Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Politik

Kontak Jodoh

Sudut yang sering tak kuperhatikan. Entah mengapa mataku kali ini begitu tak ada kerjaan. Kontak Jodoh , begitu dituliskan dan memajang sebuah iklan membangunkan kantukku pada kehidupan: Sedang mencari pria atau wanita. Usia berapa saja, asal masih bernyawa. Badan sehat, otot kuat, tapi tak bertulang baja (Khawatir kiriman dari 'sebelah'). Bisa mengetik dengan sebelas jari dan membaca dengan mata hati. Mahir berdebat dengan siapa saja dan tema apa saja, kecuali agama (Khawatir diprotes sama 'sebelah'). Penampilan menarik, syukur-syukur membuat gidik. Tidak melodrama, tidak melankolia, dan tidak gemar mengumbar air mata . Menaruh hati dengan iklan ini? Sampaikan riwayat hidup melalui redaksi. Demikian kata rubrik itu menunjuk alamat proposal perjodohan: Jalan Tuli Nomor Satu Kecamatan Bisu, Kabupaten Dungu. Untuk Penerima: Jodoh mu, Jika Mau. Cilegon, 06 September 2020

Pada Suatu

// Pada suatu batu aku menemukan diriku Memerangkapkan diri dalam beku aku menemukan diriku pada suatu batu \\ Dan pada suatu kayu aku mendapati nama ku Menyerak dalam puing-puing debu aku mendapati namaku pada suatu kayu // Akhirnya pada suatu guyu aku mengaburkan tentangku Menghilangkan catatan dari semua halaman buku seperti eyangku, eyangmu dan mungkin ayah kita dulu saat menghilangkan orang-orang tak bersalah tahun enam puluhan lalu dan tak lagi kau dapati aku pada suatu guyu

Sewindu Pagi

Jejak manyar berkelebat di rimba halimun. Menyamar di daun-daun. Tersamar di lereng sunyi yang menahun. Suara ratap matahari dari ufuk : repih dan buruk.    Alam duka merutuk... Gelap dan Senyap Bergunduk tanah sirah. Bertumpuk hati merah. Dendam malam terbayang di langit mendung. Tinggallah asa dikunyah gundah gulita. Fatwa-fatwa buntung cerita. Gurindam petuah lumpuh makna. Orang-orang berjalan ke luar rumah . Orang-orang berlari menuju neraka. Bersama seribu lolong. Bersama seribu syahwat tirani berjubel dalam gerbong.    Medan petaka disongsong... Setangkai seroja layu di akhir kuncup. Gerhana pintu hari padanya mencucup. Celah pun kincup. Tak ada lagi mahkota yang recup. Tak ada lagi wangi melingkup. Dan, sewindu pagi dengung memurung. Menyabda wajah semesta dalam nestapa.    Kleptokrasi dalam opera... Sumber Gambar : Baltyra.com - Mengenang Kabut Hangat

Misteri Lelucon Hari Ini

Berita Hari Ini Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti enigma lagi. Kemarin kau kenyang dijejali Century. Kali ini ku jamin kau renyang disuguhi Bunda Putri. Esok, tentang apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti kegundahan lagi. Kemarin kau resah melihat pangeran muda kita dikitari korupsi. Bagaimana soal cemoreng di muka pengawal konstitusi? Esok, siapa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti keriuhan lagi. Kemarin kau muak dengar pekik atraksi si Bintang Mercy. Kini kau sebah simak hujan maki bagi Ahok-Jokowi. Esok, apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Selain TKI diancam pancung. Selain lahan tani yang murung. Selain kegamangan langkah yang masih saja di kedua tungkai kaki kita mengerubung. Ada lagikah yang kau dapati detik ini?      Selamat datang di misteri lelucon hari ini ! Semoga kau tak bosan menikmati! Aamiin. Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Dies Natalis Tirani Reformasi

