambarkan bagaimana tindakan manusia berinteraksi dengan lingkungan, serta konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.

Relief Karmawibhangga, yang memiliki 160 panel, menggambarkan perjalanan manusia dari lahir hingga kematian melalui hukum sebab-akibat (karma). Penggambaran flora dan fauna di relief ini menunjukkan detail yang sangat akurat, memberikan wawasan tentang kekayaan alam yang diabadikan oleh pemahat. Identifikasi tumbuhan dan hewan yang diukir membantu memahami makna di balik relief tersebut.


Salah satu kesulitan dalam kajian ini yaitu ketika mengambil kesimpulan dalam identifikasi flora dan fauna, ternyata pemahat sengaja membuatnya bentuk struktur morfologi flora dan fauna baru bisa teridentifikasi jika dilihat dari sudut pandang ke atas, ke bawah dan depan. Semua hasil identifikasi dan cara pandang untuk mengidentifikasinya kesemuanya memiliki makna yang berbeda-beda dan penuh arti.  

Selanjutnya dikatakan juga bahwa jenis flora dan fauna disingkapkan di posisi kanan, tengah dan kiri ternyata memberikan makna penting dalam menarasikan cerita. Sebagai contoh kehadiran fauna di setiap panel menunjukkan waktu (pagi, siang, sore, malam) dan lokasi kejadian, serta melambangkan nilai sosial budaya tertentu. Flora, di sisi lain, melambangkan kehidupan manusia dan menggambarkan keanekaragaman tumbuhan yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa Kuno.

“Sebenarnya Borobudur adalah sebuah “BOOK STONE UNIVERSITY”, kajian filsafat ilmu kehidupan terbahaskan di rangkaian panel-panel dan stupa mulai dari bawah hingga ke puncak,” ungkap Ibnu Maryanto.


Arsitek Candi Borobudur

Gunadharma adalah nama yang dikenal dalam legenda Jawa sebagai arsitek Candi Borobudur, ada sumber yang mengatakan bahwa ia berasal dari Karnataka, India Selatan, ada juga yang bilang dari Afrika, dan bukan tidak mungkin dia putra asli Nusantara.

Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh. Namun mengingat budaya yang diturunkan nenek moyang kita itu bukan tulis-menulis tetapi dengan cara bertutur, bisa melalui cerita, kidung, dan sebagainya, sepertinya dongeng atau legenda bahwa Gunadharma adalah arsitek Candi Borobudur bisa dipercaya kebenarannya, sedangkan mengenai perbukitan Menoreh, bisa jadi dia memang sempat menetap atau dimakamkan di sana, bahwa cerita dia menjadi jajaran bukit itu bisa saja hanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Mungkin dengan berjalannya waktu, nanti akan terungkap kebenarannya. 

Pastinya Candi Borobudur yang mencapai luas 15.000-an meter persegi, dibangun tanpa bantuan kecanggihan teknologi masa kini. Candi ini menyimpan banyak rahasia, salah satunya adalah ilmu matematika tingkat tinggi, sebagaimana telah diungkap di atas.

Ada yang berpendapat bahwa keahliannya diajarkan oleh arsitek candi dari India, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya, bahwa keahlian itu sepenuhnya hasil pemikiran arsitek candi dari Indonesia. 

Arsitek dan arsitektur kita mengalami kemunduran jauh, menurut Dwi Gawan IHB, IAI, “(arsitek kita sekarang) lebih mengikuti perkembangan arsitek dan arsitektur luar negeri, tidak salah, hanya Teknologi Arsitektur yang sudah dibuat lama di Indonesia malah terpinggirkan dan terlupakan. Jepang dan Cina selalu menghargai dan mengembangkan teknologi arsitektur lama menjadi teknologi terbarukan dan sekarang dipakai di banyak proyek besar mereka.”14 

Sementara menurut Ar. Budi A. Sukada, IAI, “Penyebab kita jadi mundur adalah tergila-gila pada eksplorasi bentuk dan wujud saja.  Semua hakikat di balik perwujudan dan pembentukan tersebut dengan sadar dikesampingkan karena dianggap dapat dipercayakan kepada insinyur sipil.”15 

Dewasa ini, keinginan mempelajari dan menggali arsitektur kita kian marak di bumi pertiwi ini, paling tidak ini bisa menjadi modal dasar bagi generasi selanjutnya agar arsitektur nenek moyang kita bisa dikembangkan lebih jauh mengikuti perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan roh atau jiwa aslinya. Mudah-mudahan arsitek (dan tur) kita bisa seperti nasib pemusik tanah air yang sudah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Semoga!

| Jakarta, 27 Februari 2025 | samidirijono |
 (Disarikan dari berbagai sumber.)

____
Februari 27, 2025 No Post a Comment

Tulisan ini diangkat dari penjelasan atas permintaan seorang kawan, arsitek senior, tentang penyelenggaraan Seminar Seks dan Arsitektur, yang kutipan permintaannya begini "tolong diterangin dikit donk maksud temanya tuh, ntar udah pada 'hot' dateng eeh kagak ade ape2nya..."

Ah pura-pura tidak tahu atau cuma mau ngetes doang nih? Karena yang namanya arsitek itu pasti paham tentang arsitektur dan paham akan seks kan he.he.he...

Nah berikut ini adalah gambaran singkat tentang maksud seminar Seks dan Arsitektur itu. Yang diharapkan dari seminar ini, ada atau tidak ada hubungan keduanya--antara seks dan arsitektur.

Contoh, Marilyn Monroe yang hot itu dalam salah satu peran di film The Seven Year Itch di tahun 1954 kan ada adegan yang mengibar-kibarkan roknya tepat di atas tempat (lubang) yang terdapat angin kencang yang berhembus ke atas. Michael Jackson juga dalam salah satu aksi panggungnya bermain-main dengan angin yang dihembuskan dari bawah. Michael laki-laki, Marilyn perempuan, meski beda kelamin tapi sama-sama suka adegan itu. Lantas apa hubungannya dengan angin ya?

Dulu sewaktu kuliah di arsitektur dikenal istilah angin arsitektur, yaitu angin yang bisa berkelok-kelok terserah bagaimana tangan ini mulai menggoreskan pensil atau tinta di denah atau potongan bangunan yang sedang dirancang, di mana angin itu bisa berkelok-kelok lantas keluar di tempat yang diinginkan. Padalah kenyataannya sih boro-boro, yang kebanyakan terjadi justru di tempat itu mati angin!

Nah Marilyn dan Michael merupakan dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda tapi keduanya suka dengan adegan angin. Efek yang dihasilkan oleh angin tadi berbeda untuk pria dan wanita itu. Sang wanita terkesan malu dan berusaha menutupi roknya yang berkibar terkena hembusan angin, sementara sang pria justru menjadikan hembusan angin itu untuk menampilkan kesan keperkasaannya. Dari segi arsitektur, perancang harus pandai menempatkan arah hembusan angin agar tidak vulgar, untuk menampilkan kedua kesan yang bertolak belakang tadi. Itulah gambaran dari seks dan arsitektur.

Contoh lain, kalau kita melihat Tugu Monas (Monumen Nasional) banyak yang berpendapat itu maskulin karena menampilkan kejantanan pria (lingga). Tapi apa betul itu hanya melambangkan maskulin? Kalau kita mau memperhatikan dengan perasaan yang lebih mendalam, Monas itu melambangkan puncak hubungan cinta kasih antara pria dan wanita (suami-istri) secara timbal-balik. Tidak percaya?

Coba perhatikan dan amati baik-baik Tugu Monas. Kalau dari sudut seksologi itu melambangkan posisi pria di bawah dan wanita di atas. Belum percaya juga? Lihat gambar, bayangkan dalam pikiran Anda di sana bentuk penis (lingga) yang menembus vagina (yoni). Jadi Monas itu bukan lambang kejantanan semata, tapi lebih tepat sebagai lambang cinta kasih yang harus dibangun di negeri ini. Cuma sayang rakyatnya belum sadar, sehingga masih pada berkelahi melulu.

