Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cinta

Euforian

Belasan tabib aku datangi setelah mantri tak sanggup lagi dan dokter sudah gigit jari Mereka bilang - entah sudah berbincang sebelumnya atau memang demikian adanya - bahwa kegilaanku sudah tak bisa diobati Tak ada terungku yang mampu menahanku dan tak ada pasungan yang bersedia mengurungku Maka aku berkeliaran ke seluk-beluk tubuhmu lalu asyik-masyuk ke rongga-ronggamu dan tunduk amuk di lorong-lorong jati dirimu Kau - yang dengan sabar menimangku di dadamu - tak pernah mengeluh atas keliaranku atau kebingaranku atau kesialanku Kamu - yang dengan gegar membalurkan ciuman di heningku - tak pernah sesal atas keinginanku atau kekhilafanku atau kesengajaanku Ya, diri mu - yang aku tahu menjelma penuh dalam aku - adalah peluru yang kutunggu menembus tembok nurani Ah, ternyata kamu euforianku Cilegon, 06 September 2020

Kekalahanku

Tak ada yang pantas kusisakan dariku Pun yang akan kautinggalkan padaku selain kekalahanku Ya, kekalahanku memenangkan pertarungan di hatimu Telah habis segala usahaku dalam tujuh turunan dan tujuh pendakian di belukar hutan jiwamu Sesat. Tersesat Sendat. Kakiku berkarat dan kubiarkan mengarat Tak ada yang kumiliki bahkan untuk mengenali hari apa ini yang mengirimkan cermin kekalahanku berkali-kali Ya, kekalahanku seperti kauingatkan berhari-hari setelah pertemuan lalu Maka kau tak perlu lagi membekaskan apapun tentang aku seperti aku tak akan perlu lagi menilaskan apapun tentang kamu Tak perlu candi atau prasasti Tak perlu puisi perpisahan atau ucapan melankoli Kita cukup saling berjanji untuk tidak menengok punggung atau sebatas merenung mengapa punggung kita saling menjauhi Kita cukup saling mengerti bahwa tak ada yang harus ditangisi dari kekalahan yang mesti kumaklumi ini Kumohon kau bantu aku mengerti Cilegon, 06 September 2020

Pertemuan

Mata basah Bibir kelu Pipi memerah Hidung melenguh Suara lonceng kapal pamit pulang Jangkar sudah meninggalkan sampang Akhirnya kau datang ! Maka, mata basah dan bibirmu kelu Pipiku memerah dan hidungmu mengeluh: Kenapa baru sekarang kita kembali bertemu? Suara lonceng kapal pamit pulang Meninggalkan kita yang berpeluk kencang Cilegon, 30 Agustus 2020

Mustahil

Sungguh musibah bagiku mencari dan menemukan jejak cinta mu Sepanjang jalan yang kutemukan hanya debu dari kedustaanmu Sepanjang ngarai hingga pantai hanya deru samar dan bisu yang menyembunyikan palsumu Maka, sungguh mustahil bagiku untuk menghitung asmaramu dalam simpuhmu di ujung amarahku Sebab sungguh tak berminat bagiku mengulang kata dan darah di balik lantun pantun kecewa Di balik cerita kepergianmu

Percaya

Lavela di depan rumah runduk tanpa daya Daunnya layu Bunga ungunya sendu dan luruh Tubuhnya kuyu; batinnya rapuh Tanah pindahan dari pot penyemaian meracik trauma beratus musiman Orang-orang berkata,  'Potonglah saja dan tanamlah bunga segar apapun yang kau suka' Aku tak bisa berkata-kata selain melihat mereka mengitar menyembah lavela yang kembali menguduskan jiwa dengan hijau ungu daun dan bunganya     pagi ini...

Jatuh Cinta

Tiba-tiba kepala ia sihir seperti terpisah Mata meninggalkan lubang kediamannya Lidah kaku. Telinga beku Hidung dan saraf-saraf peraba tak lagi bekerja Dan jatuh cinta Tiba-tiba kepala ia sulap seperti menyirna Tinggal aku , kamu dan sesuatu yang mengganggu di antara tubuhmu dan tubuhku Selaput tipis yang ingin segegas kita tepis

Berbicara Kepada Api

Aku mengurung molek tubuhmu di antara tangkup tangan kotorku Di antara jingkat kakiku, aku memenjarakan kamu bersama keingintahuanku : mengapa api disematkan jadi namamu? Sebelas menit , sebelas detik pada sebelas jam yang lalu aku ingat-ingat bagaimana percakapan kita liat dan jilat Yang kuingat saat itu gerimis tiba-tiba mampir lalu dingin hadir lalu kamu mlipir  dari kegelapan paling sumir Sebelas menit, sebelas detik pada sebelas jam yang lalu aku teringat pertanyaan pertama yang mencuat : mengapa api dijulukkan sebagai kamu? Lama setelah itu aku meninggalkan kamu Bersiul-siul, aku bernyanyi berharap nadaku makbul memanggil rindu yang menjadi salju saking lamanya tak pernah disentuh Tiba-tiba, salju! Aku ingat salju yang membekukan rindu (atau rindu yang sebeku salju?) dan membuatku teringat padamu Lekas-lekas aku bergegas begitu beringas tancap gas ke sudut dimana terakhir tadi kau kulepas ' Mengapa api disematkan jadi namamu? ' ' Mengapa ...

Bening

Pada suatu meja Pada suatu papan tanda Kulihat sinar cahaya turun pada kedua binar matanya Angin membisikkan gairah dan sadarku mematikan ia Aku masih tenggelam dalam rasa Menghirup aroma malam; mencecap nuansa diam Pada suatu titik Pada suatu betik Takdir membisikkan saatnya aku berbalik menuju gua lamunan tentang beningnya yang semanis ampunan

Ada Api di Saku Kemejaku

Ada api di saku kemejaku yang menyala dari puntung rinduku Jemariku tak berdaya memadamkannya Pun dengan segelas air telaga yang lahir dari bekas air mata Api di saku kemejaku makin gelora Panasnya menyambar jambangku lalu lidahku lalu hidungku lalu kupingku lalu sekujur jiwaku Ada api di jasadku yang menggila dari batang kangenku yang menggula luka renjana ku

Di Suatu Jum’at

"Teringat" Oly teringat semalam demikian nikmat dan seolah tak perlu rehat. Pagi ini ia seperti menemukan muslihat. Suamikukah bersama Iche itu? "Target" Hari ini deadline baginya untuk menjual puluhan botol oli itu. Namun, ia memilih memenuhi target dari Majikannya. Di shaf depan sekali ia tengah ber doa . "Pulang Jumatan" Seperti kata wahyu Tuhan , Doni bertebaran ke muka bumi usai shalat Jumat tadi. Matanya sibuk memilih. Siapa yang bisa ia copet lagi? "Batal Rujuk" Ia mengira Yuli masih marah karena kata kasarnya tadi pagi. Ketika ia pulang untuk minta maaf, di ruang tamu penuh orang . Siapa itu dibungkus kafan? "Sedekah" Pak tua mengayuh becak dengan cuma-cuma. Sedekah , katanya. Saat petang, ia duduk di teras mushala dengan senyum lelahnya. Lalu menutup mata . Selamanya.

Di Matamu Ku Temukan

Mata Indahmu Di matamu    ku temukan tempatku berlabuh    Merapatkan perahu    Menebar sauh    Menikmati lagi kedamaian yang lama menjauh Di matamu    ku temukan saungku berteduh    Menyeka peluh    Menguatkan kaki meneguh    Mencecapi udara yang lama menyisa titik-titik keruh Di matamu    ku temukan oase perhentian kembara panjangku    Hai, Kamu!     Sudikah kau temani aku ?    Bersanding berdua    Di bawah purnama jelita    Sembari berbincang tentang aku, kamu,       dan matamu       yang menjadi pintu keselamatan bagiku       dari sepi menjemu       dari gelap menjamu       dari rindu nan biru       dari gelisahku       andai tak menatap lagi matamu . Andai Sumber Gambar : Catatan Bunda Alif

Maka (Selamat Pagi, Serang!)