Dulu kupikir pergolakan suara itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Kakakku kerap berkata : "Orde Baru harus musnah demi kehidupan yang cerah." Aku sangat mempercayainya. Hingga di hari ia berangkat ke medan laga, hingga pelukan terakhirnya di rengkuhan lenganku. Hingga ketika bayangan punggungnya hilang di pertigaan jalan. Hingga detik itu aku masih yakin pada perkataannya. Dan jasadnya teronggok di dalam peti kayu. Bisu. Muram dan kelabu. Di televisi begitu gaduh. Entah senjata, entah pekik laknat pada sang raja. Ku mengacuh. Ku hanya ingin memandangi muka kakak lelakiku sekali lagi. Ku hanya ingin memandangi parasnya 'tuk terakhir kali. Apa Guna Pengorbanan Itu? Dan dulu kupikir pertumpahan darah itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Raung merdeka dan sujud syukur bergema di mana-mana. Mahkota raja berpindah sementara teriak memaki masih meninggi. Revolusi lancar setengah misi. Dan perjuangan masih panjang lagi. Tiba...

Sepasang Remaja dan Besikal Tua

Mereka tertawa menembusi kegarangan dunia Menyusuri lorong-lorong tanda tanya; melewati keheningan tanpa kata Padang-padang perhentian sinis menyapa Dan. Itulah mereka Masih bermanja di atas besikal tua Hidup Sederhana Roda-roda menapaki alam semesta Tak duli cabaran kemarau menggila; pun pula gemparan penghujan mendera Sekotak tulus menghembus Jadi angin segar di tengah busuk buruknya suara dengus Danau-danau persinggahan mengusir nyinyir Dan. Itulah mereka Masih bermesra di atas besikal tua Pahatan janji terlukis di bintang-bintang Ukiran sumpah tersurat di gelombang samudera Apalah guna bisik-bisik jikalau hati tak lagi terusik? Apalah guna sejuta pekik :      Bukankah asmara tak punah karena selusin dengki meringkik? Lembah-lembah harapan tersenyum ramah Dan. Itulah mereka Tetap merenda di atas besikal tua Ya. Itulah dia Sepasang remaja dan besikal tua mereka Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi *Terinspirasi Lagu Hidup Sederha...

Kelakar Sepi

Seorang lelaki. Berkelakar dengan sepi . Sendiri. Sendiri. Sendiri... Dia bertanya pada malam hari, "dimana kasih?" Sayang. Bintang bisu berdiam diri. Dia bertanya pada angin lirih, "dimana hati?" Sayang. Udara pucat pasi. Dia kembali berkelakar dengan sepi. Sendiri. Sendiri. Sendiri...                      ... menunggu pagi hari...

Bintang Malam Lalu

Menunggu Gelap Suatu Hari Nanti Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah -wajah tak berdaya. Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita... Kedamaian , kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu . Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku , kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan . Harus kita diam kan, atau kita musnahkan? Padamu, kutanyakan! Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night

Serdadu Tanah Airku

Darma Mulia Pada Bangsa & Negara Gegap langkah kakimu Bak irama merdeka Mengundang tawa nusantara jaya Hai, Serdadu ! Kemana kini kau menuju? Lantang suara. Tajam sorot mata Bak harimau sabana Menebar gentar serigala padang bulan Hai, Serdadu! Dimana kau labuhkan kokang senjata mu? Tekadmu ksatria Demikian kakek nenekku dulu ber kisah Laksana gelombang samudera Menyapu senyap kepengecutan bela bangsa Hai, Serdadu! Bagaimana kau dendangkan bisik hati mu? Serdadu tanah airku Serdadu ibu pertiwiku Haruskah kau sembunyikan jiwamu    di balik hasutan nafsumu? Haruskah kau kerdilkan sejarah    di tumpukan bangsatnya dunia ? Ah. Tak terlalu murahkah? Kepadamu, aku percaya Semoga... Sumber Gambar : TNI AD Official Website , TNI AU Official Website , TNI AL Official Website , dan Merdeka.com   dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Improvisasi

Improv! Tak perlu kaku Berjalanlah dengan iramamu! Kata siapa bising itu sinting? Kata siapa berdebu itu kelabu? Tengoklah riuh rendah di depan kepalamu! Keindahan mana yang seperti itu? Tak perlu kaku Berjalanlah! Berjalanlah! Dan, Tak perlu bisu! Bernyanyi lah dengan hatimu! Kata siapa sumbang itu jalang? Kata siapa buta nada memaksamu kehilangan suara ? Kata siapa, hah? Dengarkan sahut bunyi di balik telingamu! Kemerduan mana memersis itu? Tak perlu bisu! Bernyanyilah! Bernyanyilah! Improvisasilah! Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Merdeka (Dalam Langkah & Do'a)

