Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tragedi

Kemarau Oktober (Koran-koran)

Koran-koran menyembunyikan diri Pagi ini, angin muson membatasi diri dan memanggil kawannya lagi meniupkan amarah ke penjuru bumi Koran-koran mengkhalwatkan diri! Kolom-kolom mereka menguping mati yang baru semalam terjadi di Lubang Buaya yang sunyi Aroma nyawa masih terasa menyelinap ke kaki Patung Dirgantara dan tembus ke Istana Darah! Darah meresap ke dalam tanah menuju air bawah menuju sumber segala gelisah menuju palung gulita dari sejarah yang tak kita kenali wajahnya Koran-koran menghentikan tubuhnya ditulisi Mereka mengintip gersang yang mulai datang dari pepohonan jalang yang hanya bisa memandang satu, dua cecunguk berlagak melangkah tanpa tunduk menuju gerbang riwayat yang akan dibuat yang akan diralat yang akan diserbahebatkan Koran-koran tahu diri untuk tak bersuara kini Mereka sadar ada yang akan menjerat mereka punya tulang belikat Hingga hampir separuh abad Hingga hampir cerita negeri ini tamat Maka, koran-koran membatasi napas nya Mereka biarkan kemarau mengusir hu...

Di Suatu Jum’at

"Teringat" Oly teringat semalam demikian nikmat dan seolah tak perlu rehat. Pagi ini ia seperti menemukan muslihat. Suamikukah bersama Iche itu? "Target" Hari ini deadline baginya untuk menjual puluhan botol oli itu. Namun, ia memilih memenuhi target dari Majikannya. Di shaf depan sekali ia tengah ber doa . "Pulang Jumatan" Seperti kata wahyu Tuhan , Doni bertebaran ke muka bumi usai shalat Jumat tadi. Matanya sibuk memilih. Siapa yang bisa ia copet lagi? "Batal Rujuk" Ia mengira Yuli masih marah karena kata kasarnya tadi pagi. Ketika ia pulang untuk minta maaf, di ruang tamu penuh orang . Siapa itu dibungkus kafan? "Sedekah" Pak tua mengayuh becak dengan cuma-cuma. Sedekah , katanya. Saat petang, ia duduk di teras mushala dengan senyum lelahnya. Lalu menutup mata . Selamanya.

Sewindu Pagi

Jejak manyar berkelebat di rimba halimun. Menyamar di daun-daun. Tersamar di lereng sunyi yang menahun. Suara ratap matahari dari ufuk : repih dan buruk.    Alam duka merutuk... Gelap dan Senyap Bergunduk tanah sirah. Bertumpuk hati merah. Dendam malam terbayang di langit mendung. Tinggallah asa dikunyah gundah gulita. Fatwa-fatwa buntung cerita. Gurindam petuah lumpuh makna. Orang-orang berjalan ke luar rumah . Orang-orang berlari menuju neraka. Bersama seribu lolong. Bersama seribu syahwat tirani berjubel dalam gerbong.    Medan petaka disongsong... Setangkai seroja layu di akhir kuncup. Gerhana pintu hari padanya mencucup. Celah pun kincup. Tak ada lagi mahkota yang recup. Tak ada lagi wangi melingkup. Dan, sewindu pagi dengung memurung. Menyabda wajah semesta dalam nestapa.    Kleptokrasi dalam opera... Sumber Gambar : Baltyra.com - Mengenang Kabut Hangat

Misteri Lelucon Hari Ini

Berita Hari Ini Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti enigma lagi. Kemarin kau kenyang dijejali Century. Kali ini ku jamin kau renyang disuguhi Bunda Putri. Esok, tentang apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti kegundahan lagi. Kemarin kau resah melihat pangeran muda kita dikitari korupsi. Bagaimana soal cemoreng di muka pengawal konstitusi? Esok, siapa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti keriuhan lagi. Kemarin kau muak dengar pekik atraksi si Bintang Mercy. Kini kau sebah simak hujan maki bagi Ahok-Jokowi. Esok, apa lagi? Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Selain TKI diancam pancung. Selain lahan tani yang murung. Selain kegamangan langkah yang masih saja di kedua tungkai kaki kita mengerubung. Ada lagikah yang kau dapati detik ini?      Selamat datang di misteri lelucon hari ini ! Semoga kau tak bosan menikmati! Aamiin. Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Dies Natalis Tirani Reformasi