Itu penjelasan versi pribadi, kalau mau tahu penjelasan yang lebih jelas silahkan baca di leaflet, sedangkan kalau mau tahu detailnya ya kudu datang ke seminar Seks dan Arsitektur tanggal 25-26 Maret 2010 di Kampus Universitas Tarumanagara, he.he.he....

| 11 Maret 2010 | samidirijono | arsitek |

 

  • Sumber tulisan adalah e-mail kepada Firdauzy Noor tanggal 10 Maret 2010.
  • Sumber foto dari internet dan koleksi pribadi.

 

sumber: http://balaijumpa.blogspot.com/2010/03/seks-dan-arsitektur.html

 

Maret 13, 2010 No Post a Comment

Saat ini bila Anda melewati kompleks istana akan terasa ada perbedaan nuansa yang terjadi di sana. Kompleks istana kini telah dikelilingi oleh pagar besi yang menjulang tinggi, tidak seperti dahulu di mana kita masih bisa merasakan kehangatan bila melintas di sekitar kompleks istana. Kini dengan ketinggian pagarnya yang mencapai lebih dari 2 kali lipat tinggi semula maka bila kita melihat ke arah istana akan tampak sederetan jeruji besi bak sebuah penjara. Sedangkan para narapidana yang ada dibalik jeruji besi itu tidak lain adalah bangunan-bangunan gedung di kompleks itu beserta orang-orang yang berada di dalamnya.

Istana saat ini memang berbeda dengan ketika di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, era di mana masyarakat kecil dapat masuk istana dengan lebih bebas walau hanya bersarung dan bersendal jepit. Di masa itu istana memang milik rakyat, rakyat bisa merasa memiliki istana yang bersahabat dengan mereka. Era sebelumnya, yakni di masa orde baru tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana dan di era sesudahnya aturan-aturan protokoler istana pun secara perlahan tapi pasti mulai diperketat kembali, tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi, dari hal kecil seperti jenis sepatu hingga celana pun menjadi persyaratan bila kita ingin bertemu dengan presiden maupun wakil presiden.

Masih tergambar dalam ingatan kita, sejak peristiwa penuh aib di bulan Mei tahun 1998 maka lingkungan arsitektur kita pun mengalami perubahan, kekerasan demi kekerasan berdampak secara langsung maupun tak langsung pada bangunan di sekitar kita. Dengan alasan prioritas keamanan maka bangunan pun berpagar tinggi. Bangunan negara pun berturut-turut dari Monumen Nasional (Monas), Bank Indonesia, gedung wakil rakyat (DPR/MPR), gedung Kejaksaan Agung, Masjid Istiqlal, hingga yang terakhir ini istana kepresidenan pun tak luput dipagari dengan pagar tinggi.

Dengan ketinggian pagar yang jauh melebihi tinggi manusia itu tentunya menimbulkan tanya pada masyarakat. Ada apa dengan negeriku? Semakin tak amankah negeriku kini, hingga gedung-gedung negara sampai istananya harus dipagari setinggi itu?

Tidak adakah aturan yang mengatur batas wajar ketinggian pagar? Bila aturan itu ada, kenapa hal ini bisa terjadi? Apalagi ini pun terjadi di gedung-gedung negara, yang membuat seakan-akan pelanggar aturan dikomandani oleh gedung-gedung negara.

Pertanyaan lain, di manakah hak-hak publik untuk melihat dan menikmati kotanya bila ruang-ruang publik telah dipenuhi oleh pagar-pagar yang menjulang tinggi?
| 22 Januari 2010 | samidirijono | arsitek |
(foto diambil dari koleksi pribadi dan berbagai sumber)

sumber: http://balaijumpa.blogspot.com/2010/01/kompleks-istana-semakin-tak-ramah.html
Februari 14, 2010 No Post a Comment

Prinsip-prinsip dalam feng shui bukanlah mistik atau klenik. Jika dilakukan penelitian, maka akan ada bukti ilmiah yang memperkuat perhitungan tersebut.