Puja Aroma senja menyengat lamunku Ada diam di hatiku Ada sendu di pikirku Sayup angin bicara; sayup laut menerka Di pesisir ku termenung memandang cakrawala Bulan Qur'an singgah ribuan detik yang lalu Kini Tinggal bayang-bayang manis tersisa di balik punggungku Dulu. Ia singgah di hari yang sama denganku saat ini Dulu. Se musim yang lalu Dulu. Ia datang membawa taqwa Dulu. Bersama kidung-kidung pujangga teruntuk Dia Yang Maha Segala Dulu. Ia dendangkan damai Kini. Tinggal bias asa melerai : kegetiranku yang menyemai Ada kah bendera merdeka berkibar pesona? Adakah ia menegak sentausa dalam lantunan puja? Adakah? Aroma senja mengutuk lamunku Ada suara merdu memanggilku Ada tawa riuh menyapaku Mereka anakku. Mereka cucu ku. Mereka benih bangsa penerus cita Sayup angin menerpa; sayup laut mendamba Ku pinta pada Tuhan Yang Esa Merdeka bumiku : dalam langkah dan do'a Kini. Nanti Hingga lapuk jasadku di dasar bumi Hingga sajakku tak didengar l...

Kebebasanku (Inilah Aku)

Dan Inilah Aku Dan inilah aku . Inilah kebebasanku . Haruskah kutegaskan padamu? Ku arungi langkah ku sendiri. Tak peduli apapun pendapatmu. Persetan dengan segala hujatmu. Inilah aku. Inilah jalan ku. Kata . Rima. Nada. Mengalir dalam darah mu memuja segala. Buat apa mendengarkan petuahmu jika kau gentar menjadi aku? Gunakah menuruti ocehmu jika kau tak mengenal alur takdirku? Inilah aku. Inilah hidup ku. Ku tak mau menuruti arus gelombang. Biarpun ia menegaskan pada lembah elok yang memadang . Ku tak mau mengikuti laju sang bayu. Untuk apa begitu?  Inilah aku. Inilah pikirku. Agama . Sejarah . Pandangan kekuasaan yang kau sodorkan di jidatku. Mengapa ku harus mengikutinya? Bukankah aku punya jiwa? Haruskah kau paksakan mereka seakan aku tak bisa membedakannya : mana yang benar dan mana yang salah ?  Kau lupa dirimu sendiri sesat memandang mereka? Haruskah ku mengikutinya? Inilah aku. Inilah hatiku. Ku lalui umurku dengan taqwaku. Asas. BisikanNya sudah menje...

Kulihat

Bendera Di Bidikan Sejarah Kulihat Seribu bendera merah putih Sobek di pusara mimpi Ku dengar sesah nafas perawan Terjaga dari bayangan mengerikan Ribuan suara menuntut waspada Sepuluh wajah menggeleng percuma Lalu. Waktu menunjukkan kebenarannya Dimana kanak-kanak yang murni meniti zaman? Dimana gadis jelita yang elok menghiasi taman ? Dimana jejaka gagah dan baju zirah? Dimana mereka semua? Dimana? Dimana?! *** Ku dengar tawa durjana Berpesta pora di atap dunia Ku dengar obrolan mereka Tentang syahwat atau cinta kilat Dan Kulihat Di bumiku bertebaran jasad-jasad membisu Tak mati . Tak pula hidup Nyawa mereka tercekat asa redup Merekalah potret bencana :    tunas muda diamuk masa,    bunga ranum dalam bencana , dan    ksatria tangguh di pucuk ajalnya Dan kau bisa menemukannya di tanahku Orang sebut ia... Indonesia Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Lingkaran Beku

