Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Humanis

Sekuncup Mawar di Batas Fajar

: Teresa from Calcuta Malam teramat panjang, Sayang Mengapa begitu panjang dirimu bertualang?  Tidak dulikah engkau pada ranjang yang me rindu kan dirimu berbaring dengan tenang? Senyum purnama dari rimba kota menjelma matahari di ubun benua Ya, bungamu, Sayang dan dataran yang memandang sebelah mata pada nyanyian lambung dan senandung dahaga  yang mendung Kelopak bungamu memancing kumbang dan kupu bertandang Kalian berbincang lalu tiba-tiba menjadi terang Seakan purnama melipat ganda dan gelap seketika sirna Se-a-kan Hampir pagi Fajar menjelang sesaat lagi Musim semi. Musim sunyi Angin berlari membawamu menepi Wajahmu tua, Sayang Wajah mu lelah Kemarilah, Sayang Ini ranjang sudah berdentang Ini jarum jam sudah berdendang Hampir pagi, Sayang Fajar menjelang sesaat lagi Kemari Mari hadir di dalam puisi Maka kau abadi Maka kau lestari Meski bau kakimu sudah tak tercium lagi

Ada Siapa Di Punggung Kita?

Aku merasa ada sesuatu di punggungmu dan punggungku. Sesuatu yang membuat bahu memikul dan tulang belakang terpukul-pukul, sedangkan kita bukan tukang pikul yang terbiasa dipukul-pukul oleh jarum jam, pentul menit, atau pendulum detik Kita hanya manusia yang biasa pelik Aku merasa sungguh ada sesuatu di punggung mu dan punggungku. Sesuatu itu sesekali merayap di kepala lalu singgah di daun telinga lalu rebah di antara logika dan rasa. Ya, rasa yang wabah oleh katanya atau sepertinya . Lantas kita menjadi kuli kebun-kebun Deli yang diingat sebagai alas kaki jongos kompeni atau mungkin priyayi berkasut kulit sapi yang bersolek menjadi sang maharaja senyatanya budak paling nyata Aku merasa tidak ayal lagi ada sesuatu di punggung kita yang tiba-tiba ia bertangan lalu berkaki lalu berlidah lalu bergetah lalu berludah atau bersperma. Basah yang dibuatnya begitu amat perkasa melahirkan jarak dan jejak yang jamak membuat kita semakin tampak menjadi pengembara...

Jusuf Memungut Rembulan

: B.J.H Jusuf bersijingkat melangkah ke dapur dengan lambat Ia lihat : rembulan terdamprat! Wajahnya retak sangat Matanya merah; menangis sia-sia Ia sembunyi di balik pintu ; menunggu sepuluh, dua puluh lelaki dungu itu berlalu dan meninggalkan si rembulan sendiri dan tersedu Ia masih sembunyi di balik pintu ketika lelaki-lelaki itu perlahan menjauh dan tawa mereka sumbang berlalu Jusuf mendekat malu-malu Ia menutup mata; tak tega melihat rembulan compang-camping di baju Ia memejam mata. Tak kuasa melihat rembulan berdarah di muka, di bahu, di dada, dan di di di di .... Jusuf menjingkat membawa gumpalan kain belacu Ia rentangkan lebar-lebar. Ia bentangkan dan berkibar Menjelma bendera. Menjelma sang saka Ia kudungkan ke pundak rembulan yang masih sendu Selepas itu, perlahan ia menjauh lalu berlalu tapi tak seperti sepuluh, dua puluh lelaki dungu lalu Ia tak tertawa. Pun tak menebar tuah dan ludah seperti mereka Ia meninggalkan punggung yang menjadi cermin r...

Matahari di Kaki Budi*

Ada matahari di kaki Budi yang mengintip di mula pagi ketika bibir jelita perempuan dini hari meniupkan asap rokok yang letih menanti si tuan tak datang lagi Ada matahari di kaki Budi sekali-kali memendarkan sinar ambisi Akan tetapi, cahaya itu mati ketika seorang bayi menangis tak dikenali Ada matahari di kaki Budi yang kini sudah setinggi mimpi Lihat! Jidat Budi diembat! Pekat, berkeringat. Budi lunglai di simpang empat Ada kaki Budi di matahari yang perlahan menenggelamkan diri dalam sunyi kota hewani yang ditaburi remah kata puisi *Terinspirasi Sore Tugu Pancoran , dipopulerkan Iwan Fals.