Cina adalah bangsa yang sangat kaya akan khasanah seni dan budaya yang bernilai tinggi. Berbagai karya seni yang mengagumkan diciptakan oleh bangsa Cina jauh sebelum abad Masehi (SM).

Budaya Cina sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran Taoism dan Confucianism. Pada tahun 2000 hingga 1000 SM, bangsa Cina kuno sudah mengenal dunia kedokteran, ilmu ekonomi, ketatanegaraan, budaya, dan teknologi lainnya. Salah satu yang berkembang hingga saat ini adalah metodologi peramalan dan analisa tata letak ruang yang dikenal dengan nama Feng Shui.

Saat ini feng shui sudah perkembang hingga ke berbagai penjuru dunia. Bahkan, dunia Barat sudah mulai memasukan pertimbangan feng shui dalam rencana penataan ruangan yang dibuat.

Di Indonesia sendiri saat ini banyak arsitek yang mulai mempelajari dan menggunakan feng shui dalam rencana dan pembuatan desain rumah dan bangunan. Bahkan, beberapa program studi arsitektur di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta sudah memasukkan feng shui sebagai salah satu mata kuliah yang diajarkan.

Menurut pakar feng shui, Budiyono Tantrayoga, kata feng shui berasal dari gabungan kata 'feng' yang berarti angin (arah) dan 'shui' yang berarti air (tempat). Konsep dasar analisa feng shui adalah penentuan lahan, kombinasi sembilan istana delapan rumah, dan pergerakan bintang terbang. Logika sederhana feng shui adalah jika kita bisa berinteraksi serasi dan selaras dengan alam, maka kita akan mendapatkan suasana yang menguntungkan yang pada akhirnya akan mendatangkan banyak berkah/pengaruh keberuntungan dalam hidup.

''Tapi jika kita merusak dan menentang alam, maka kita akan menerima pengaruh yang merugikan, yang pada akhirnya akan mendatangkan banyak masalah atau problem dalam hidup kita,'' ujar Budiyono kepada Republika.

 

Dua sektor rumah

Perhitungan feng shui banyak digunakan dalam perencanaan dan penataan ruang. Ahli masalah Tao, Albert Hendra Wijaya, dalam situs Indonesia siutao, menyatakan dewasa ini feng shui rumah/bangunan memang terlihat lebih menarik dan lebih umum diminati orang. Ini mungkin karena feng shui rumah dirasakan lebih kuat pengaruhnya dalam menunjang kehidupan seseorang sebab penerapannya lebih nyata dalam mempengaruhi pola kehidupan.

Menurutnya, membuat rencana tata letak/ruang yang baik dalam feng shui rumah/bangunan harus memperhatikan beberapa hal. Yaitu pencahayaan, sirkulasi udara, keindahan, aspek keamanan, kebersihan, kenyamanan, dan warna (masalah psikologi). Selain itu, arah, bentuk dan lokasi tanah serta rumah/bangunan itu haruslah baik dan sesuai fungsinya.

''Dalam feng shui rumah juga dikenal berbagai benda/bentuk tertentu yang sering digunakan sebagai atribut pelengkap sebuah rumah. Misalnya kaca, cermin cekung atau cembung, dan sebagainya,'' ujarnya.

Sedangkan menurut Budiyono, berdasarkan prinsip-prinsip feng shui, untuk membangun sebuah rumah atau bangunan lahannya harus bagus. Lahan yang bagus adalah yang memberikan keuntungan serta memiliki energi tumbuh. Misalnya, lahan yang terletak di bagian dalam sebuah tikungan jalan. Soal posisi menghadap ke arah mana itu tergantung masing-masing individu. Sebab tiap orang berbeda tingkat kecocokan arahnya. ''Jadi, menghadap utara, selatan, timur, atau barat itu sifatnya individual. Itu tergantung dari hitung-hitungan unsur alam yang bersangkutan,'' jelasnya.

Alumnus Akademi Akuntansi YAI ini menuturkan, penataan ruangan dalam rumah haruslah menguntungkan penghuninya. Misalnya letak dapur dan kamar mandi harus disesuaikan dengan kondisi perhitungan elemen penghuninya. Artinya, jika tidak serasi, maka bisa tidak menguntungkan.

Dalam setiap rumah, terbagi atas dua sektor, yaitu sektor tumbuh dan mati. Sektor tumbuh bisa digunakan untuk ruang makan dan ruang kerja. Sedangkan sektor mati cocok digunakan untuk kamar mandi, dan gudang.

''Yang tahu persis perhitungan sektor tumbuh dan sektor mati adalah ahli feng shui. Sebab memang ada perhitungannya,'' ungkap Budiyono.

 

Bukan mistik

Apakah perhitungan feng shui itu mistik ? Menurut seorang arsitek, Samidirijono, prinsip-prinsip dalam feng shui bukanlah mistik atau klenik. Jika dilakukan penelitian, maka akan ada bukti ilmiah yang memperkuat perhitungan tersebut.

Selain feng shui dari Cina, di Indonesia juga terdapat beberapa perhitungan tradisional. Misalnya, perhitungan di Jawa dan Kosala-Kosali di Bali. Sayang, selama ini tidak pernah ada penelitian untuk membuktikan sisi ilmiahnya.

''Selama ini nenek moyang kita kan hanya mengatakan ini boleh dan itu tidak boleh. Tapi mereka tidak pernah menyatakan kenapa. Harusnya inilah yang kita teliti dan kaji,'' ujar Sami, panggilan akrabnya, kepada Republika.

Prinsip feng shui, kata Sami, sesuai dengan prinsip-prinsip arsitektur bangunan. Yang terpenting dalam penataan ruang adalah kenyamanan penghuninya. Ini adalah prinsip arsitektur. Misalnya, ruang yang tidak panas, sirkulasi udara lancar supaya rumah tidak mati angin dan lebih nyaman.

Dalam feng shui dipelajari tentang air dan arah angin. Ilmu arsitektur juga mempelajari tentang arah angin. ''Jadi, keduanya punya prinsip yang sama, yaitu untuk kenyamanan penghuninya. Dan sekarang memang banyak arsitek yang menerapkan prinsip feng shui dalam penataan ruang. Bahkan, di beberapa program studi arsitektur sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, feng shui sudah dijadikan salah satu mata kuliah,'' jelas Sami.

 

Sumber: http://qalbdesign.blogspot.com/2008/07/feng-shui-cara-penataan-rumah-prinsip.html

Mei 18, 2009 No Post a Comment
Older Posts

inFormasi

  • job vacancies
    Project Finance Specialist
    3 bulan yang lalu
  • info LOKER ++
    Branch Supervisor
    3 bulan yang lalu
  • info KEGIATAN
    🖼 pendidikan calon pegawai asisten manager
    7 bulan yang lalu

HOT BULAN INI

  • Sejarah KEBAYORAN BARU
  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Candi Borobudur

Populer

  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Pejaten Raya dan Pejalan Kaki
  • Nyaman di Kamar Mandi

terAnyar

perTinggal

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  April (1)
      • Penggunaan Kayu untuk Bangunan, Salahkah?
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2010 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (5)
  • ►  2009 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Mei (9)

ruang Baca

  • mariWARAS
    Energi-Frekuensi-Getaran: Rahasia Penyembuhan Masa Depan
    2 bulan yang lalu
  • camKan
    Tan Malaka Pejuang yang Terlupakan?
    3 bulan yang lalu
  • pos Ngakak
    Gereja vs Bar
    6 bulan yang lalu
  • catatan sami
    Siapa Tak Kenal Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye?
    9 bulan yang lalu
  • tawaSESAaT
    Tarif PLN Naik Per 1 Januari
    2 tahun yang lalu
Perlihatkan 1 Perlihatkan Semua

About me

foto
a r s i t e k   s a m i
di sini tempat kita berbagi dan diskusi seputar hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur ... selengkapnya tentang kami
arsitektur bencana elemen infrastruktur interior lingkung bina material panduan pedestrian penghargaan peraturan ruang publik sejarah sirkulasi udara tata letak transportasi

Created with by ThemeXpose