Dulu kupikir pergolakan suara itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Kakakku kerap berkata : "Orde Baru harus musnah demi kehidupan yang cerah." Aku sangat mempercayainya. Hingga di hari ia berangkat ke medan laga, hingga pelukan terakhirnya di rengkuhan lenganku. Hingga ketika bayangan punggungnya hilang di pertigaan jalan. Hingga detik itu aku masih yakin pada perkataannya. Dan jasadnya teronggok di dalam peti kayu. Bisu. Muram dan kelabu. Di televisi begitu gaduh. Entah senjata, entah pekik laknat pada sang raja. Ku mengacuh. Ku hanya ingin memandangi muka kakak lelakiku sekali lagi. Ku hanya ingin memandangi parasnya 'tuk terakhir kali. Apa Guna Pengorbanan Itu? Dan dulu kupikir pertumpahan darah itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya! Raung merdeka dan sujud syukur bergema di mana-mana. Mahkota raja berpindah sementara teriak memaki masih meninggi. Revolusi lancar setengah misi. Dan perjuangan masih panjang lagi. Tiba...

Bintang Malam Lalu

Menunggu Gelap Suatu Hari Nanti Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah -wajah tak berdaya. Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita... Kedamaian , kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu . Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku , kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan . Harus kita diam kan, atau kita musnahkan? Padamu, kutanyakan! Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night

Elegi Evolusi Tragedi

Masihkah Kita Tak Menyadari? - Dunia senjata, belasan musim di belakang kita Dulu. Ke mati an berawal dari kegilaan akalmu. Beranjak menjadi orasi. Berangkat menjadi pasukan besi. Invasi. Bumi terbelah; langit memerah. Samudera menjadi danau amarah. Telaga menjadi kolam simbahan darah. Mayat-mayat : tak terbungkus berkalang tanah . Tangis. Dendam meritmis. Krisis. - Dunia maya, seperempat detik di depan , balik, atas, bawah, dan celah ketiak kita Kini. Kematian berawal dari kebodohan akalmu. Beralih menyulap teknologi . Bergerak menyihir kemurnian hati. Kematian tradisi. Cinta terpisah; hasrat menuah. Jiwa menjelma padang   mazmumah . Dada merekah menampung petaka. Zombi-zombi : berlintas waktu di depan kaca . Pasrah. Menenggelamkan diri sendiri tanpa murka. Ironis. Elegi evolusi tragedi mematik. Miris menitik... Sumber Gambar : Berbagi Ilmu dan The Epoch Times dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Salam Tempel (Potret Seorang Bocah)

Ada Pesan di Balik Kekayaanmu Seorang bocah Duduk manis di ruang tamu Jemari kecilnya yang lugu Silap-selip hitungi uang di saku Seribu, dua ribu    lima ribu, sepuluh ribu    ah, tiga puluh ribu Alhamdulillah , gumamnya lepas 'Untuk bantu Ummi membeli beras' Desau pikirnya yang bebas Teringat sepiring nasi yang dilahapnya berdua    hingga sunyi tak bersisa Malam takbir yang lalu... Subhanallah! *** Seorang bocah Bersijengkang di kamar remang Jari kekarnya koreki dompet mewah Mencoba jumlahi pemberian sanak saudara Sepuluh ribu, dua puluh ribu    seratus ribu, dua ratus ribu    ah, sejuta Pelit sekali mereka , gerutunya marah 'Tak leluasa ku beli potret gerak para bidadari jahiliah' Makinya sendiri bergumul desah Terbayang betina jalang di layar kaca syahwat, Terkilas semu kenikmatan yang lewat Terkenang ia akan tarian tangan yang leluasa    hingga pagi silau mengingatkannya Malam takbir ...

Zakat

Ketika Dunia Menguasai Hati Kita... Detik menjelang Batas akhir di ujung pandang Bagai kilatan pedang Senandung perpisahan sayat terdengar mengumandang Sendu mengerang Seratus juta wajah -wajah sayu Berselaput mega kelabu;    antri di barisan kaum layu Asa damba menerka Iman jua menyerba Yakin surya esok secercah bagi mereka Di sekeliling mereka Selusin kepala memandang dengan kecewa Tangan-tangan nista mereka;    ragu-ragu sisihkan zakat jiwa Kekikiran menitik nadir Fakir; nurani mengerdil Sementara itu Antrian makin membelakang Tengadah tangan-tangan harapan menjuntai ke langit Dan firman turun susupi hati yang sempit Dan... tiada terbangkit Seratus juta wajah-wajah lesu    menabur cemburu... Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Menjelang Buka