Senja kelana Pucat engkau di ambang gulita Mega gulana pekat menyapa Hadir dari ufuk bahala Meneriakkan dendam luka yang lama Tak Ada yang Memperhatikan Kami Aku . Mereka Dan seribu kepala yang nyaris binasa Kami termangu di bawah purnama    yang membayang-bayang    yang semu di pintu angan jalang Pekik protes mayat kutu miskin yang mati hari kemarin Masih segar meniupkan kutukan nya yang bacin Aku. Mereka Dan seribu kepala yang kaku di ujung nestapa Kami bertanya :    "Dimanakah telinga yang mau mendengar kami?"    "Dimanakah mata yang sudi melihat kami?"    "Dimanakah hati yang duli menampung jerit sukma kami?" Sayang. Alam lengang Lingkaran beku begitu terjal mengekang Dan... Aku. Mereka Dan seribu kepala yang pasrah Perlahan tenggelam tanpa cahaya... Sumber Gambar : Book of Life dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Antipode*

Menyadarkan Diri (Seorang Manusia yang Manusiawi Tercenung di Tepi Kali) Aku tak tahu Siapa kamu yang ada tepat di bawah kakiku Aku sungguh tak tahu Dan aku lebih tak tahu Bagaimana pikiranku Bisa menerawang padamu Sekalipun kita tak pernah bertemu Sekalipun bayang mu Tak pernah terlintas di benakku Lantas, Mengapa perasaan ini begitu jelas? * Antipode : "1) dua tempat yang terletak di belahan bumi yang berlawanan; 2) belahan bumi yang letaknya berlawanan dengan tempat kita; 3) orang-orang yang saling bertentangan atau berlawanan pendirian." Sumber Gambar : Apa Kabar Dunia dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

"Matahari" Ala Chrisye-Aning Katamsi : Hikmah di Balik Gejolak BBM

Kelam Berharap SEBELUM kita berbincang lebih jauh, simak dulu yuk lirik manis dari tembang yang melegenda ini? Ada banyak makna dan interpretasi (penafsiran) yang bisa kita tangkap dari tembang karya Om Eros Djarot dan Om Jockie S. ini. MATAHARI Oleh Chrisye-Aning Katamsi (BPB '99) Musim berlalu resah menanti Matahari pagi bersinar gelisah Kini... Semua bukan milikku Musim itu t'lah berlalu Matahari segera berganti... Dimana kau timbun daun yang layu? Makin gelisah aku menanti :    Matahari dalam rimba kabut pagi Sampai kapankah aku harus menanti? Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan Daun yang layu berguguran di pangkuan Kapan badai pasti berlalu? Resah aku menunggu Kapan badai pasti berlalu? Badai pasti berlalu Haaaaa... Haa haa haaaaa haa haa Haa haa haa haaa haa Haa haa haa haa haa haa haaaa Dimana kau timbun daun yang layu? Makin gelisah aku menanti Matahari dalam rimba kabut pagi Sampai kapankah aku harus menanti? Musim berlalu resah menanti Matahari pagi ...

Nasehat Chrisye Untuk Para Aktivis : Refleksi Lagu "Hilangnya Sebuah Pribadi"

Selentingan Sang Legenda CHRISYE (alm.) , sosok musisi legendaris yang meledak dan masuk ke kancah musik nasional dengan debut Badai Pasti Berlalu tahun 1977 dikenal sebagai sosok penyanyi solo pria yang anteng (Jawa : diam, tenang, tidak banyak tingkah). Publik mengenal beliau dengan lagu -lagu yang secara umum bernafaskan cinta. Dan, memang itulah yang terkenal dari beliau. Tapi, tahukah di antara Sahabat Manyar sekalian jika beliau juga "aktif" menembangkan lagu-lagu yang humanis dan ada kalanya mengusung tema kritik sosial? Tulisan kali ini akan membedah salah satu lagu Om Chrisye yang cukup kental nuansa kritik sosialnya. Dan yang lebih penting, cukup relevan dengan situasi kita saat ini. *** Di tahun 1984 (setidaknya demikian dalam folder album yang saya miliki), Om Chrisye bersama-sama dengan dua sosok musisi kawakan lainnya, yaitu Om Eros Djarot dan Om Jockie S., melahirkan sebuah karya musik baru yang menjadi album lagu kesekian Om Chrisye. Album t...