Alun-Alun Kota Serang Aku datang dengan cinta  semata-mata untuk mengenalmu saja Maka  jangan kau sembunyikan wajahmu dariku Maka  jangan kau tutupkan senyummu padaku Maka Aku hadir dengan rindu  semata-mata karena ku ingin merengkuhmu Maka  jangan kau palingkan raga dariku Maka  jangan kau tabirkan jarak denganku Maka Selamat pagi, Serang! Terimalah hadirku di kotamu! Sumber Gambar : KangLondo

Menuju Perhentian Akhir

Kau dan aku sama. Berjalan. Mencoba menyusuri pengembaraan. Sejuta tangan mengajak serta. Dan sejuta tangan pula menggiring ke neraka. Seribu mata memandang perangah. Haruskah berpayah-payah? Kau dan aku sama. Mendebat arah. Berpusing ria di tempat semula. Selaksa suara berbisik menggoda. Dan seribu jua kibuli kita dalam dusta. Sebaris telinga menyimak tak percaya. Haruskah sedemikian susah? Perjalanan Panjang Kita lewati satu demi satu : stasiun dan peron-peron persinggahan . Kita tatap wajah -wajah puas dan cemas. Juga sederet mimik bias. Seakan-akan di sanalah ujungnya. Seakan-akan di situlah muaranya. Dan kereta kembali berjalan. Meninggalkan pengkhayal di tepian. Menyeret pecundang di lintasan. Menampung pejuang di bangku-bangku rotan gerbong harapan. Dan pastinya : kau dan aku sama . Kita meraba dengan segenap peluh yang ada. Kita merasa lewat selusin penat yang melanda. Kita sama-sama menuju sana : perhentian akhir yang jingga . Sembari kita menunggu surya jatuh ke ...

Kidung Buana*

Tanpa kata. Hanya irama alun menggema. Tanpa rima. Biarkan hasrat riang berterka : pada matahari . Pada langit pagi . Pada puisi yang remah berbangkit di hati . Tanpa hirau. Hanya hening bak malam di atas danau. Tanpa gurau. Biarkan wajah merangkak melepas galau : pada nebula mimpi . Pada semburat partikel janji . Pada sepadang misteri racik simphoni. Tanpa puja. Hanya sepasang telinga khusyuk menjamah. Tanpa damba. Biarkan jiwa lepas memepah : segala duka . Segala luka . Segala dusta yang mewabah di dunia . Dan akhirnya. Orkestra masih bersuara. Merayap dari argadwipa. Menuju kekosongan jiwa.      Kidung Buana ... *Terinspirasi Highland , dipopulerkan Yanni (Album " If I Could Tell You ", 2000)

Sepasang Remaja dan Besikal Tua

Mereka tertawa menembusi kegarangan dunia Menyusuri lorong-lorong tanda tanya; melewati keheningan tanpa kata Padang-padang perhentian sinis menyapa Dan. Itulah mereka Masih bermanja di atas besikal tua Hidup Sederhana Roda-roda menapaki alam semesta Tak duli cabaran kemarau menggila; pun pula gemparan penghujan mendera Sekotak tulus menghembus Jadi angin segar di tengah busuk buruknya suara dengus Danau-danau persinggahan mengusir nyinyir Dan. Itulah mereka Masih bermesra di atas besikal tua Pahatan janji terlukis di bintang-bintang Ukiran sumpah tersurat di gelombang samudera Apalah guna bisik-bisik jikalau hati tak lagi terusik? Apalah guna sejuta pekik :      Bukankah asmara tak punah karena selusin dengki meringkik? Lembah-lembah harapan tersenyum ramah Dan. Itulah mereka Tetap merenda di atas besikal tua Ya. Itulah dia Sepasang remaja dan besikal tua mereka Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi *Terinspirasi Lagu Hidup Sederha...

Kelakar Sepi

Seorang lelaki. Berkelakar dengan sepi . Sendiri. Sendiri. Sendiri... Dia bertanya pada malam hari, "dimana kasih?" Sayang. Bintang bisu berdiam diri. Dia bertanya pada angin lirih, "dimana hati?" Sayang. Udara pucat pasi. Dia kembali berkelakar dengan sepi. Sendiri. Sendiri. Sendiri...                      ... menunggu pagi hari...