Tentang Sebuah Kata

Dia datang dari entah Kita hanya bisa menerka Kita hanya bisa meraba Pertanyaan tak memuaskan dalam jawaban Kita pun pasrah Kita pun tunduk menerima Kita tidak pernah benar-benar mengerti     bagaimana sebuah kata kita miliki Ejaan gagu manusia jaman batu    atau kejeniusan orang modern dengan kepekaan yang semu? Kita hanya tahu Kata    dan segala perangkatnya yang ada    hidang di piring kita :     sebuah lembaran bergaris,    berlatar putih dan berwajah manis    dengan sebuntung pena jadi sendoknya Selamat makan ! Selamat mengunyah kata! Semoga kau tak mual dibuatnya!

Di Suatu Jum’at

"Teringat" Oly teringat semalam demikian nikmat dan seolah tak perlu rehat. Pagi ini ia seperti menemukan muslihat. Suamikukah bersama Iche itu? "Target" Hari ini deadline baginya untuk menjual puluhan botol oli itu. Namun, ia memilih memenuhi target dari Majikannya. Di shaf depan sekali ia tengah ber doa . "Pulang Jumatan" Seperti kata wahyu Tuhan , Doni bertebaran ke muka bumi usai shalat Jumat tadi. Matanya sibuk memilih. Siapa yang bisa ia copet lagi? "Batal Rujuk" Ia mengira Yuli masih marah karena kata kasarnya tadi pagi. Ketika ia pulang untuk minta maaf, di ruang tamu penuh orang . Siapa itu dibungkus kafan? "Sedekah" Pak tua mengayuh becak dengan cuma-cuma. Sedekah , katanya. Saat petang, ia duduk di teras mushala dengan senyum lelahnya. Lalu menutup mata . Selamanya.

Membual

Aku adalah orang besar di antara mereka yang besar : si kepala besar si perut besar si mulut besar Dan aku adalah orang benar di antara mereka yang benar : benar-benar minta dianggap benar benar-benar dipaksa berpura benar benar-benar tak tahu bagaimana bertindak benar Demikian aku membual yang ku harap tak membuatmu mual

Lima Cerita di Minggu Ketiga September Kita

"Promosi" Tak seperti layaknya, ia murung setelah dipromosikan. “Nitip ya Om. Anak baru. Masih malu,” ujar si wanita menor. Melia hilang pergi . Entah bila kembali. "Iri" Anto iri pada Nursaka yang diberi presiden sepeda. Bukankah ia juga selalu melintas ke negeri Jiran setiap hari? Ah, ya. Bukankah ia hanya kurir ganja? "Sakit" Riky sungguh kesakitan usai kecelakaan kemarin. Bukan karena patah tulang di kaki, melainkan karena tak ada seorang pun yang peduli. "Adzan" Jii ingin sekali menyahut kumandang adzan itu, namun ia teramat lemah dalam ini bungkusan kain kafan. "Bisa" Uci dengan girang mengacungkan belati berdarah pada ayah nya yang tersentak. “Hore! Uci bisa Yah seperti Ayah kemarin ke Mang Agil!”

Aku (2)

Potret Diri Aku memandang langit dan tiba-tiba bintang bersuit. Ada yang jatuh cinta , godanya. Aku senyum saja. Salah sangka dia , batinku tak terkata. Ku duduk di antara langu masa lalu. Dan kepingan-kepingan waktu ; dan remahan-remahan jemu; dan selaksa tanda tanya tentang masa depan yang serba abu-abu. Ku buang segala duliku. Ku raba sisa hati sabar yang ku punya. Ku lempar sipuku dan ku dengar rembulan tertawa. Ada yang jatuh cinta , katanya. Gundulmu , gelakku padanya. Dan ku letakkan lagi ia-hati sabar itu-ke dalam kepala yang selalu seenaknya saja menyuruhku murka. Aku berdiri menyusuri hari-hari. Jalan an arteri. Lorong kehidupan yang penuh misteri. Ku tak perlu mereka. Ku tak perlu dirinya. Ku tak perlu dirimu. Hingga ku sadarku pada kodrat diriku ... Sumber Gambar : UKM LDK MPM UNHAS - Kontroversi Mengenai Jenggot

Aku

Aku Aku Ya. Aku sebagaimana kau tangkap di matamu Aku sebagaimana tercitra di kehidupanmu Di langkahmu Di keheningan ragu jalan mu yang akan meredupkan nasibmu Jika aku dan segala keletihanku memuncak di hatiku Maaf : andaikata ku muntahkan sajak ku di mukamu Jika aku dan segala kejemuan klimaks di akalku Maaf : 'pabila nanti ku lemparkan baitku di jidatmu Aku Ya. Aku sebagaimana kau perangkap di khotbah bualmu Aku sebagaimana mencermin di rona takdirmu Di jejakmu Di keangkuhan palsu lajumu yang akan menghapuskan dirimu Sumber Gambar : Purnama Senja - Mesiu

