Agar Ziarah Kubur Tidak Mengandung Murka

Download:
Download PDF atau Download PDFatau Download PDF

Aqidah Imam Qutaibah bin Sa’id

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah, setelah kita posting biografi imam Qutaibah bin Sa’id, sekarang kita posting Aqidah beliau, sebagaimana Aqidah para Imam Ahlus Sunnah lainnya demikian pulalah aqidah beliau.

A. Penulis
Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif Ats-Tsaqafi, al Balkhi, al Baghlani. Dilahirkan di tahun 149 H. Qutaibah adalah guru dari para tokoh-tokoh terkenal, penyusun kutubus sittah [yakni Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah], enam kitab induk hadits yang merupakan referensi utama kaum muslimin, merupakan murid-murid beliau, kecuali Ibnu Majah. Selain mereka itu Imam Ahmad bin Hanbali adalah muridnya, muridnya yang lain seperti Nu’aim bin Hammad, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Yahya bin Ma’in, al Hasan bin Arafah, Ibrahim bin al Harbi, Abu Zur’ah, Ja’far al Firyabi, al Hasan bin Sufyan, Musa bin Harun, Abul Abbas as Sarraj dan yang lainnya.

B. Download eBook (untuk download klik gambar jenis filenya)

  1. Biografi Imam Qutaibah bin Sa’id Download PDF mirror Download PDFatau Download Word,
  2. Aqidah Imam Qutaibah bin Sa’id Download PDF mirror Download PDF.

C. Versi baca online sebagai berikut:

قال الإِمَام أُبُو أَحْـمْد الحَاكِم:

Imam Abu Ahmad al-Hakim berkata [dalam Kitab Syi’ar Ash-habul Hadits]:

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا رَجَاء قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ قَالَ:

Saya mendengar Muhammad bin Ishaq ats-Tsaqafy berkata: Saya mendengar Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id berkata:

هَذَا قَوْلُ الْأَئِمَّةِ الْمَأْخُوْذِ فِي الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ:

Ini adalah Ucapan para Imam yang dipegang dalam Islam dan Sunnah:

الرِّضَا بِقَضَاءِ اللّٰهِ وَالِاسْتَسْلَامُ لَأَمْرِهِ، وَالصَّبْرَ عَلَى حُكْمِهِ،

Ridha kepada ketentuan Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya serta bersabar kepada hukum-Nya,

وَالْإِيْمَانُ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ،

Dan beriman kepada takdir baik dan yang buruk,

وَالْأَخْذُ بِمَا أَمَرَ اللّٰهُ وَالنَّهْيُ عَمَا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ،

Melaksanakan segala hal yang Allah perintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang Allah larang,

وَإِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلّٰهِ،

Dan mengikhlaskan amalan untuk Allah,

وَتَرْكُ الْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ وَالْخُصُوْمَاتِ فِي الدِّيْنِ،

Dan meninggalkan jidal (perdebatan), mira’ (pertengkaran), dan khusumat (perselisihan) dalam agama,

وَالْمَسْحُ عَلَى الْخَفَّيْنِ،

Dan Mengusap di atas kedua sepatu (khuff),

وَالْجِهَادُ مَعَ كُلِّ خَلِيْفَةٍ، جِهَادُ الْكُفَّارِ، لَكَ جِهَادُهُ وعَلْيْهِ شَرَّهُ،

Dan berjihad bersama khalifah, yaitu jihad terhadap orang-orang kafir. Untuk engkau (pahala) jihadnya, sedangkan kejelekan (dosa) bagi mereka,

وَالْجَمَاعَةُ مَع َكُلِّ بَرٍ وَفَاجِرٍ – يَعْنِي الْجُمُعَةُ وِالْعِيْدَيْنِ،

Dan berjama’ah bersama setiap pemimpin yang baik dan fajir, yaitu (dalam shalat) Jum’at dan dua ‘Id,

وَالصَّلَاةُ عَلَى مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ سَنَةٌ،

Dan menshalati siapa saja di antara ahli kiblat (muslim yang mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat) yang meninggal adalah sunnah,

والْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، الْإِيْمَانُ يَتَفَاضَلُ،

Dan Iman adalah ucapan dan amalan, juga iman itu ber-jenjang,

وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللّٰهِ،

Dan Al-Qur’an adalah kalam Allah,

وَأَنْ لَا نُنْزِلَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ جَنَّةَ وَلَا نَارًا، وَلَا نَقْطَعُ الشَّهَادَةَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ التَوْحِيْدِ، وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا بِذَنْبٍ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةَ وَإِنْ عَمِلَ بِالْكَبَائِرِ،

Dan kami tidak memastikan surga dan neraka untuk siapa saja di antara ahli kiblat. Dan kami tidak pula memastikan kesyahidan (mati syahid) untuk seseorang pun dari ahli tauhid, dan kami tidak mengkafirkan seorangpun lantaran dosa, kecuali (dosa) meninggalkan shalat, meskipun dia melakukan dosa-dosa besar.

وَأَنْ لَا نَخْرُجَ عَلَى الْأُمَرَاءِ بِالسَّيْفِ وَإِنْ حَارَبُوا، وَنَتَبَرَّأُ مِنْ كُلٍّ يَرَى السَّيْفِ عَلَى الْمُسْلِميْنَ كَائِنًا مَنْ كَانَ،

Dan kami tidak melakukan khuruj [kudeta, pembangkangan] dengan pedang terhadap umara, walaupun mereka memerangi (kami). Kami berlepas diri dari siapa saja yang memandang (pembolehan mengangkat) pedang terhadap kaum muslimin, siapapun orang tersebut,

وَأَفْضَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ،

Dan sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, selanjutnya Utsman,

وَالْكَفُّ عَنْ مَسَاوَئِ أَصْحَابِ مُحَمَّدِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ، وَلَا نَذْكُرُ أَحَدًا مِنْهُمْ بِسُوْءٍ، وَلَا نَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْهُمْ،

Dan menahan diri dari membicarakan kejelekan-kejelekan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami tidak menyebut seorangpun di antara mereka dengan kejelekan, serta kami tidak mencela seorang pun di antara mereka,

وَنُؤْمِنُ بِالرُّؤْيَةِ، وَالتَّصْدِيْقُ بِالْأَحَادِيْثِ الَّتِيْ جَاءَتْ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ فِيْ الرَّؤْيَةِ حَقَّ،

Dan kami beriman tentang ru’yah [melihat Allah pada hari kiamat] dan membenarkan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ru’yah adalah suatu yang haq,

وَاتِّبَاعُ كُلَّ م��اجَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ إِلَّا أَنْ يُعْلَمُ أَنَّهُ مَنْسُوْخٌ فَيُتْبَعُ نَاسِخُهُ،

Dan mengikuti setiap atsar (hadits) yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali bila diketahui telah mansukh, maka seseorang mengikuti nasikh-nya.

وَعَذَابُ الْقَبْرِحَقٌّ،

Dan Adzab kubur adalah haq,

وَالْمِيْزَانُ حَقٌّ،

Dan al-Mizaan (timbangan amal di hari akhirat) adalah haq,

وَالْحَوْضِ حَقٌّ،

Dan al-Haudh (telaga) adalah haq,

وَالشَّفَاعَةُ حَقٌّ،

Dan syafa’at adalah haq,

وَقَوْمٌ يَخْرُجُوْنَ مِنَ النَّارِ حَقٌّ،

Dan (bahwa) suatu kaum akan keluar dari neraka adalah haq,

وَخُرُوْجُ الدَّجَّالِ،

Dan keluarnya dajjal [adalah haq],

وَالرَّجْمُ حَقٌّ،

Dan hukum rajam adalah haq,

وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَمَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَأَيُّوْبَ السَّخْتِيَانِي، وَعَبْدَ اللّٰهِ بْنِ عَوْنٍ، وَيُوْنُسَ بْنَ عُبَيْدٍ، وَسُلَيْمَانَ التَّيْمِيَّ، وَشَرِيْكًا، وَأَبَا الْأَحْوَصِ، وَالْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ، وَسُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ، وَاللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ، وَابْنَ الْمُبَارَكِ، وَوَكِيْعَ بْنَ الْجَرَّاحِ، وَيَحْيَى بْنَ سَعِيْدٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ، وَيَحْيَى بْنَ يَحْيَى، وَأَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، وَإِسْحَاقَ بْنَ رَاهَوَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ عَلَى الطَّرِيْقِ،

Dan apabila engkau melihat seseorang mencintai Sufyan ats-Tsury, Malik bin Anas, Ayyub as-Sakhtiyany, Abdullah bin ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, Sulaiman at-Taimy, Syarik, Abul Ahwash, al-Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan bin ‘Uyainah, al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Mubarak, Waki’ bin al-Jarrah, Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdy, Yahya bin Yahya, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih, ketahuilah bahwa orang itu berada di atas jalan (Sunnah),

وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَقُوْلُ: هَؤُلَاءِ الشُّكَّاكُ، فَاحْذَرُوْهُ، فَإِنَّهُ عَلَى غَيْرِ الطَّرِيْقِ،َ

Dan apabila engkau melihat seseorang berkata bahwa mereka (para imam ahlus sunnah tersebut diatas) adalah para peragu, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang itu berada di atas selain jalan (Sunnah),

وَإِذَا قَالَ: الْمُشَبِّهَةُ، فَاحْذَرُوْهُ فَإِنَّهُ جَهْمِيٌّ،

Dan bila (orang tersebut) berkata bahwa (mereka/ahlus sunnah) adalah Musyabbihah, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang tersebut adalah seorang Jahmy,

وَإِذَا قَالَ: الْمُجَبِّرَةُ، فَاحْذَرُوْهُ، فَإِنَّهُ قَدَرِيٌّ،

Dan apabila orang itu berkata (mereka/ahlus sunnah) adalah Mujabbirah, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang itu adalah seorang Qadary,

وَالْإِيْمَانُ يَتَفَاضَلُ، وَالْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، وَالصَّلَاةُ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَالزَّ كَاةُ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَالْحَجُّ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَإِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الْطَرِيْقِ مِنَ الْإِيْمَانِ،

Dan Iman itu berjenjang, Iman adalah ucapan, amalan dan niat. Shalat adalah keimanan, zakat adalah keimanan, haji adalah keimanan dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah keimanan,

وَنَقُوْلُ: النَّاسُ عِنْدَنَا مُؤْمِنُوْنَ بِالْاِسْمِ الَّذِي سَمَّاهُمُ اللّٰهُ وَالْإِقْرَارُ وَالْحُدُوْدُ وَالْمَوَارِيْثُ، وَلَا نَقُوْلُ حَقًّا ��َلَا نَقُوْلُ عِنْدَ اللّٰهِ وَلَا نَقُوْلُ كَإِيْمَانِ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ لِأَنَّ إِيْمَانَهُمَا مُتَقَبَّلٌ،

Dan kami berkata bahwa manusia menurut kami adalah mukmin dengan nama yang Allah namakan. (demikian pula dalam) iqrar, hudud dan warisan. Kami tidak berkata (bahwa sesorang adalah mukmin) yang sebenarnya, kami tidak berkata (bahwa seseorang merupakan mukmin) di sisi Allah, juga kami tidak berkata (bahwa seseorang memiliki keimanan) seperti keimanan Jibril dan Mikail, karena keimanan mereka berdua diterima,

وَلَا يُصَلَّى خَلْفَ الْقَدَرِيِّ وَلَا الرَّافِضِيِّ وَلَا الْجَهْمِيِّ،

Dan janganlah shalat dibelakang Qadary, Rafidy [Syi’ah] dan Jahmy,

وَمَنْ قَالَ: إِن هَذِهِ الآيَةَ مَخْلُوْقَةٌ فَقَد فَهُوَ كَفِرٌ : ﴿ إِنَّنِيٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِي﴾ وَماَ كَانَ اللّٰهُ لَيَأْمُرَ مُوْسَى أَنْ يَعْبُدَ مُخْلُوْقًا،

Dan siapa saja yang berkata bahwa ayat ini adalah makhluk, sungguh dia telah kafir, “sesungguhnya Aku adalah Allah. Tiada ilah (yang berhak disembah) kecuali Aku, maka sembahlah Aku” (QS. Thaha: 14), Tidaklah Allah memerintah Musa untuk menyembah suatu makhluk,

وَيُعْرَفُ اللّٰهُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: ﴿ الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى * لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى ﴾

Dan mengetahui Allah di langit ketujuh di atas Arsy-nya sebagaimana firman-Nya, “Ar-Rahman (Allah) Yang Maha Pemurah, yang ber istiwa’ di atas ‘Arsy . Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit dan di bumi, semua yang berada di antara keduanya, dan semua yang berada di bawah tanah” (QS. Thaha: 5-6),

وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوْقَتَانِ وَلَا يَفْنَيَانِ،

Dan Surga dan Neraka adalah dua makhluk (yang telah dicipta) dan tidak akan sirna,

وَالصَّلَاةُ فَرِيْضَةٌ مِنَ اللّٰهِ وَاجِبَةٌ بِتَمَامِ رُكُوْعِهَا وَسُجُوْدِهَا وَالْقِرَاءَةِ فِيْهَا.

Dan shalat adalah kewajiban dari Allah dengan kesempurnaan rukuk, sujud dan bacaannya.[]

Belajar Akidah Ahlussunnah dari Mandzhumah Haiyah Ibnu Abi Dawud

Download:
Download PDF atau Download PDFatau Download PDF

Intisari Aqidah Salaf

Download:
Download PDF atau Download PDF

Jihad Melawan Perdukunan

Nama Ebook: Jihad Melawan Perdukunan
Penulis: Ustadz Abu Abaidah as-Sidawi

الْـحَمْدُ للهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ. وَصَّلَّاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَ صْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Fenomena perdukunan di negeri ini sudah sangat mengenaskan. Operasi mereka sekarang pun sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi sudah terang-terangan bak matahari di siang hari. Kian hari mereka semakin gencar menjajakan perdukunan syirik mereka melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, mulai televisi, koran, hingga internet tanpa tedeng aling-aling lagi.

Masyarakat pun semakin banyak yang terkecoh. Banyak di antara mereka yang silau pada dukun sebab banyak dukun sekarang yang bergaya ustadz, habib, dan kiai, sehingga banyak di antara masyarakat kita menggandrungi para dukun serta mengetuk pintu mereka, mulai dari pejabat, artis, pedagang, karyawan, bujangan dan segala kalangan.

anyak di antara mereka tergopoh-gopoh datang mengetuk pintu para dukun, menghiba bantuannya. Inilah sebuah fenomena nyata di tengah-tengah kita yang menunjukkan betapa menjamurnya dunia klenik dan perdukunan di negeri kita. Realita ini sungguh aneh tapi nyata. Coba bayangkan, di zaman yang serba teknologi dan alat canggih ini ternyata klenik, mistik, dan perdukunan masih begitu lengket, bahkan pada tokoh-tokoh nasional dan pejabat tinggi. Yang maju memang teknologinya, tetapi mental dan otaknya masih terbelakang.

Semoga kita semua terhindar dari ‘PERDUKUNAN’ dari segala sisi, karena ia salah satu amalan yang merupakan dosa besar yang boleh jadi mengeluarkan seseorang dari Islam. Adapun tema bahasan dalam eBook ini adalah:

  • Faktor larisnya Perdukunan di Indonesia
  • Definisi Dukun
  • Tanda-Tanda Dukun
  • Dukun hitam Dukun Putih
  • Beda Dukun dan Sihir Dengan Karomah
  • Bahaya Dukun dan Perdukunan
  • Hukum Mendatangi Dukun
  • Jihad Melawan Perdukunan

Download:
Download PDFmirrorDownload PDF

Takutlah Akan Neraka

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDF

Kupas Tuntas Masalah Syafa’at

Nama Ebook: Kupas Tuntas Masalah Syafa’at
Editor: Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi

الْـحَمْدُ للهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ. وَصَّلَّاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَ صْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Syafa’at secara bahasa adalah genap lawan kata ganjil. Disebut demikian karena dia yang awalnya ganjil tetapi setelah bergabung dengan pemilik hajat maka menjadi genap.

Adapun defnisinya secara istilah adalah memintakan untuk orang lain agar mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudarat.

Contoh untuk mendapatkan manfaat adalah syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada penduduk surga agar lekas memasukinya. Sementara itu, contoh untuk menolak mudarat adalah syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.

Permasalahan syafa’at termasuk pembahasan penting yang wajib diketahui oleh seorang muslim karena beberapa sebab:

  1. Masalah ini termasuk cabang iman kepada hari akhir yang merupakan rukun iman
  2. Mempelajarinya akan menambah iman dan cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya
  3. Mengenal luasnya rahmat Allah kepada hambaNya, kasih sayang Rasulullah kepada umatnya dan agungnya agama Islam
  4. Banyaknya penyimpangan dalam masalah ini sehingga menjerumuskan manusia kepada kesyirikan
  5. Perhatian para ulama tentang masalah ini, karena mereka selalu membahasnya dalam kitab-kitab mereka, bahkan ada yang membukukannya secara khusus.

Tulisan ini adalah pembahasan ilmiah secara sistematis dengan harapan agar kita memahami masalah ini secara gamblang.