Potret Pilu Seorang perempuan muda terduduk lesu Gadis kecil di pangku    dan bayi mungil yang terlelap sayu    terkucil di tepian jalan dengan wajah layu Langit menjelang buka Maghrib sesaat kan menggema Sementara itu :     lapar meneguh di perut mereka Sementara itu :     lapar mengelus kesabaran mereka Sementara itu :     mereka terpenjara di kepapaan yang gulita "Harus tak berbuka lagikah hari ini?"    sembari mengenang sebungkus roti isi lima ratus rupiah    pemberian pemilik warung tua    persis di kala buka, kemarin lusa Tak jauh dari sana Sebuah meja bundar berhampar Buah. Susu segar. Makanan bagai sepeleton pasukan Suara tawa. Suara kufur menggema Tak lama, adzan pun tiba Raung kota bersegera melepas dahaga Suara piring bersidesak Suara garpu bagai hendak mengoyak Satu per satu daging terkunyah Sementara itu, Dengarkan tangis si bocah gula...

Kulihat

Bendera Di Bidikan Sejarah Kulihat Seribu bendera merah putih Sobek di pusara mimpi Ku dengar sesah nafas perawan Terjaga dari bayangan mengerikan Ribuan suara menuntut waspada Sepuluh wajah menggeleng percuma Lalu. Waktu menunjukkan kebenarannya Dimana kanak-kanak yang murni meniti zaman? Dimana gadis jelita yang elok menghiasi taman ? Dimana jejaka gagah dan baju zirah? Dimana mereka semua? Dimana? Dimana?! *** Ku dengar tawa durjana Berpesta pora di atap dunia Ku dengar obrolan mereka Tentang syahwat atau cinta kilat Dan Kulihat Di bumiku bertebaran jasad-jasad membisu Tak mati . Tak pula hidup Nyawa mereka tercekat asa redup Merekalah potret bencana :    tunas muda diamuk masa,    bunga ranum dalam bencana , dan    ksatria tangguh di pucuk ajalnya Dan kau bisa menemukannya di tanahku Orang sebut ia... Indonesia Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Suara Damba

Tulus Meminta Ampun Sejuta tangan tengadah Mendesah Di keheningan senja Atau di puncak malam yang gulita Hati yang gelisah Tak cukup muat sembunyi di balik pujian Dengarkan gemuruh penyesalan! Dengarkan jeritan ketakutan! Masa lalu. Karma mengejarmu Dan sejuta tangan semakin tengadah Merintih bak luka Di kedalaman pinta Di selaksa alun suara damba Pada Yang Esa... Sumber Gambar : AntaraSumbar.com

Lingkaran Beku

Senja kelana Pucat engkau di ambang gulita Mega gulana pekat menyapa Hadir dari ufuk bahala Meneriakkan dendam luka yang lama Tak Ada yang Memperhatikan Kami Aku . Mereka Dan seribu kepala yang nyaris binasa Kami termangu di bawah purnama    yang membayang-bayang    yang semu di pintu angan jalang Pekik protes mayat kutu miskin yang mati hari kemarin Masih segar meniupkan kutukan nya yang bacin Aku. Mereka Dan seribu kepala yang kaku di ujung nestapa Kami bertanya :    "Dimanakah telinga yang mau mendengar kami?"    "Dimanakah mata yang sudi melihat kami?"    "Dimanakah hati yang duli menampung jerit sukma kami?" Sayang. Alam lengang Lingkaran beku begitu terjal mengekang Dan... Aku. Mereka Dan seribu kepala yang pasrah Perlahan tenggelam tanpa cahaya... Sumber Gambar : Book of Life dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

In Memoriam

Rest in Peace Langkah sepi insani Satu, satu. Menapak di atas bumi Wajah tunduk merintih Mendaki hening di hati Mimpikah ini? Duka memberita Air mata tumpah Melesak ke angkasapura Hendak murtad, bukankah telah membeku itu jasad? Hendak mengiman, mengapa kita ditinggalkan tanpa ucapan? Keruh. Nada menjadi keruh Selaksa cita yang dirindu ,    selaksa damba yang dipacu       - punah! Hambar jejak duka cita. Belasungkawa Selamat jalan! Selamat tinggal, Kawan! Tersenyumlah ketika kau berhadapan di pangkuan Tuhan Katakan : Kucintai pertemuan ini denganMu Sembari kami titipkan pesan, bisikkan padaNya     Ijinkan kami bertemu dengan dirimu       -ketika waktunya tiba... Selamat jalan! Selamat tidur di keabadian Ku kenang kau dalam pujian Ku kenang kau     In memoriam .. Sumber Gambar : Menembus Waktu - Tanda-Tanda Kematian

Kudus

Cinta mengalir Bagai air Menjadi kisah dibaluti untai takdir Kasih mengukir Bak pesona seribu wukir Menyangga angkasa elok menyihir Kudus kisah asmara anak manusia Menyanjungkan dendang puja Seribu dewa, seribu dewi Seribu legenda tanah bestari Kini Berbatas mimpi Remuk oleh sandiwara televisi Kudusmu... nisbi Wahai, Cinta Kasih...

"Matahari" Ala Chrisye-Aning Katamsi : Hikmah di Balik Gejolak BBM

Kelam Berharap SEBELUM kita berbincang lebih jauh, simak dulu yuk lirik manis dari tembang yang melegenda ini? Ada banyak makna dan interpretasi (penafsiran) yang bisa kita tangkap dari tembang karya Om Eros Djarot dan Om Jockie S. ini. MATAHARI Oleh Chrisye-Aning Katamsi (BPB '99) Musim berlalu resah menanti Matahari pagi bersinar gelisah Kini... Semua bukan milikku Musim itu t'lah berlalu Matahari segera berganti... Dimana kau timbun daun yang layu? Makin gelisah aku menanti :    Matahari dalam rimba kabut pagi Sampai kapankah aku harus menanti? Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan Daun yang layu berguguran di pangkuan Kapan badai pasti berlalu? Resah aku menunggu Kapan badai pasti berlalu? Badai pasti berlalu Haaaaa... Haa haa haaaaa haa haa Haa haa haa haaa haa Haa haa haa haa haa haa haaaa Dimana kau timbun daun yang layu? Makin gelisah aku menanti Matahari dalam rimba kabut pagi Sampai kapankah aku harus menanti? Musim berlalu resah menanti Matahari pagi ...

19 Juni

(Suatu sore, seorang lelaki paruh baya terdiam pasrah dengan surat undangan merah jingga melekat di jari tangan kanannya. Tangan kirinya, sebatang pistol tua terkokang. Bibirnya gemetar. Nafasnya garang. Matanya, sarat luka ke angkasa menerawag) Air mata menyesak Luka mendadak Di tapal batas kota kita Ku jelmakan diriku menjadi pecundang Membiarkankan jasad mu hilang Layu. Ditiup angin senjakala itu Ada marah. Ada dendam menyerba! Kenapa ku diam saja? Jauh berbekas derap kakimu memapas :    Jarak. Waktu. Impian yang remuk lepas Semilir angin mengejekku Menampariku. Meludahiku Dan aku tak berdaya Bukankah ku pantas untuk itu? 19 Juni Di tepian celah dua kota ini Sama seperti lima tahun yang aku sesali Di jemari Sampul jingga tanda cinta menepi Selamat bahagia, Kasih... Selamat menjalani tualang cintamu yang kudus... ... dan tulus... (Dan sebingkai undangan itu terkulai di tanah. Senada dengan jasad lelaki putus asa itu, berlumur darah mengakhiri ...

Nasehat Chrisye Untuk Para Aktivis : Refleksi Lagu "Hilangnya Sebuah Pribadi"

Selentingan Sang Legenda CHRISYE (alm.) , sosok musisi legendaris yang meledak dan masuk ke kancah musik nasional dengan debut Badai Pasti Berlalu tahun 1977 dikenal sebagai sosok penyanyi solo pria yang anteng (Jawa : diam, tenang, tidak banyak tingkah). Publik mengenal beliau dengan lagu -lagu yang secara umum bernafaskan cinta. Dan, memang itulah yang terkenal dari beliau. Tapi, tahukah di antara Sahabat Manyar sekalian jika beliau juga "aktif" menembangkan lagu-lagu yang humanis dan ada kalanya mengusung tema kritik sosial? Tulisan kali ini akan membedah salah satu lagu Om Chrisye yang cukup kental nuansa kritik sosialnya. Dan yang lebih penting, cukup relevan dengan situasi kita saat ini. *** Di tahun 1984 (setidaknya demikian dalam folder album yang saya miliki), Om Chrisye bersama-sama dengan dua sosok musisi kawakan lainnya, yaitu Om Eros Djarot dan Om Jockie S., melahirkan sebuah karya musik baru yang menjadi album lagu kesekian Om Chrisye. Album t...