Aqidah Imam Qutaibah bin Sa’id

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah, setelah kita posting biografi imam Qutaibah bin Sa’id, sekarang kita posting Aqidah beliau, sebagaimana Aqidah para Imam Ahlus Sunnah lainnya demikian pulalah aqidah beliau.

A. Penulis
Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif Ats-Tsaqafi, al Balkhi, al Baghlani. Dilahirkan di tahun 149 H. Qutaibah adalah guru dari para tokoh-tokoh terkenal, penyusun kutubus sittah [yakni Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah], enam kitab induk hadits yang merupakan referensi utama kaum muslimin, merupakan murid-murid beliau, kecuali Ibnu Majah. Selain mereka itu Imam Ahmad bin Hanbali adalah muridnya, muridnya yang lain seperti Nu’aim bin Hammad, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Yahya bin Ma’in, al Hasan bin Arafah, Ibrahim bin al Harbi, Abu Zur’ah, Ja’far al Firyabi, al Hasan bin Sufyan, Musa bin Harun, Abul Abbas as Sarraj dan yang lainnya.

B. Download eBook (untuk download klik gambar jenis filenya)

  1. Biografi Imam Qutaibah bin Sa’id Download PDF mirror Download PDFatau Download Word,
  2. Aqidah Imam Qutaibah bin Sa’id Download PDF mirror Download PDF.

C. Versi baca online sebagai berikut:

قال الإِمَام أُبُو أَحْـمْد الحَاكِم:

Imam Abu Ahmad al-Hakim berkata [dalam Kitab Syi’ar Ash-habul Hadits]:

سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا رَجَاء قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ قَالَ:

Saya mendengar Muhammad bin Ishaq ats-Tsaqafy berkata: Saya mendengar Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id berkata:

هَذَا قَوْلُ الْأَئِمَّةِ الْمَأْخُوْذِ فِي الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ:

Ini adalah Ucapan para Imam yang dipegang dalam Islam dan Sunnah:

الرِّضَا بِقَضَاءِ اللّٰهِ وَالِاسْتَسْلَامُ لَأَمْرِهِ، وَالصَّبْرَ عَلَى حُكْمِهِ،

Ridha kepada ketentuan Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya serta bersabar kepada hukum-Nya,

وَالْإِيْمَانُ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ،

Dan beriman kepada takdir baik dan yang buruk,

وَالْأَخْذُ بِمَا أَمَرَ اللّٰهُ وَالنَّهْيُ عَمَا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ،

Melaksanakan segala hal yang Allah perintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang Allah larang,

وَإِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلّٰهِ،

Dan mengikhlaskan amalan untuk Allah,

وَتَرْكُ الْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ وَالْخُصُوْمَاتِ فِي الدِّيْنِ،

Dan meninggalkan jidal (perdebatan), mira’ (pertengkaran), dan khusumat (perselisihan) dalam agama,

وَالْمَسْحُ عَلَى الْخَفَّيْنِ،

Dan Mengusap di atas kedua sepatu (khuff),

وَالْجِهَادُ مَعَ كُلِّ خَلِيْفَةٍ، جِهَادُ الْكُفَّارِ، لَكَ جِهَادُهُ وعَلْيْهِ شَرَّهُ،

Dan berjihad bersama khalifah, yaitu jihad terhadap orang-orang kafir. Untuk engkau (pahala) jihadnya, sedangkan kejelekan (dosa) bagi mereka,

وَالْجَمَاعَةُ مَع َكُلِّ بَرٍ وَفَاجِرٍ – يَعْنِي الْجُمُعَةُ وِالْعِيْدَيْنِ،

Dan berjama’ah bersama setiap pemimpin yang baik dan fajir, yaitu (dalam shalat) Jum’at dan dua ‘Id,

وَالصَّلَاةُ عَلَى مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ سَنَةٌ،

Dan menshalati siapa saja di antara ahli kiblat (muslim yang mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat) yang meninggal adalah sunnah,

والْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، الْإِيْمَانُ يَتَفَاضَلُ،

Dan Iman adalah ucapan dan amalan, juga iman itu ber-jenjang,

وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللّٰهِ،

Dan Al-Qur’an adalah kalam Allah,

وَأَنْ لَا نُنْزِلَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ جَنَّةَ وَلَا نَارًا، وَلَا نَقْطَعُ الشَّهَادَةَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ التَوْحِيْدِ، وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا بِذَنْبٍ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةَ وَإِنْ عَمِلَ بِالْكَبَائِرِ،

Dan kami tidak memastikan surga dan neraka untuk siapa saja di antara ahli kiblat. Dan kami tidak pula memastikan kesyahidan (mati syahid) untuk seseorang pun dari ahli tauhid, dan kami tidak mengkafirkan seorangpun lantaran dosa, kecuali (dosa) meninggalkan shalat, meskipun dia melakukan dosa-dosa besar.

وَأَنْ لَا نَخْرُجَ عَلَى الْأُمَرَاءِ بِالسَّيْفِ وَإِنْ حَارَبُوا، وَنَتَبَرَّأُ مِنْ كُلٍّ يَرَى السَّيْفِ عَلَى الْمُسْلِميْنَ كَائِنًا مَنْ كَانَ،

Dan kami tidak melakukan khuruj [kudeta, pembangkangan] dengan pedang terhadap umara, walaupun mereka memerangi (kami). Kami berlepas diri dari siapa saja yang memandang (pembolehan mengangkat) pedang terhadap kaum muslimin, siapapun orang tersebut,

وَأَفْضَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ،

Dan sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, selanjutnya Utsman,

وَالْكَفُّ عَنْ مَسَاوَئِ أَصْحَابِ مُحَمَّدِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ، وَلَا نَذْكُرُ أَحَدًا مِنْهُمْ بِسُوْءٍ، وَلَا نَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْهُمْ،

Dan menahan diri dari membicarakan kejelekan-kejelekan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kami tidak menyebut seorangpun di antara mereka dengan kejelekan, serta kami tidak mencela seorang pun di antara mereka,

وَنُؤْمِنُ بِالرُّؤْيَةِ، وَالتَّصْدِيْقُ بِالْأَحَادِيْثِ الَّتِيْ جَاءَتْ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ فِيْ الرَّؤْيَةِ حَقَّ،

Dan kami beriman tentang ru’yah [melihat Allah pada hari kiamat] dan membenarkan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ru’yah adalah suatu yang haq,

وَاتِّبَاعُ كُلَّ مَاجَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ إِلَّا أَنْ يُعْلَمُ أَنَّهُ مَنْسُوْخٌ فَيُتْبَعُ نَاسِخُهُ،

Dan mengikuti setiap atsar (hadits) yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali bila diketahui telah mansukh, maka seseorang mengikuti nasikh-nya.

وَعَذَابُ الْقَبْرِحَقٌّ،

Dan Adzab kubur adalah haq,

وَالْمِيْزَانُ حَقٌّ،

Dan al-Mizaan (timbangan amal di hari akhirat) adalah haq,

وَالْحَوْضِ حَقٌّ،

Dan al-Haudh (telaga) adalah haq,

وَالشَّفَاعَةُ حَقٌّ،

Dan syafa’at adalah haq,

وَقَوْمٌ يَخْرُجُوْنَ مِن�� النَّارِ حَقٌّ،

Dan (bahwa) suatu kaum akan keluar dari neraka adalah haq,

وَخُرُوْجُ الدَّجَّالِ،

Dan keluarnya dajjal [adalah haq],

وَالرَّجْمُ حَقٌّ،

Dan hukum rajam adalah haq,

وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُحِبُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَمَالِكَ بْنَ أَنَسٍ، وَأَيُّوْبَ السَّخْتِيَانِي، وَعَبْدَ اللّٰهِ بْنِ عَوْنٍ، وَيُوْنُسَ بْنَ عُبَيْدٍ، وَسُلَيْمَانَ التَّيْمِيَّ، وَشَرِيْكًا، وَأَبَا الْأَحْوَصِ، وَالْفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ، وَسُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ، وَاللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ، وَابْنَ الْمُبَارَكِ، وَوَكِيْعَ بْنَ الْجَرَّاحِ، وَيَحْيَى بْنَ سَعِيْدٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ، وَيَحْيَى بْنَ يَحْيَى، وَأَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، وَإِسْحَاقَ بْنَ رَاهَوَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ عَلَى الطَّرِيْقِ،

Dan apabila engkau melihat seseorang mencintai Sufyan ats-Tsury, Malik bin Anas, Ayyub as-Sakhtiyany, Abdullah bin ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, Sulaiman at-Taimy, Syarik, Abul Ahwash, al-Fudhail bin ‘Iyadh, Sufyan bin ‘Uyainah, al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Mubarak, Waki’ bin al-Jarrah, Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdy, Yahya bin Yahya, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih, ketahuilah bahwa orang itu berada di atas jalan (Sunnah),

وَإِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَقُوْلُ: هَؤُلَاءِ الشُّكَّاكُ، فَاحْذَرُوْهُ، فَإِنَّهُ عَلَى غَيْرِ الطَّرِيْقِ،َ

Dan apabila engkau melihat seseorang berkata bahwa mereka (para imam ahlus sunnah tersebut diatas) adalah para peragu, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang itu berada di atas selain jalan (Sunnah),

وَإِذَا قَالَ: الْمُشَبِّهَةُ، فَاحْذَرُوْهُ فَإِنَّهُ جَهْمِيٌّ،

Dan bila (orang tersebut) berkata bahwa (mereka/ahlus sunnah) adalah Musyabbihah, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang tersebut adalah seorang Jahmy,

وَإِذَا قَالَ: الْمُجَبِّرَةُ، فَاحْذَرُوْهُ، فَإِنَّهُ قَدَرِيٌّ،

Dan apabila orang itu berkata (mereka/ahlus sunnah) adalah Mujabbirah, berhati-hatilah dari orang itu, sungguh orang itu adalah seorang Qadary,

وَالْإِيْمَانُ يَتَفَاضَلُ، وَالْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ، وَالصَّلَاةُ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَالزَّ كَاةُ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَالْحَجُّ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَإِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الْطَرِيْقِ مِنَ الْإِيْمَانِ،

Dan Iman itu berjenjang, Iman adalah ucapan, amalan dan niat. Shalat adalah keimanan, zakat adalah keimanan, haji adalah keimanan dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah keimanan,

وَنَقُوْلُ: النَّاسُ عِنْدَنَا مُؤْمِنُوْنَ بِالْاِسْمِ الَّذِي سَمَّاهُمُ اللّٰهُ وَالْإِقْرَارُ وَالْحُدُوْدُ وَالْمَوَارِيْثُ، وَلَا نَقُوْلُ حَقًّا وَلَا نَقُوْلُ عِنْدَ اللّٰهِ وَلَا نَقُوْلُ كَإِيْمَانِ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ لِأَنَّ إِيْمَانَهُمَا مُتَقَبَّلٌ،

Dan kami berkata bahwa manusia menurut kami adalah mukmin dengan nama yang Allah namakan. (demikian pula dalam) iqrar, hudud dan warisan. Kami tidak berkata (bahwa sesorang adalah mukmin) yang sebenarnya, kami tidak berkata (bahwa seseorang merupakan mukmin) di sisi Allah, juga kami tidak berkata (bahwa seseorang memiliki keimanan) seperti keimanan Jibril dan Mikail, karena keimanan mereka berdua diterima,

وَلَا يُصَلَّى خَلْفَ الْقَدَرِيِّ وَلَا الرَّافِضِيِّ وَلَا الْجَهْمِيِّ،

Dan janganlah shalat dibelakang Qadary, Rafidy [Syi’ah] dan Jahmy,

وَمَنْ قَالَ: إِن هَذِهِ الآيَةَ مَخْلُوْقَةٌ فَقَد فَهُوَ كَفِرٌ : ﴿ إِنَّنِيٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِي﴾ وَماَ كَانَ اللّٰهُ لَيَأْمُرَ مُوْسَى أَنْ يَعْبُدَ مُخْلُوْقًا،

Dan siapa saja yang berkata bahwa ayat ini adalah makhluk, sungguh dia telah kafir, “sesungguhnya Aku adalah Allah. Tiada ilah (yang berhak disembah) kecuali Aku, maka sembahlah Aku” (QS. Thaha: 14), Tidaklah Allah memerintah Musa untuk menyembah suatu makhluk,

وَيُعْرَفُ اللّٰهُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: ﴿ الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى * لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى ﴾

Dan mengetahui Allah di langit ketujuh di atas Arsy-nya sebagaimana firman-Nya, “Ar-Rahman (Allah) Yang Maha Pemurah, yang ber istiwa’ di atas ‘Arsy . Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit dan di bumi, semua yang berada di antara keduanya, dan semua yang berada di bawah tanah” (QS. Thaha: 5-6),

وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوْقَتَانِ وَلَا يَفْنَيَانِ،

Dan Surga dan Neraka adalah dua makhluk (yang telah dicipta) dan tidak akan sirna,

وَالصَّلَاةُ فَرِيْضَةٌ مِنَ اللّٰهِ وَاجِبَةٌ بِتَمَامِ رُكُوْعِهَا وَسُجُوْدِهَا وَالْقِرَاءَةِ فِيْهَا.

Dan shalat adalah kewajiban dari Allah dengan kesempurnaan rukuk, sujud dan bacaannya.[]

Belajar Akidah Ahlussunnah dari Mandzhumah Haiyah Ibnu Abi Dawud

Download:
Download PDF atau Download PDFatau Download PDF

Intisari Aqidah Salaf

Download:
Download PDF atau Download PDF

Kapan Seseorang Keluar Dari Ahlus Sunnah

Nama eBook: Kapan Seseorang Keluar Dari Ahlus Sunnah
Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Muhammad Shadiq An Najjar

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Mengeluarkan seorang muslim dari Ahlusssunnah adalah perkara yang sangat berat, ia perlu pemahaman yang mendalam terhadap kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama, kemudian kaedah umum kadang tidak bisa diterapkan kepada Individu, dan orang yang berkata haruslah orang yang berilmu tentang ini.

Buku ini tidak terlalu tebal namun penuh dengan uraian yang bermanfaat, bersumber dari al-Qur’an, Hadits dan perkataan para Ulama, isi buku ini adalah:

Sambutan Syikh Dr. Shalih bin Sa’ad As Suhaimi
Sambutan Syikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhaili
Muqaddimah
Bagian Pertama: Pokok yang Membedakan Para Imam Salaf dan Selain Mereka, Serta Hukum Bagi yang Menyelisihinya
Bagian Kedua: Hukum Terkait Perorangan Bagi yang Menyelisihi Pokok Aqidah Salaf
Penutup

Dibagaian penutup penulis berkata: “…Dan aku telah curahkan usahaku untuk menyusunnya secara ringkas sesuai dengan kaidah-kaidah para ulama. Aku akan sebutkan di sini kaidah-kaidah penting yang disarikan dari pembahasan ini, sebagaimana berikut ini:

Kaidah pertama: Mashdar talaqqi atau sumber pengambilan agama menurut para imam salaf: Al Quran dan Sunnah serta Ijma’.
Kaidah kedua: Setiap orang yang menyelisihi salaf dalam mashdar talaqqi maka dia termasuk pengikut hawa nafsu dan ahlul bid’ah.
Kaidah ketiga: Tidak ada ijma’ yang terukur kecuali yang menjadi kesepakatan tiga generasi terbaik yang pertama.
Kaidah keempat: Pondasi dari Al Jama’ah yaitu berpegang teguh dengan jalan para sahabat Nabi – radhiyallahu ‘anhum-.
Kaidah kelima: Setiap perkara yang masyhur kesesuaiannya dengan Al Quran dan Sunnah serta Ijma’, maka ia termasuk pokok di antara pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Kaidah keenam: Penyelisihan satu di antara sekian pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kebid’ahan.
Kaidah ketujuh: Berpendapat dengan pendapat yang dikenal populer sebagai sesuatu yang menyelisihi Al Quran dan Sunnah serta Ijma’, adalah kebid’ahan.
Kaidah kedelapan: Person tertentu boleh jadi terlepas dari vonis mubtadi’ secara hukum asalnya, disebabkan ketiadaan syarat atau keberadaan faktor penghalang, meskipun ada faktor pendorong untuk itu.

Download:
Download PDF  mirror Download PDF

Beradab Kepada Para Sahabat

الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:

Allah dan rasul-Nya telah memuliakan para sahabat, Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang yang setelahnya dan yang setelahnya. (HR. Bukhori: 2652)

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikan salah seorang di antara kalian menyedekahkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak sampai satu mud salah seorang di antara mereka, tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhori: 3673, Muslim: 2541)

Karena kemulian mereka, maka kaum muslimin harus memperhatikan adab kepada mereka, sesungguhnya para imam Ahlus Sunnah selalu memasukkan kecintaan kepada para sahabat sebagai pokok keyakinan (aqidah) ahlus sunnah; selamat menyimak…

Download:
Download CHM atau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Syarah Lum’atul I’tiqad

Nama eBook: Syarah Lum’atul I’tiqad
Penyusun: Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi رحمه الله
Pensyarah: Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin رحمه الله

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Setelah beberapa bulan yang lalu kami share matan dan terjemahan Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabilir Rasyad (لمعة الاعتقاد الهادي إلى سبيل الرشاد) “Bekal Keyakinan yang Membimbing ke Jalan Petunjuk” yang disusun oleh Imam Muwaffiquddin al-Allamah al-Alim Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi; Alhamdulillah kami mendapatkan syarah-nya oleh Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Kitab syarah ini adalah kitab yang penuh manfaat, penulis dan pensyarahnya adalah imam Ahlus Sunnah yang telah dikenal. Penjelasan syaikh ibnu Utsaimin cukup luas dan detil sehingga akan menjadi petunjuk bagi orang yang mau menerima kebenaran.

Kitab tersebut dalam eBook format CHM yang di-compile Abu Ahmad Sidokare, kemudian kami menggabungkannya dalam eBook Aqidah Para Imam Ahlus Sunnah dengan format CHM juga. Kami share eBook yang telah kami gabungkan dan eBook kompilasi Abu Ahmad as-Sidokare, kami berdo’a agar eBook ini bermanfaat bagi penulisnya, pensyarahnya, penerjemahnya, pembacanya dan semua kaum muslimin, amin…

Download:
A. Syarah Lum’atul I’tiqad
Download CHMmirrorDownload CHMmirrorDownload CHMatau Download ZIP
B. Syarah Lum’atul I’tiqad_Abu Ahmad Sidokare
Download CHMmirrorDownload CHMmirrorDownload CHM

Tafsir Juz 28, 28 dan 30 Plus Hal-Hal Penting Bagi Seorang Muslim

الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:

Dalam kesempatan berbahagia ini kami men-share sebuah eBook ‘Tafsir Sepersepuluh  Akhir Al-Qur’an (Juz 28,29 dan 30) dan disertai Hukum-hukum Penting Bagi Seorang Muslim’, adapun isi ebook ini adalah:

Mukaddimah
Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz 28-30
Aqidah
Amalan-amalan Hati
Dialog Santai
Dua Kalimat Syahadat
Pembatal-Pembatal Keislaman
Thaharah
Hukum-hukum Yang Berkaitan Dengan Kewanitaan
Shalat
Zakat
Puasa
Haji
Aneka Masalah
Ruqyah Syar’iyah
Doa
Perniagaan yang menguntungkan
Amalan Yang Berpahala Besar
Perkara-perkara yang dilarang
Perjalanan Abadi
Tata Cara wudhu
Tata Cara Shalat
llmu Menuntut Pengamalan

Download:
 Download PDF mirror  Download PDF

Landasan-Landasan Imam Di Bawah Cahaya Al-Qur’an dan As-Sunnah

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama kita, Yang melengkapkan nikmat-Nya kepada kita, Yang menjadikan kita -umat Islam- umat yang terbaik, Yang membangkitkan seorang Rasul dari kalangan kita yang membacakan ayat-ayat Allah serta menyucikan kita dan mengajarkan kepada kita Al-Kitab (Al Quran) dan Hikmah (As-Sunnah)

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi yang diutus Allah sebagai rahmat bagi segenap alam, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian juga kepada seluruh keluarga dan shahabatnya. Amma badu:

Dan dalam karya tulisan (eBook) ini, seorang muslim akan menemukan dasar-dasar akidah islamiah, asas-asasnya yang terpenting dan fondasi-fondasi serta rambu-rambunya yang paling nyata yang mesti diketahuinya Semuanya akan diperkuat dengan dalil-dalil dan bukti-bukti Sebuah buku yang merangkum “LANDASAN-LANDASAN IMAN DI BAWAH CAHAYA AL KITAB DAN AS SUNNAH”, yang merupakan dasar yang agung, warisan peninggalan para rasul. Semuanya adalah dasar yang sangat nyata, di mana setiap orang berakal, baik besar maupun kecil dapat memahaminya dalam waktu dan masa yang sesingkat-singkatnya, dan segala taufiq berada di Tangan Allah semata.

Penyusunan buku ini adalah: Dr. Shaleh bin Sa’ad as Suhaimy, Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad dan Dr. Ibrahim bin ’Amir ar Ruhaily. Sedangkan tim muraja’ah-nya: Prof. Dr. Ali bin Nasher Faqihy dan Prof. Dr. Ahmad bin ‘Athiyah al Ghamidy.

Penerjemah buku ini ke dalam bahasa Indonesia adalah Dr. Dasman Yahya Ma’aly, dan yang merevisi (muraja’ah) dan mentashih terjemahan ini Dr. Aspri Rahmat Azai dan Dr. Muhammad Arifin bin Badri, -semoga Allah menjaga mereka semua-.

Dan akhirnya kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mudah-mudahan buku ini bermanfa’at bagi semua kaum muslimin, amin..

Download:
 Download PDF mirror Download PDF

Adapun isi buku ini adalah sebagai berikut:

Baca pos ini lebih lanjut

33 Bait Syair Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

الـمنظومة الـحائية في عقيدة أهل السنة والـجماعة

للامام أبو بكر بن أبي داود السجستاني رحمهما الله

Imam Abu Bakar bin Abu Dawud as-Sijistani  رحمهما الله

 ******

تَـمَسَّكْ بِـحَبْلِ اللهِ وَاتَّبِعِ الـهُدَى * وَلاَ تَكُ بِدْعِيّاً لَعَلَّكَ تُفْلِحُ

Berpegang Teguhlah dengan Tali Allah dan ikutilah petunjuk * dan janganlah kamu menjadi pelaku bid’ah, agar kamu beruntung

وَدِنْ بِكِتَابِ اللهِ وَالسُّنَنِ الَّتِي * أَتَتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ تَنْجُو وَتَرْبَحُ

Beragamalah dengan dasar kitab Allah dan Sunnah * yang datang dari Rasulullah, kamu akan selamat dan beruntung

وَقُلْ: غَيْرُ مَـخْلُوْقٍ كَلاَمُ مَلِيْكِنَا * بِذَلِكَ دَانَ الأَتْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا

Katakanlah: Firman Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk * dengan itulah orang-orang yang bertakwa berkeyakinan, dan dengan lantang mereka berkata

وَلاَ تَكُ فِي القُرْآنِ بِالوَقْفِ قَائِلاً * كَمَا قَالَ أَتْبَاعٌ لِـجَهْمٍ وَأَسْجَحُوا

Janganlah menjadi orang yang menahan diri dari berbicara tentang Al-Qur’an * seperti yang dikatakan pengikut Jahm (Ibn Shofwan), dan mereka pun bermudah-mudahan

وَلاَ تَقُلِ: القُرْآنُ خَلْقٌ قَرَأْتُهُ * فَإِنَّ كَلاَمَ اللهِ بِاللَّفْظِ يُوْضَحُ

Janganlah mengatakan bacaanku dengan Al-Qur’an adalah makhluk * sesungguhnya Firman Allah ketika dilafazkan harus di jelaskan

وَقُلْ: يَتَجَلَّى اللهُ لِلْخَلْقِ جَهْرَةً * كَمَا البَدْرُ لاَ يَـخْفَى وَرَبُّكَ أَوْضَحُ

Baca pos ini lebih lanjut

Aqidah Imam Sufyan ats-Tsauriy

اعتقاد أبي عبد الله سفيان بن سعيد الثوري

أَخْبَرَنَا محمد بن عَبْدُ الرحمنِ بن العَبَّاس حَدَّثَنَا أَبُو الْفَضْلِ شُعَيْبُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الرَّاجْيَانِ، قَال: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ الطَّائِيُّ الْمَوْصِلِيُّ بِسُرَّ مَنْ رَأَى فِي سَنَةِ سَبْعٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَتَيْنِ. قَالَ: سَمِعْتُ شُعَيْبَ بْنَ حَرْبٍ،

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Al-‘Abbas, ia berkata: “Telah menyampaikan kepada kami Abu Al-Fadhl Syu’aib bin Muhammad bin Ar-Rajiyan, ia berkata: Telah menyampaikan kepada kami ‘Aliy bin Harbi Al-Muwashaliy di Surra man Raa pada tahun 257 H , beliau berkata: Saya mendengar Syu’aib bin Harb berkata:

يَقُولُ: قُلْتُ لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ سُفْيَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ مُنْذِرٍ الثَّوْرِيِّ: حَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ مِنَ السُّنَّةِ يَنْفَعُنِي اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ. فَإِذَا وَقَفْتُ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تبارك وتعالى وَسَأَلَنِي عَنْهُ. فَقَالَ لِي: مِنْ أَيْنَ أَخَذْتَ هَذَا؟ قُلْتُ: يَا رَبِّ حَدَّثَنِي بِـهَذَا الـحَدِثِ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَأَخَذْتُهُ عَنْهُ؛ فَأَنْجُوَ أَنَا وَتُؤْخَذَ أَنْتَ.

Aku berkata kepada Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauriy: Kabarkanlah kepadaku suatu hadits dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengannya jikalau aku telah berada dihadapan-Nya dan Dia menanyaiku tentangnya. Dan Allah berfirman kepadaku: Dari mana engkau dapatkan hal itu? Aku akan katakan: Ya Rabb, Sufyan Ats-Tsauriy memberitahukan kepadaku perkataan tersebut, maka aku mengambilnya darinya, dan akupun terbebaskan dan engkaulah yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

فَقَالَ لِي سُفْيَانُ: يَا شُعَيْبُ هَذَا تَوْكِيدٌ وَأَيُّ تَوْكِيدٍ، اكْتُبْ:

Kemudian beliau -Ats Tsauriy- berkata: Ya Syu’aib, ini adalah sebuah penegasan, sungguh-sungguh suatu penegasan. Tulislah!:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ؛

Baca pos ini lebih lanjut