Download:
Download PDFmirrorDownload PDF

Aqidah Imam Asy-Syaf’i Tentang Allah di Atas Langit

Nama Ebook: Menyingkap Aqidah Imam Asy-Syaf’i Tentang Allah di Atas Langit
Editor: Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi

الْـحَمْدُ للهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ. وَصَّلَّاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَ صْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Sebagaian perkataan penulis -semoga Allah menjaganya- diawal buku:

Sesungguhnya aqidah Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan Sunnah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam agama, bahkan kedudukannya ibarat pondasi bagi bangunan dan akar bagi pohon. Dan bilamana aqidah sudah mengakar kuat dalam hati seorang hamba, maka akan membuahkan akhlak yang indah, ibadah yang mulia dan manhaj yang lurus, sebab bila aqidah semakin kuat dan mantap maka akan semakin membuahkan segala kebaikan dan kebahagiaan.
Diantara ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah yang lurus aqidahnya adalah Imam Syafi’i yang dikenal semangat mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah dan berjalan meniti jalan salaf shalih baik dalam aqidah, ibadah maupun akhlak.
Oleh karana itu pengikut sejati imam Syafi’i adalah orang orang yang mengikuti mazhab beliau dalam permasalahan ushuluddin (aqidah) dan permasalahan fqih dan tidak membedakan antara keduannya.
Namun anehnya, fenomena sekarang ada sebagian kalangan yang menisbatkan diri kepada Imam Syaf’i dalam permasalahan fqih, tetapi menyelisihiya dalam masalah aqidah dan prinsip-prinsip beragama, atau mengadopsi madzhab gado-gado, seperti ungkapan sebagian mereka: “Madzhabku adalah madzhab Syafi’i, Tarekatku adalah tarekat Qodiriyah atau Naqsyabandiyah dan Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyah”, tentu ini adalah pernyataan yang aneh dan kontradiksi yang nyata, dan Imam Syaf’i tentu perlepas diri dari orang yang seperti ini, sebab tidak pernah Imam Syaf’i beraqidah Asy’ariyah dan mengikuti tarekat shufyyah, terekat beliau adalah Tarekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tiada lain kecuali seorang Sunni Salaf dalam aqidah, ibadah, fqih dan akhlak.
Imam Al-Karaji (wafat: 532H) –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’yyah- telah mencela dan mengingkari dengan keras sikap warna warni seseorang dalam beragama seraya mengatakan: “Maka mengikuti mazhab salah seorang imam (dalam fiqih) dan meyelisihinya dalam aqidah, demi Allah ini merupakan kemungkaran secara syari’at dan akal, maka barangsiapa yang mengatakan: saya bermazhab Syafi’i dan beraqidah Asy’ari, maka kita katakan: ini adalah sikap/pernyataan yang kontradiksi, bahkan merupakan menyimpangan dan kesesatan, karena tidak pernah Syafi’i beraqidah Asy’ari”.
Beberapa waktu lalu kami mendapatkan kiriman video yang disampaikan oleh salah satu ustadz kondang di negeri ini, yaitu Ustadz Abdus Shomad –semoga Allah memberikan hidayah kepadanya-dengan judul video di youtube “Bantahan Atas Klaim Wahhabi Allah Di Atas ‘Arsy” yang membahas tentang Aqidah Imam Syafi’i tentang di mana Allah, namun sayangnya kami mendapati dalam ceramah beliau tersebut beberapa kesalahan yang amat fatal yang harus diluruskan agar umat tidak tertipu dengan pernyataannya, seperti pernyataannya yang mengingkari aqidah Imam Syafi’i bahwa Allah di atas langit, anggapannya bahwa Imam Syafi’i meyakini aqidah Asya’irah bahwa Allah tidak di atas langit, klaimnya bahwa ulama ijma’ bahwa Allah tidak di atas langit, anggapannya bahwa keyakinan Allah di atas langit adalah faham Musyabbihah Mujassimah, anggapannya bahwa aqidah Allah di atas langit adalah membatasi Allah dalam tempat, dan lain sebagainya.
Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini kami terdorong untuk meluruskan beberapa syubhat dan kedustaan yang beliau lontarkan secara ilmiah dan singkat. Semoga Allah membimbing kita semua menuju jalan yang benar.

Download:
Download PDFmirrorDownload PDF

Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Penguasa

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDF

Dahsyatnya Neraka

telagaRasulullah

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDF