Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Humanisme

Sabung Nasib

Begitu burung bekisar berkicau, kaki kita seketika kacau Dapur sudah seperti medan tempur dan pelataran menjelma palagan berlumpur Simpang jalan. Ruas-ruas yang menjemukan Semua angkat senjata melawan episode kehidupan Semua dari kita memasang pagar berduri atau kawat besi atau terali baja yang kita curi dari ketakutan sendiri Agar tak ada kekalahan yang kita cumbui lagi Maka begitu burung bekisar itu meracau, tangan kita serentak merisau Gelas dan cangkir sudah terpinggir dan puisi sudah kembali tersingkir Barangkali nanti malam nasib mereka mampir Entah sebagai repihan kesal atau bantal pelipur sesal Cilegon, 06 September 2020

Percaya

Lavela di depan rumah runduk tanpa daya Daunnya layu Bunga ungunya sendu dan luruh Tubuhnya kuyu; batinnya rapuh Tanah pindahan dari pot penyemaian meracik trauma beratus musiman Orang-orang berkata,  'Potonglah saja dan tanamlah bunga segar apapun yang kau suka' Aku tak bisa berkata-kata selain melihat mereka mengitar menyembah lavela yang kembali menguduskan jiwa dengan hijau ungu daun dan bunganya     pagi ini...

Simpang Tiga Kalibata

Aku dengar dengusmu di antara batu-batu pinggiran jalanmu Di pikuk kikuk laku sekelilingmu,  merayap cerita darimu, bahkan dari sela-sela kuku kakimu yang bisu dan lesu, menyapa pagi yang selalu mengganggu  semu malammu Pekuburan itu seperti mengamatimu; mengambil tempat di sela detik ajalmu yang ditalqin pada senggang waktu Pagar-pagar makam itu menyatu dengan seribu satu pertanyaan kelabu : " Berapa tahun lagi jasadmu utuh? " Tak ada jawaban dari lampu merah di persimpanganmu situ Seorang bapak penjaja tisu mengelap peluh dengan belacu Kamu menyelinap di sendu kalbu Kamu mengendap di dasar isakmu Di balik telinga bapak penjaja tisu, yang bergegas lalu dikunyah waktu, kau cetuskan peluru dari gerammu ke dahi pejalan kaki yang terhalang polusi yang tak tertilang oleh jutaan polisi Di balik telinga si bapak penjaja tisu, yang mengabu di pemulasaran mimpi lalu, kau letupkan nuklir dari jengahmu ke lubang hidung pengemudi yang terpalang deviasi peta serba bisa dalam ponsel-ponse...

Candu Bahasa

Ragam kata kekang oleh makna Dibatasi norma dan kaidah Seperti belenggu paling hina bagi pujangga lara Diam-diam terjalin diksi menjadi syair elegi atau kisah mini ironi Kita menerka apakah mereka  lolos sensor dan suntingan editor Yang jelas kita tahu seratus ribu kepala terlanjur candu lalu menggila di jalan-jalan kotamu,  atau menyinting kantor bapakmu,  atau bahkan lantai dansa bikinan ibumu Yang kita sepenuhnya tahu kungkungnya melenakan batu yang berkitar di antara akalmu dan akalku Yang kita tahu : kita sebagian dari mereka itu

Cenayang

Orang bilang sebaik-baiknya cenayang adalah penulis puisi Sesajen larik lima kata atau menyan sekumpulan rima jadilah mereka juru hubung paling berdaya antara angan dan ingin kita dan antara keduanya dengan jati diri kita yang sibuk menjadi perantara dari kuasa yang menindas kita

Kirab Bangau Kertas

Sayap-sayap enggan lelap Kepak meniti jejak; menuruti tapak sepijak demi sepijak Matahari beranjak. Lihat : bangau-bangau kertas berarak Ada yang tertinggal di barak-barak Ada yang ditinggal di lapuk lapak Jika tidak duka, sudah pasti putus asa Sayap-sayap menuju lengkap Pada rembulan mereka menghadap Pada bintang mereka berharap : Kiranya pagi menyambut tanpa gagap?