Sepeda Tua

Berapa Harga Jasa Mereka? Sepeda tua Teronggok di dinding kumuh Menatap beku Di antara kebisingan sudut kota ku Beribu waktu ia habiskan di situ Menunggu sang Tuan Letakkan tumpukan koran Atau usai lunasi setoran Dan. Ia 'kan kembali berkelana Menerjang kebisuan jalanan Di kepungan janji tanpa perbincangan Kepungan asap adalah sahabat Percikan hujan karib yang erat Ketika saatnya tiba,     ia percaya Ia menutup hari di pasar desa Entah dalam barisan barang nostalgi Atau merepih setiap jengkal diri. Terjagal Apakah yang harus disesali? Bukankah karena dirinya sebuah keluarga tak kelaparan? Bukankah karena dirinya sejuta mimpi tergapaikan? Bukankah karena Tuhan melaluinya? Alasan apa 'tuk menyesali? Ia hanya sepeda tua Begitulah selamanya... Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Merdeka (Dalam Langkah & Do'a)

Puja Aroma senja menyengat lamunku Ada diam di hatiku Ada sendu di pikirku Sayup angin bicara; sayup laut menerka Di pesisir ku termenung memandang cakrawala Bulan Qur'an singgah ribuan detik yang lalu Kini Tinggal bayang-bayang manis tersisa di balik punggungku Dulu. Ia singgah di hari yang sama denganku saat ini Dulu. Se musim yang lalu Dulu. Ia datang membawa taqwa Dulu. Bersama kidung-kidung pujangga teruntuk Dia Yang Maha Segala Dulu. Ia dendangkan damai Kini. Tinggal bias asa melerai : kegetiranku yang menyemai Ada kah bendera merdeka berkibar pesona? Adakah ia menegak sentausa dalam lantunan puja? Adakah? Aroma senja mengutuk lamunku Ada suara merdu memanggilku Ada tawa riuh menyapaku Mereka anakku. Mereka cucu ku. Mereka benih bangsa penerus cita Sayup angin menerpa; sayup laut mendamba Ku pinta pada Tuhan Yang Esa Merdeka bumiku : dalam langkah dan do'a Kini. Nanti Hingga lapuk jasadku di dasar bumi Hingga sajakku tak didengar l...

Kebebasanku (Inilah Aku)

Dan Inilah Aku Dan inilah aku . Inilah kebebasanku . Haruskah kutegaskan padamu? Ku arungi langkah ku sendiri. Tak peduli apapun pendapatmu. Persetan dengan segala hujatmu. Inilah aku. Inilah jalan ku. Kata . Rima. Nada. Mengalir dalam darah mu memuja segala. Buat apa mendengarkan petuahmu jika kau gentar menjadi aku? Gunakah menuruti ocehmu jika kau tak mengenal alur takdirku? Inilah aku. Inilah hidup ku. Ku tak mau menuruti arus gelombang. Biarpun ia menegaskan pada lembah elok yang memadang . Ku tak mau mengikuti laju sang bayu. Untuk apa begitu?  Inilah aku. Inilah pikirku. Agama . Sejarah . Pandangan kekuasaan yang kau sodorkan di jidatku. Mengapa ku harus mengikutinya? Bukankah aku punya jiwa? Haruskah kau paksakan mereka seakan aku tak bisa membedakannya : mana yang benar dan mana yang salah ?  Kau lupa dirimu sendiri sesat memandang mereka? Haruskah ku mengikutinya? Inilah aku. Inilah hatiku. Ku lalui umurku dengan taqwaku. Asas. BisikanNya sudah menje...

Salam Tempel (Potret Seorang Bocah)

Ada Pesan di Balik Kekayaanmu Seorang bocah Duduk manis di ruang tamu Jemari kecilnya yang lugu Silap-selip hitungi uang di saku Seribu, dua ribu    lima ribu, sepuluh ribu    ah, tiga puluh ribu Alhamdulillah , gumamnya lepas 'Untuk bantu Ummi membeli beras' Desau pikirnya yang bebas Teringat sepiring nasi yang dilahapnya berdua    hingga sunyi tak bersisa Malam takbir yang lalu... Subhanallah! *** Seorang bocah Bersijengkang di kamar remang Jari kekarnya koreki dompet mewah Mencoba jumlahi pemberian sanak saudara Sepuluh ribu, dua puluh ribu    seratus ribu, dua ratus ribu    ah, sejuta Pelit sekali mereka , gerutunya marah 'Tak leluasa ku beli potret gerak para bidadari jahiliah' Makinya sendiri bergumul desah Terbayang betina jalang di layar kaca syahwat, Terkilas semu kenikmatan yang lewat Terkenang ia akan tarian tangan yang leluasa    hingga pagi silau mengingatkannya Malam takbir ...