Di Matamu Ku Temukan

Mata Indahmu Di matamu    ku temukan tempatku berlabuh    Merapatkan perahu    Menebar sauh    Menikmati lagi kedamaian yang lama menjauh Di matamu    ku temukan saungku berteduh    Menyeka peluh    Menguatkan kaki meneguh    Mencecapi udara yang lama menyisa titik-titik keruh Di matamu    ku temukan oase perhentian kembara panjangku    Hai, Kamu!     Sudikah kau temani aku ?    Bersanding berdua    Di bawah purnama jelita    Sembari berbincang tentang aku, kamu,       dan matamu       yang menjadi pintu keselamatan bagiku       dari sepi menjemu       dari gelap menjamu       dari rindu nan biru       dari gelisahku       andai tak menatap lagi matamu . Andai Sumber Gambar : Catatan Bunda Alif

Menuju Perhentian Akhir

Kau dan aku sama. Berjalan. Mencoba menyusuri pengembaraan. Sejuta tangan mengajak serta. Dan sejuta tangan pula menggiring ke neraka. Seribu mata memandang perangah. Haruskah berpayah-payah? Kau dan aku sama. Mendebat arah. Berpusing ria di tempat semula. Selaksa suara berbisik menggoda. Dan seribu jua kibuli kita dalam dusta. Sebaris telinga menyimak tak percaya. Haruskah sedemikian susah? Perjalanan Panjang Kita lewati satu demi satu : stasiun dan peron-peron persinggahan . Kita tatap wajah -wajah puas dan cemas. Juga sederet mimik bias. Seakan-akan di sanalah ujungnya. Seakan-akan di situlah muaranya. Dan kereta kembali berjalan. Meninggalkan pengkhayal di tepian. Menyeret pecundang di lintasan. Menampung pejuang di bangku-bangku rotan gerbong harapan. Dan pastinya : kau dan aku sama . Kita meraba dengan segenap peluh yang ada. Kita merasa lewat selusin penat yang melanda. Kita sama-sama menuju sana : perhentian akhir yang jingga . Sembari kita menunggu surya jatuh ke ...

Kidung Buana*

Tanpa kata. Hanya irama alun menggema. Tanpa rima. Biarkan hasrat riang berterka : pada matahari . Pada langit pagi . Pada puisi yang remah berbangkit di hati . Tanpa hirau. Hanya hening bak malam di atas danau. Tanpa gurau. Biarkan wajah merangkak melepas galau : pada nebula mimpi . Pada semburat partikel janji . Pada sepadang misteri racik simphoni. Tanpa puja. Hanya sepasang telinga khusyuk menjamah. Tanpa damba. Biarkan jiwa lepas memepah : segala duka . Segala luka . Segala dusta yang mewabah di dunia . Dan akhirnya. Orkestra masih bersuara. Merayap dari argadwipa. Menuju kekosongan jiwa.      Kidung Buana ... *Terinspirasi Highland , dipopulerkan Yanni (Album " If I Could Tell You ", 2000)

Misteri Lelucon Hari Ini

Berita Hari Ini Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti enigma lagi. Kemarin kau kenyang dijejali Century. Kali ini ku jamin kau renyang disuguhi Bunda Putri. Esok, tentang apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti kegundahan lagi. Kemarin kau resah melihat pangeran muda kita dikitari korupsi. Bagaimana soal cemoreng di muka pengawal konstitusi? Esok, siapa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti keriuhan lagi. Kemarin kau muak dengar pekik atraksi si Bintang Mercy. Kini kau sebah simak hujan maki bagi Ahok-Jokowi. Esok, apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Selain TKI diancam pancung. Selain lahan tani yang murung. Selain kegamangan langkah yang masih saja di kedua tungkai kaki kita mengerubung. Ada lagikah yang kau dapati detik ini?      Selamat datang di misteri lelucon hari ini ! Semoga kau tak bosan menikmati! Aamiin. Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Dies Natalis Tirani Reformasi

Dulu kupikir pergolakan suara itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Kakakku kerap berkata : "Orde Baru harus musnah demi kehidupan yang cerah." Aku sangat mempercayainya. Hingga di hari ia berangkat ke medan laga, hingga pelukan terakhirnya di rengkuhan lenganku. Hingga ketika bayangan punggungnya hilang di pertigaan jalan. Hingga detik itu aku masih yakin pada perkataannya. Dan jasadnya teronggok di dalam peti kayu. Bisu. Muram dan kelabu. Di televisi begitu gaduh. Entah senjata, entah pekik laknat pada sang raja. Ku mengacuh. Ku hanya ingin memandangi muka kakak lelakiku sekali lagi. Ku hanya ingin memandangi parasnya 'tuk terakhir kali. Apa Guna Pengorbanan Itu? Dan dulu kupikir pertumpahan darah itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Raung merdeka dan sujud syukur bergema di mana-mana. Mahkota raja berpindah sementara teriak memaki masih meninggi. Revolusi lancar setengah misi. Dan perjuangan masih panjang lagi. Tiba...

Togata* Derita Anak Manusia

Raut Wajah Kota Suara kota memekik. Suara ambisi lantang meringkik. Seribu wajah. Seribu langkah. Pucat pasrah melupa tengadah. Tuhan tak bisa diandalkan hari ini. Kata mereka dalam hati. Suara kota menjerit. Suara desak menajam ke langit. Sejuta kata. Sejuta babak cerita mengalur bak hulu sungai menuju samudera. Tumpang gelimpang telanjang. Kebaikan bukan saatnya terpajang. Kata mereka di kepala. Di gedung-gedung; di meja-meja. Di jalanan buas dan serakah. Di trotoar yang meniupkan angin jengah. Mereka tak pernah puas menghambakan diri. Tunduk pada siapa, rutuk pada siapa. Detik jam serasa kejam. Detik jam laksana lubang nasib yang suram. Yang kusam... Togata derita anak manusia . Fabula mereka tercatat dalam peliknya sejarah. Tak ada yang menyadarinya. Atau, tak ada yang mengakuinya? Tuhan datang dengan kemerdekaanNya. Agama hadir dengan kebebasannya. Dan manusia hadir dengan membelenggukan dirinya. Entah sampai bila lelucon ini begini. Catatan : *) Jenis fabula (isti...

Sepasang Remaja dan Besikal Tua

Mereka tertawa menembusi kegarangan dunia Menyusuri lorong-lorong tanda tanya; melewati keheningan tanpa kata Padang-padang perhentian sinis menyapa Dan. Itulah mereka Masih bermanja di atas besikal tua Hidup Sederhana Roda-roda menapaki alam semesta Tak duli cabaran kemarau menggila; pun pula gemparan penghujan mendera Sekotak tulus menghembus Jadi angin segar di tengah busuk buruknya suara dengus Danau-danau persinggahan mengusir nyinyir Dan. Itulah mereka Masih bermesra di atas besikal tua Pahatan janji terlukis di bintang-bintang Ukiran sumpah tersurat di gelombang samudera Apalah guna bisik-bisik jikalau hati tak lagi terusik? Apalah guna sejuta pekik :      Bukankah asmara tak punah karena selusin dengki meringkik? Lembah-lembah harapan tersenyum ramah Dan. Itulah mereka Tetap merenda di atas besikal tua Ya. Itulah dia Sepasang remaja dan besikal tua mereka Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi *Terinspirasi Lagu Hidup Sederha...

Kelakar Sepi

Seorang lelaki. Berkelakar dengan sepi . Sendiri. Sendiri. Sendiri... Dia bertanya pada malam hari, "dimana kasih?" Sayang. Bintang bisu berdiam diri. Dia bertanya pada angin lirih, "dimana hati?" Sayang. Udara pucat pasi. Dia kembali berkelakar dengan sepi. Sendiri. Sendiri. Sendiri...                      ... menunggu pagi hari...

Bintang Malam Lalu

Menunggu Gelap Suatu Hari Nanti Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah -wajah tak berdaya. Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita... Kedamaian , kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu . Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku , kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan . Harus kita diam kan, atau kita musnahkan? Padamu, kutanyakan! Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night

Dusun Persinggahan

Tanah Impian Mendaki Perjalanan ku susuri Hening alam Sunyi diam Langit tersenyum dalam mendung yang mendegam Gentar hujan ku telan Ragu bayu ku singkirkan Petualangan ini menakjubkan Bagaimana mungkin harus ku tinggalkan? Dan kampung perhelaan menyapaku Tubuhnya merentang panorama Biru. Teduh menyeluruh Adakah kata mewakilinya selain 'pesona'? Adakah kesan memujinya selain 'indah'? Dan ku biarkan tubuhku,     hati ku,    pikirku,    dijajahnya hingga senja menenggelamkanku Di dalam rindu Di dalam jingga perhentianku Khusyuk menasbih wajah mu,    Duhai, Dusun Persinggahan     Sudikah kau menerimaku lagi nanti?    Setelah pengembaraan ini? Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi